SP/Charles Ulag
Umat Hindu bersembahyang di Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/3) pagi, menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1930 yang jatuh Jumat (7/3).
Oleh I Ketut Bantas
etiap tahun umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi, menyambut datangnya tahun baru Saka. Untuk tahun 2008, bilangan tahun baru Saka adalah 1930. Tahun Saka yang tumbuh di India masuk ke Indonesia bersamaan dengan datangnya agama Hindu di negeri ini, pada sekitar tahun 400 Masehi, yang ditandai dengan ber- dirinya kerajaan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur.
Eksistensi tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antara suku-suku bangsa yang mendiami India pada saat itu. Sebelum lahirnya tahun Saka, daerah itu selalu dilanda kerusuhan, karena suku-suku seperti Palawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa, dan lain-lain, berperang satu sama lain.
Pada saat suku Saka dapat menguasai suku-suku lainnya, terjadi suatu perubahan besar. Perjuangan bersenjata dihentikan, dialihkan menjadi perjuangan membangun kebudayaan dan kesejahteraan, dengan merangkul semua suku-suku bangsa dan mengambil puncak-puncak kebudayaan setiap suku menjadi kebudayaan negara.
Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari Dinasti Khusana, suku bangsa Yuehchi, mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Sejak itu semangat toleransi dan kerukunan antarsuku di India semakin tumbuh dan berkembang, bersatu membangun masyarakat sejahtera. Kerukunan menjadi salah satu kata kunci dalam membangun kesejahteraan.
Dalam merayakan tahun baru Saka, umat Hindu mempunyai pola tetap setiap tahun, yaitu Melis atau Melasti, Bhuta Yadnya, Nyepi, dan Ngembak Geni. Melis atau Melasti, dalam bentuk pemujaan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, dilaksanakan di pantai, di tepi danau atau sungai yang dianggap memiliki suasana kesucian. Laut adalah sumber air utama di semesta ini.
Panasnya sinar matahari menyebabkan air laut menguap, yang menimbulkan awan dan mendung, dan jatuh sebagai air hujan. Dari daerah pegunungan, air mengalir melalui sungai-sungai menuju ke laut. Air hujan meresap ke dalam tanah timbul kembali dalam bentuk danau atau mata air yang menjadi sumber per- sediaan air yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sastra-sastra suci, tujuan dari upacara Melis atau Melasti dijelaskan demikian, pertama, Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing Bhuwana. Artinya melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam.
Kedua, Amet sarining amerta kamandalu ring telenging segara. Artinya mengambil sari-sari air kehidupan dari tengah-tengah samudera.
Pesan moral yang disampaikan oleh upacara ini adalah hendaknya setiap orang dapat menata diri membangun kesadaran untuk tidak ikut memberi kontribusi timbulnya penyakit masyarakat, mengotori dan merusak lingkungan, termasuk laut. Sebab, laut merupakan sumber kehidupan sebagian umat manusia, kalau laut tercemar bukan saja dapat mengurangi bahkan melenyapkan semua potensinya.
Melestarikan Semesta
Bhuta Yadnya adalah upacara persembahan untuk kelestarian alam semesta. Kata bhuta mengandung pengertian semua yang lahir atau yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dalam keyakinan Hindu, alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Yang Maha Esa dari lima jenis unsur yang keluar dari dalam diri-Nya. Kelima unsur ini disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari Pertiwi artinya unsur tanah (zat padat), apah artinya air (zat cair), teja artinya unsur panas (sinar), bayu yang merupakan unsur udara, dan akasa unsur halus yang meresap dan menghidupkan unsur-unsur lainnya.
Dalam upacara Bhuta Yadnya, semua bentuk persembahan bermakna untuk melestarikan dan menyeimbangkan kelima unsur alam semesta tersebut. Karena diyakini apabila lima unsur alam itu tidak seimbang dapat menimbulkan bencana. Api dapat menimbulkan kebakaran hebat, air dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor, demikian pula angin dapat menimbulkan badai topan dan bencana lainnya.
Dalam pustaka Bhagawadgita Adhyaya III sloka 10, diuraikan bahwa pada jaman dahulu, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia bersama bakti persembahan-Nya, dan memerintahkan agar manusia berkembang biak dan menerima alam semesta sebagai kamadhuk.
Kamadhuk artinya yang dapat memenuhi segala kebutuhan hidup manusia, digambarkan dalam kiasan sebagai sapi perah. Maknanya manusia boleh mengelola alam semesta dan berkewajiban harus melestarikan alam itu kembali, seperti sapi perah, susunya boleh diperah sebanyak-banyaknya dengan kewajiban sapi harus dirawat dengan sebaik-baiknya.
Agama Hindu mengajarkan bahwa salah satu sifat manusia adalah loba, selalu ingin mendapatkan sebanyak-banyaknya. Cara untuk mengendalikan sifat loba ini adalah harus mau memberi.
Menahan Nafsu
Keesokan harinya, setelah melaksanakan Bhuta Yadnya, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. Pertama, amati geni, tidak menyalakan api sehari semalam. Maksudnya adalah umat Hindu harus melaksanakan upawasa yaitu berpuasa tidak makan dan tidak minum selama 24 jam. Makna utama dari puasa ini adalah mengendalikan indriya, mengendalikan nafsu-nafsu duniawi terutama keinginan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia seakan-akan hanyut dalam ke- inginannya. Dengan berpuasa keinginan-keinginan itu harus dikendalikan untuk kebaikan.
Kedua, amati karya, tidak melakukan pekerjaan yang rutin dalam kehidupan. Dalam hidup ini memang ada waktunya kapan harus bekerja dan kapan harus beristirahat. Ketiga, amati lelungan, tidak bepergian atau tinggal di tempat. Keempat, amati lelangunan, artinya tidak mencari hiburan, seperti menonton pertunjukkan kesenian dan lain-lainnya.
Makna utama dari pelaksanaan Catur Brata Penyepian ini adalah berlatih menutup diri, menarik semua kesibukan wawasan ke luar, dan membaliknya menjadi wawasan ke dalam, atau melihat ke dalam diri sendiri.
Toleransi
Rangkaian terakhir dari perayaan Nyepi adalah Ngembak Geni, yang artinya membuka atau menghidupkan api. Maksudnya adalah kembali melakukan pola kehidupan seperti biasanya. Ngembak geni ini diawali dengan melaksanakan Dharma Santi, yang bermaksud berbagi kedamaian dengan seluruh unsur kehidupan, dilaksanakan dengan mengucapkan selamat dan saling memaafkan. Acara Dharma Santi sering pula disebut acara simak krama, yang artinya menyelaraskan semua unsur masyarakat. Apabila semua unsur dalam masyarakat selaras, diyakini kedamaian pasti terwujud.
Setiap orang, utamanya yang merayakan Hari Raya Nyepi, tahun baru Saka ini sepantasnya menjadi kesem-patan untuk menyimak, memahami, dan mengamalkan makna dari rangkaian perayaan itu. Apabila dicermati, pada dasarnya adalah toleransi dan kerukunan antarsemua ciptaan Tuhan. Semoga semua makhluk berbahagia.
Penulis adalah Ketua Parisada Hindu Dharma DKI Jakarta