Hindu-Indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya,
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 2002-2004, hindu-indonesia.com, Kontak: okanila@okanila.brinkster.net

 


Sekta dan Sampradaya dalam Agama Hindu

Oleh: Ngakan Putu Putra
Denominasi Hindu yang utama adalah Waisnavaisme, Sivaisme dan Saktaisme. Perbedaan terletak pada istadewata yang dipuja, derajat dari jalan untuk mencapai tujuan (pandangan masing-masing atas tiga yoga). Siva Siddhanta memberikan nilai yang sama jenis yoga. Vaisnava mengganggap karma dan jnana sebagai tangga untuk jalan bhakti. Sementara Smarta berpendapat moksha hanya dicapai melalui jnana yoga.

Di dalam masing-masing denominasi ini terdapat beberapa sampradaya. Misalnya dalam Waisnawa terdapat ramanujasampradaya, pengikut aliran filsafat Visisthaadvaita yang didirikan oleh Ramanuja, rahmasampradaya pengikut aliran filsafat Dvaita yang didirikan oleh Madva, Rudrasampradaya yang didirikan oleh Vallabha, Srisampradaya yang didirikan oleh Swami Ramananda yang menerima sadhu dari semua golongan dan wanita.

Sampradaya, adalah "doktrin tradisional tentang Pengetahuan." Sebuah aliran yang hidup dari tradisi atau theologi dalam agama Hindu, diteruskan secara latihan lisan dan upanayana (inisiasi). Istilah ini berasal dari kata kerja ‘samprada’, yang artinya "memberi, menghadiahi, menyerahkan, menganugrahkan; menurunkan melalui tradisi, mewariskan." Sampradaya karena itu adalah satu filosofi yang diturunkan melalui sejarah dengan penyampaian bahasa lisan. Istilah ini lebih inklusif (mencakup) dibandingkan dengan istilah sejenis yaitu ‘parampara’ yang berarti satu garis keturunan yang hidup dari para guru yang telah disucikan yang mengejawantahkan dan meneruskan suatu sampradaya. Masing-masing sampradaya sering direpresentasikan oleh banyak parampara.

Lalu apa ‘parampara’? Parampara atau sering disebut ‘guru parampara’ adalah "suksesi atau pergantian guru. Secara literal parampara berarti, ‘dari satu kepada yang lain’. Satu garis guru spiritual dalam inisiasi dan suksesi yang otentik; rantai kekuatan mistik dan penerusan yang sah; dari satu guru kepada guru yang lain. 1).

Dalam agama-agama India, setiap doktrin yang mapan dan satu perangkat praktek-praktek diteruskan dari satu guru kepada guru yang lain. Dalam Mahabarata (Anusasanaparva 141), empat sampradaya yang dianggap sebagai permulaan sampradaya dicatat sebagai cara peningkatan asketisme melalui mana tapa dilahirkan : kuticaka, tetap tinggal dalam dan didukung oleh keluarga mereka; bahudika tinggal dekat pemukiman dan menerima makanan hanya dari keluarga bramana; hamsa (angsa) mengembara dari satu tempat ke tempat lain, masih menikmati kesenangan secara minimum; paramahamsa, mengembara tanpa tempat tinggal, meninggalkan segala miliknya, termasuk mangkuk untuk meminta-minta bahkan pakaiannya." 2).

Dewasa ini banyak sekali kelompok-kelompok yang menyebut dirinya sebagai sampradaya, jumlahnya diperkirakan lebih dari 300 (tigaratus). Hampir setiap Swami yang populer mendirikan sampradaya baru. 3)

Majalah Hinduism Today, dalam edisi Oktober 1998 (laporan utamanya mengenai agama Hindu di Bali) mendaftar 30 kelompok organisasi yang tumbuh dari agama Hindu dan karena itu kental dengan nuansa Hindu. Berdasarkan pernyataan tujuan (statement of Purpose) dari masing-masing organisasi ini Hinduism Today membagi mereka dalam tiga (3) kelompok : (1) Hindu, yang dengan tegas menyatakan dirinya Hindu; (2) Non-Hindu, yang dengan tegas menyatakan dirinya bukan Hindu; dan (3) Quasi Hindu, (setengah atau semu Hindu) kelompok yang berada di antara keduanya, tidak tegas baik dalam mengaku Hindu maupun tidak, tidak pernah atau menghindari menggunakan kata Hindu.

