Umat Hindu menyiapkan keperluan sembahyang menjelang perayaan Hari Raya Nyepi di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (16/3). Umat Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi pada Senin (19/3) mendatang. [Pembaruan/Ruht Semiono]
Oleh I Ketut Bantas
ahun ini umat Hindu merayakan Tahun Baru Saka 1929 pada 19 Maret 2007. Hari Raya Nyepi merupakan hari raya keagamaan yang dirayakan umat Hindu Indonesia dari tahun ke tahun. Merupakan tradisi, perayaan hari raya selalu diapresiasi sesuai dengan kondisi nyata yang dihadapi pada saat itu, yang dalam bahasa agama Hindu disebut dengan istilah desa, kala, dan patra. Desa artinya tempat, kala artinya waktu, dan patra artinya keadaan. Demikian pula dengan perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini.
Kita merasakan betapa bangsa Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini didera berbagai krisis multidimensi. Belum tuntas teratasi, telah disusul berbagai bencana alam. Tsunami, gunung meletus, gempa bumi, banjir, tanah longsor, badai topan, datang beruntun, disusul kecelakaan transportasi darat, laut, dan udara. Merebaknya penyakit demam berdarah dan flu burung ikut menambah penderitaan.
Hampir setiap orang bertanya-tanya, mengapa hal itu terjadi. Apa gerangan dosa yang telah diperbuat sehingga mendapat penderitaan seberat itu? Penderitaan lahir batin dan kerugian materi hampir tidak ternilai lagi.
u
Dalam kondisi demikian prihatin, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi tahun baru saka, hari raya yang sarat makna. Adalah Raja Kaniska I yang berpenghayatan mendalam terhadap nilai-nilai kemanusiaan, toleransi kerukunan dan persaudaraan sejati antara sesama warga dari berbagai suku bangsa di Asia Selatan, dinobatkan menjadi raja pada Minggu, 21 Maret tahun 79.
Beliau mengubah perjuangan bangsanya. Permusuhan dihentikan. Perjuangan politik bersenjata penuh kekerasan diubah menjadi perjuangan di bidang kebudayaan. Kearifan yang bersumber pada Kitab Suci Veda diaktualisasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Tanggal penobatannya ditetapkan menjadi awal tahun Saka dan tahun Saka ditetapkan menjadi tahun nasional. Bersamaan dengan berkembangnya agama Hindu di Nusantara, kearifan budaya itu ikut tumbuh dan berkembang dari abad ke abad hingga sekarang. Konsep utama dari ajaran Veda untuk mengelola kesejahteraan hidup di dunia ini berawal dari konsep keluarga yang berkembang ke arah konsep komunitas, konsep kerajaan, atau negara dan pemerintahan, kemudian maju ke arah konsep bangsa dan persaudaraan universal.
Dalam Kitab Suci Atharvaveda XII.1.1, dinyatakan Tuhan menetapkan enam kewajiban suci yang menjadi dasar keyakinan bertindak untuk mewujudkan kesejahteraan dunia. Satyam, kebenaran hakiki dari Sang Pencipta. Rtam, hukum sucinya yang bersifat absolut. Diksa, penyucian diri sebagai pengakuan kepadaNya. Tapa, pengekangan dan pengendalian atas hawa nafsu. Brahma, kewajiban berdoa dan memujanya untuk menjernihkan pikiran. Yadnya, kewajiban berbakti dan bertindak untuk membangun kesejahteraan.
Untuk merealisasikan kewajiban suci tersebut umat Hindu mengatualisasikannya ke dalam kegiatan ritual dan spiritual yang mencakup dimensi Tri Hita Karana, dan diwujudkan ke dalam rangkaian kegiatan Hari Raya Nyepi. Tujuannya, terwujudnya harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam lingkungannya, dan hubungan manusia dengan sesamanya.
Sesungguhnya inilah yang dimohonkan ke hadapan Ida Sanghya Widhi Wasa dalam rangkain Hari Raya Nyepi ketika upacara Melasti atau Mekiyis, upacara Tawur Agung Kesanga, dan kegiatan dharma santhi dilaksanakan. Hubungan manusia dengan Tuhan dijalin dengan upaya mendekatkan diri kepadaNya, umumnya dalam bentuk persembahyangan atau pemujaan.
Dalam pustaka Bagawadgita Adhyaya VII sloka 16 dinyatakan ada empat macam orang memuja Tuhan. Pertama, Arto, adalah mereka yang menderita sakit atau sengsara. Kedua, Jijnasur, orang yang mengejar ilmu pengetahuan. Ketiga, Artharthi, ialah orang yang menghendaki kekayaan. Keempat, Jnani, yaitu orang-orang berilmu yang bijaksana.
