Hindu-Indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya,
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 2002-2004, hindu-indonesia.com, Kontak: okanila@okanila.brinkster.net

 


Pemahaman Spirit Agama

Tumbuhkan Kesantunan Berpikir, Berkata dan Berperilaku

Beragama sejatinya sangat berkaitan erat dengan disiplin atau praktik nilai moral. Karena itu, pemahaman teori agama saja kurang cukup, apabila tidak dibarengi dengan perilaku beragama. Kesejahteraan beragama akan diperoleh jika umat mampu mengejawantahkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Pun, peningkatan pemahaman agama hendaknya menjadikan umat lebih santun. Dalam rangka menjaga hubungan harmonis antara umat dan Sang Pencipta, berbagai jalan dilakukan. Salah satunya lewat simbol-simbol Tuhan beserta manifestasinya. Nah, ketika simbol itu digunakan orang lain, problem pun kerap muncul ke permukaan. Lalu, bagaimana upaya yang mesti dilakukan umat dalam menjadikan agama sebagai penuntun hidup? Bagaimana mestinya umat memaknai simbol agama dan mengamankannya sehingga tidak menimbulkan persoalan?

Rektor Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar Prof. Dr. IB Gunadha mengatakan agama sesungguhnya sebagai penuntun umat menjalani kehidupan sehari-hari. Ajaran atau nilai agama itu bisa didapatkan dari membaca sastra agama, mendengarkan orang-orang yang paham agama dan bercermin dari perilaku para tokoh agama. Dalam memahami nilai agama itu umat otomatis dapat mempelajari etika. Dalam hal ini bagaimana umat mewujudkan etika ketika berhubungan dengan Sang Pencipta dan manifestasinya, sebagai wujud bakti umat kepada-Nya.

Dalam melaksanakan wujud bakti itu, tulus ikhlas kuncinya. Rasa bakti itu bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, salah satunya lewat korban suci. Lewat pengorbanan suci yang tulus ikhlas itu, umat berharap Tuhan bisa hadir memberi kerahayuan -- bertemunya rasa bakti dan pasuecan Ida Batara.

Dalam aktivitas beragama, kata mantan Sekjen Parisada Pusat ini, umat umumnya menghadirkan Tuhan pada simbol-simbol kegamaan seperti banten dan atribut-atribut yang lain.

Namun, sesungguhnya simbol yang paling penting adalah penampilan diri umat dalam keseharian, sebagai ciri orang beragama. Sulit menilai seseorang beragama dilihat dari penampilan fisik semata. Keberagamaan seseorang bisa dilihat dari perilakunya sehari-hari. Dalam konteks kekinian -- ketika krisis kemanusiaan terjadi -- perilaku orang beragama dapat dilihat dari konsistensinya mengusung nilai-nilai kemanusiaan. Dalam hal ini umat tidak menyakiti orang lain, menginjak-injak harga diri seseorang, melanggar HAM dan lain sebagainya. Di antara semua aktivitas beragama, yang lebih penting adalah perilaku yang betul-betul mencerminkan orang beragama, ujarnya.

Jadi, kata IB Gunadha, seseorang dapat dikatakan beragama dalam arti sesungguhnya, manakala perilakunya mencerminkan nilai-nilai atau ajaran agama. Oleh karena prisip yadnya atau korban suci itu tulus ikhlas, sesungguhnya dalam melaksanakan hal itu tidak perlu ada sikap jor-joran. Apalagi, muncul arogansi dan merugikan orang lain. Aktivitas upacara seperti itu sesungguhnya kurang memiliki makna religius. Kesemarakan beragama sah-sah saja, tetapi mesti diimbangi dengan pemahaman makna dan lanjut mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam aktivitas beragama, umat Hindu kerap menggunakan simbol-simbol suci Tuhan yang diwujudkan dalam berbagai bentuk. Pratima misalnya, merupakan simbol kekuatan Ida Hyang Widhi yang disakralkan umat setelah melalui proses upacara pasupati. Dalam konteks ritual, wujud fisik seperti itu memang disakralkan.

Kata IB Gunadha, simbol-simbol agama seperti itu mesti ditempatkan pada fungsinya yang benar. Tetapi, jika ada orang lain menggunakan simbol agama tanpa bermaksud melecehkan, kenapa tidak? Apalagi simbol itu dijadikan spirit dalam bergerak laku. Namun, akan menjadi problem manakala pura sebagai tempat pemujaan Hindu -- lambang Padma Bhuwana -- misalnya, justru digunakan tempat berjudi. Ini justru dapat disebut pelecehan.

Disiplin

Hal yang sama dikatakan dosen Unhi Wayan Budi Utama. Beragama itu kata Budi sangat berkaitan dengan disiplin dan praktik. Artinya, agama itu mesti dapat membantu manusia mengatasi problem-problem kehidupan.

Oleh karena itu, agama mesti diperlakukan lebih antroposentris. Belakangan ini, Budi menilai orang beragama lebih cenderung teoposentris. Artinya, orang cenderung mempelajari teori-teori agama tanpa diikuti dengan praktik agama dalam kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan agama itu penting dipahami, tetapi pelaksanaan menata perilaku sehari-hari juga sama pentingnya. Karena itu, mesti ada keseimbangan antara teori dan praktik agama, ujarnya.

Kata Budi, pengetahuan agama seseorang tinggi, tanpa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari juga akan kurang bermakna. Karena itu, peningkatan pengetahuan agama harus mampu menjadikan umat lebih santun. Santun dalam berpikir, santun dalam berkata, dan santun dalam bertingkah laku. Kesantunan itulah cermin orang beragama dalam arti sesungguhnya.

Dalam masyarakat tradisional, umat sesungguhnya telah melakukan praktik agama secara membumi. Lewat gerak laku yang dianjurkan agama, mereka sejatinya sudah menjalankan ajaran agama dengan baik. Berbeda dengan fenomena yang terjadi belakangan. Seseorang sangat paham akan teori agama, tetapi dalam tataran aplikasi, terkadang perilakunya sering menyimpang.

Faktor penyebab terjadinya hal itu, kata Budi, salah satunya terlalu mengedepankan pola pikir serba ilmiah. Dengan demikian, kepekaan rasa, kurang terasah. Karena itu, penghalusan budi dan rasa mutlak dilakukan lewat pemahaman dan pengejawantahan spirit agama dan budaya.

Menyinggung soal wacana pelecehan simbol Hindu, Budi Utama menegaskan, selama ini umat seringkali terlalu memformalkan institusi keagamaan -- termasuk simbol-simbol agama. Sementara di sisi lain umat kurang melakukan introspeksi ke dalam. Contohnya, umat sering menggunakan nama-nama dewa untuk nama seseorang. Demikian pula nama-nama dewa sering dipakai untuk kepentingan usaha atau bisnis. Belakangan menjadi persoalan, ketika ada orang luar menggunakannya. Bahkan, terjadi kebakaran jenggot manakala ada umat lain memakainya.

Tak hanya nama-nama dewa digunakan sebagai nama seseorang ataupun usaha, arca-arca dewa pun kerap diperjualbelikan di artshop atau toko-toko seni. Jadi, menurut Budi Utama, sakral dan profan sebuah simbol berada pada pemikiran, bukan pada wujud fisikalnya. Karena itu, agar simbol agama itu betul-betul berada pada fungsinya, kita mesti konsekuen menjaganya. (lun)

Source : Balipost


Cetak