Kelompok pertama ada 13 organisasi. Kelompok kedua ada 4 organisasi. Kelompok ketiga ada 13 organisasi. Kelompok terakhir ini dibedakan lagi menjadi dua bagian, yaitu berdasarkan atau bergerak di bidang ‘Yoga-Vedanta’ ada 5 organisasi, kelompok ‘pelayanan sosial dan/atau universalisme’ ada 8 organisasi.

Bila ada kelompok yang secara tegas menyatakan dirinya di luar Hindu, baik sebagai agama baru ataupun organisasi sosial religius yang tidak ada kaitannya dengan Hindu, maka yang menjadi sikap masyarakat Hindu adalah mengakui dan menghormati eksistensi mereka. Dalam agama Hindu, boleh dikatakan tidak dikenal istilah yang bernada pengutukan atau istilah yang bernada mengancam untuk menghancurkan pihak lain, seperti bida’ah atau sesat, terhadap sekte atau sampradaya lain. Mungkin ini terdengar aneh oleh orang non-Hindu. Tapi bagi orang Hindu ini adalah sikap lapang dada yang bersumber dari keuniversalan Hindu.

Vivekananda mengatakan agama universal harus memenuhi kecendrungan semua jenis manusia : manusia yang aktif, pekerja; manusia yang emosional, pencinta keindahan dan kelembutan; manusia yang menganilisis dirinya sendiri, penekun mistik; manusia yang mempertimbangkan semua hal dan menggunakan inteleknya, pemikir, sang filsuf. Untuk memenuhi kecendrungan semua jenis manusia ini, Hindu menyediakan empat jalan, yaitu Karma Yoga bagi yang aktif, Bhakti Yoga bagi sang pencinta, Raja Yoga bagi sang mistikus dan Jnana Yoga bagi sang filsuf. Sebagai konsekuensinya, perbedaan jalan yang ditempuh memunculkan cara ibadah – yang lebih tepat – sadhana atau praktek spiritual yang berbeda. Dan ini sangat dipahami oleh pemeluk Hindu. 4).

Karena lebih menekankan kepada sadhana atau praktek spiritual, Hindu tidak memiliki dogma, yang, bagi orang Hindu, hanyalah rangkaian kalimat sulit untuk membuat tampak benar apa yang tidak masuk akal. Maka agama Hindu tidak merasa perlu membentuk lembaga untuk memelihara, menjaga dan membela kemurnian dogma. Hindu adalah “a way of life” bukan “ a dictate of dogmas”. Inilah salah satu sebab Hindu terhindar dari perselisihan tentang dogma, yang sering kali disertai kekerasan.

Agama Hindu khususnya, dan agama-agama Timur umumnya, menganut sikap hidup berdampingan secara damai. Live and let live. Mereka yang tidak percaya kepada Veda hanya disebut kaum ‘nastika’, sama artinya dengan heterodox, yaitu mereka yang tidak percaya pada doktrin utama yang dianggap benar oleh mayoritas pemeluk agama bersangkutan. Istilah ‘nastika’ tidak mengandung arti yang bersifat penghinaan atau penghakiman terhadap pihak lain. Inilah yang menjadi sikap masyarakat Hindu terhadap agama Buddha, Jain dan Sikh. Agama-agama belakangan ini dianggap sebagai anak-anak dari agama Hindu, yang sudah mampu berdiri sendiri, terpisah dari Ibunya. Mereka sekarang menduduki tempat yang sederajat dengan agama Hindu, kawan seiring dalam perjalanan menuju Yang Suci.

Ketika ditanya, apa artinya beragama, Swami Vivekananda menjawab : “Be good! Do good!” Inilah hadiah agama Hindu untuk dunia.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Hindu

1). Hinduism Today, Himalayan Academy, Kauai, Hawai.
2). The Oxford Dictionary Of World Religions, edited by John Bowker, Oxford University Press, Oxford, 1997.
3). Klaus K.Klostermaier : A Survey of Hinduism, State University of New York Press, 1989, hal 330-339.
4). Hindu Agama Universal, oleh Swami Vivekananda, Media Hindu, Jakarta, 2005

Source : ICRP


Cetak