Oleh AA Oka Mahendra
Manusia adalah makhluk yang menyadari temporalitasnya. Artinya, manusia mampu mengenali masa yang lampau (atita), memahami masa sekarang (wartamana) dan memikirkan masa yang akan datang (nagata).
Lebih dari itu bagi manusia religius perjalanan waktu tidak sekadar dipandang sebagai perpindahan durasi waktu yang linier yaitu detik, menit, jam, hari, bulan, tahun dan seterusnya, tetapi sekaligus sebagai partisipasi ritual memulai kembali hidup dengan keutuhan energi vitalnya sebagaimana yang pernah terjadi pada awal penciptaannya. Karena itu, kata Mircea Eliade (Sakral dan Profan, 2001:78) manusia secara periodik mencari jalan untuk kembali ke waktu asal mula ketika realitas diciptakan.
Perayaan Tahun Baru Saka atau yang lebih dikenal dengan hari Raya Nyepi bagi umat Hindu di Indonesia telah membentuk kalender sakral tahunan. Pada perayaan tersebut waktu secara periodik dapat diperbaharui. Dalam setiap perayaan Nyepi yang jatuh pada tanggal 1 Sasih Kedasa (Kesepuluh) menurut kalender Isaka, umat Hindu memperbaharui kehidupannya dengan mereaktualisasikan nilai-nilai dharma yang menegakkan ciptaan sebagai dasar kehidupan yang benar.
Mengapa perayaan Nyepi dilakukan pada akhir Sasih Kesanga (Kesembilan) atau Caitra? Direktorat Jenderal Bimas Hindu dan Budha, Departemen Agama RI (Hari Raya/Rerahinan bagi Umat Hindu, 40-41) antara lain mengemukakan angka 9 mempunyai arti yang istimewa karena merupakan angka satuan yang bernilai paling tinggi. Dan angka sesudah 9 dimulai lagi dengan angka 1 dan angka 0 dan seterusnya.
Selain itu pada sasih Kesembilan atau Caitra, surya berkedudukan di tengah-tengah perjalanannya di atas khatulistiwa (Iswayana) dalam perjalanannya ke utara (Utarayana) yang dipandang sebagai peristiwa penting dan suci, sehingga banyak upacara keagamaan yang dilaksanakan sesudah sasih Kesanga.
Tahun ini Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1925 menurut kalender Masehi jatuh pada 2 April 2003. Perayaan Nyepi kali ini ditandai dengan keprihatinan dunia atas invansi militer Amerika Serikat dengan sekutunya ke Irak, Negeri 1001 Malam.
Irak kini berubah menjadi "negeri 1001 bom atau peluru kendali" yang ditembakkan oleh mesin-mesin perang Amerika Serikat yang canggih. Korban harta benda tak terbilang, begitu pula korban tewas dan luka-luka dari kalangan militer maupun sipil berjatuhan.
Tindakan kekerasan (himsa karma) yang dilakukan oleh suatu negara terhadap negara lain secara hukum maupun moral tidak dapat dibenarkan. Kekerasan militer meski menggunakan topeng perdamaian dan pembebasan tidak dapat menyembunyikan wajah aslinya yaitu nafsu untuk menguasai, angkara murka yang tak terkendali. Apabila nafsu untuk menguasai mendominasi state of mind seseorang atau sesuatu bangsa, maka tidak tersisa lagi ruang untuk kasih sayang, saling menghormati dan kedamaian.
Angkara murka menurut Swami Sivananda akan mengantarkan seseorang pada kehancuran. Swami mengemukakan, "From anger arises delusion, from delusion, loss of memory; from loss of memory, confusion of reason. With his reason confused, man is led to destruction".
Gerlapan Kilat
Nyepi yang dirayakan dengan serangkaian upacara dan pelaksanaan brata penyepian dimaksudkan untuk menyucikan diri dan alam lingkungan, untuk mawas diri, melakukan pengendalian diri, merenungkan jati diri yang sejati agar memperoleh pencerahan batin. Melalui tapa, brata, yoga dan samadi umat Hindu membuka diri bagi masuknya cahaya dharma yang akan menyingkirkan kabut kegelapan (avidga). Godaan hawa nafsu yang memabukkan dan angkara murka yang menghancurkan dapat disirnakan guna memperlebar jalan lurus menuju kedamaian abadi.
Hidup sebagai manusia, seperti dikemukakan dalam Sastra Suci Sarasamuscaya sangat utama, namun sangat pendek dan cepat tak ubahnya seperti gerlapan kilat, karena itu gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia untuk menunaikan dharma yang menyebabkan berakhirnya proses samsara.
Menunaikan dharma berarti mengupayakan secara sungguh-sungguh terciptanya kesejahteraan seluruh makhluk hidup (sarwani buthari) sehingga pada akhirnya kita sampai pada penghayatan dan kedamaian universal dan keselarasan alam (sarvam santih). Di dalam Atharva Weda XIX 9.2 terdapat seloka yang artinya sebagai berikut: "Semoga masa lalu, masa kini dan masa datang penuh kedamaian".
Kedamaian hanya bisa diwujudkan dengan jalan damai. Sejarah membuktikan bahwa tindakan kekerasan tidak pernah menghasilkan kedamaian sejati. Karena itu tindakan kekerasan terhadap siapa pun harus segera diakhiri demi terciptanya kedamaian. Umat Hindu yang telah berhasil melaksanakan catur brata telah menemukan jati dirinya dan siap mengarungi kehidupan di tahun yang baru sebagai pembawa obor kedamaian.
Marilah kita berdoa bersama untuk kedamaian dunia, kedamaian nasional dan kedamaian di hati kita masing-masing. Sebagai umat yang mencintai kedamaian, kita perkokoh komitmen kita untuk berpikir, berkata, dan berbuat untuk kedamaian. Gantikan kebencian dengan cinta kasih, berikan pengorbanan demi kesejahteraan bersama dan kembangkan sikap memaafkan yang akan mengantarkan kita dengan cepat menuju kedamaian batin dan ketenteraman hati.