Dari keempat jenis pemuja Tuhan itu yang paling mulia adalah yang berilmu dan bijaksana. Walaupun demikian semua itu masih tergolong baik karena setidak-tidaknya masih ingat memuja Tuhan.
Dalam Berhad Aranyaka Upanisad Bab V Brahmana Kedua tentang Tiga Kebajikan Pokok dijelaskan, salah satu sifat manusia adalah tamak atau serakah. Karena itu Prajapati yang menjadi Guru sejati para manusia mengajarkan manusia harus "memberi".
Mereka harus rela membagikan hartanya untuk mengendalikan diri dari ketamakan. Tidak hanya meminta atau maunya menerima saja terhadap sumber daya alam. Jangan hanya mengeksploitasi, tetapi juga mampu melesta- rikan. Demikianlah hendaknya hubungan dengan alam lingkungannya.
Dalam hubungan dengan sesamanya, hendaknya menyadari diri sebagai sahabat dari sesama manusia, baik dalam hubungan sesama agama, antarsuku, ras, antaragama. Tanpa memandang perbedaan asal-usul, maupun budaya, melainkan teman dari semua ciptaan Tuhan, karena berasal dari pencipta yang sama serta diisi dan digerakkan sumber hidup yang sama pula. Pandang memandang sebagai sahabat, sebagaimana ditegaskan dalam Yajurveda XXXVI.18.
*
Memang tidak mudah mencapai tujuan-tujuan itu karena keterbatasan manusia, keterbatasan untuk mengetahui, dan keterbatasan untuk berkarya. Akibatnya ia tidak mampu mencari pengetahuan sejati, yang pada gilirannya mengakibatkan mereka melakukan sesuatu yang tidak patut dilakukan dan akhirnya berakibat penderitaan bagi dirinya.
Pada saat pelaksanaan Hari Raya Nyepi umat Hindu berupaya mencari pengetahuan sejati itu dengan melaksanakan catur brata.
Amati Ghni, mematikan api kosmis untuk menghidupkan api spiritual yang ada dalam diri. Amati Karya, menghentikan kegiatan kerja dan mencari makna dan hakikat kerja yang sesungguhnya. Amati Lelungan, tidak mengikuti keinginan untuk bepergian. Amati Lelangunan, tidak bersuka ria agar menemukan kesadaran akan kenikmatan semu yang selama ini dinikmati.
Pada saat pelaksanaan catur brata itu pula dilakukan mulat sarira, perenungan mendalam, "mengaca diri", untuk membuka tabir kegelapan agar mendapat pengetahuan sejati dan kesadaran diri akan nilai-nilai kemanusiaan.
Setelah mendapatkan kesadaran diri akan pengetahuan sejati, manusia harus memulai hidup baru. Khususnya umat Hindu merefleksikan makna Hari Raya Nyepi meningkatkan srada dan bakti ke hadapan Tuhan yang Maha Esa, menjadi pemuja-pemuja yang jnani, berilmu dan berhati mulia.
Selanjutnya membangun harmonisasi hubungan dengan alam lingkungan, menjadi insan yang mampu memberi, tidak hanya mampu meminta dan menerima, tidak hanya menyedot sumber daya alam, tetapi mampu melestarikannya. Membangun dan mengembangkan harmonisasi hubungan dengan sesama manusia tanpa membeda-bedakan atas dasar persaudaraan sejati sesuai dengan filsafat Tat Tvam Asi.
Untuk memperbaiki kondisi kehidupan duniawi dari kemiskinan, malapetaka, dan penderitaan dalam arti seluas-luasnya, konsep yadnya hendaknya jangan lagi hanya dipahami sebatas upacara ritual atau korban suci di atas altar pemujaan, melainkan mencakup pula pencapaian dalam bidang sosial lainnya, berbagai unsur pemenuhan kebutuhan hidup.
*
Manusia adalah makhluk utama, makhluk yang mampu menolong dirinya sendiri dari kesengsaraan, dengan sarana subha karma, berbuat baik dan bekerja keras. Dengan cara demikian upaya pencapaian Jagadhita, kesejahteraan hidup di dunia ini, dan Moksaartham, kebahagiaan surgawi, semakin menjadi kenyataan.
Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929. Semoga semua memperoleh kebahagiaan. Semoga semua memperoleh kedamaian. Semoga semua melihat kebajikan. Semoga semua penderitaan meninggalkan kita.
Penulis adalah Ketua Parisada Hindu Dharma DKI Jakarta