Tri Mandala Pengertian kata Tri Mandala berasal dari kata Tri yang berarti tiga dan Mandala
berarti wilayah. Jadi Tri Mandala adalah 3(tiga) wilayah/daerah yang dimiliki oleh setiap
Pura dan antara mandala yang satu dengan mandala yang lain dibatasi oleh tembok atau pintu
masuk yang khas. Sebagaimana Pura pada umumnya, arela Pura Adhitya Jaya juga terdiri atas
Tri Mandala sbb:
1.
Nista mandala/Jaba Sisi
Nista Mandala ialah areal
Pura paling luar yang masih menjadi satu kesatuan dengan Pura. Mencari Nista Mandala Pura
Adhitya Jaya bisa masuk dari Jl. Daksinapati Raya atau dari Jalan Yos Soedarso (by Pass)
dengan melewati Candi Bentar
Pada Nista mandala ini ada
bangunan Pasraman tempat pembinaan umat, seperti Sekolah Minggu Agama Hindu (untuk SD
sampai SMU), dan juga untuk kuliah Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Jakarta. Selain itu
terdapat kantin untuk menikmati berbagai makanan khas Bali dan juga menjual buku-buku
agama Hindu, bangunan untuk pelaksanaan manusa yadnya berupa Bale Gede, Dapur dan Rumah
Tunggu. Di sudut barat laut dan di depan jalan keluar Pura bagian Timur terdapat Bedogol.
2.
Madya mandala/Jaba Tengah
Masuk ke Madya Mandala
dapat dari arah barat (pintu utama) atau timur dengan melalui Candi Bentar. Pada Madya
Mandala terdapat bangunan Perantenan serta Balai Wantilan yang berfungsi sebagai tempat
menyiapkan segala keperluan upakara dalam rangka upacara (Pujawali).
Wantilan juga berfungsi
sebagai tempat pertunjukan berbagai tarian baik tari sakral yang berkaitan dengan upacara
atau tari profan yang relevan dengan upacara Pujawali yang bersifat hiburan. Kadangkala di
Wantilan ini juga diselenggarakan Dharma Tula.
3.
Utama Mandala
Untuk masuk ke Utama
Mandala melewati Kori Agung dengan 3 pintu yaitu pintu utama dan 2 pintu lagi di kanan
kirinya. Pada Utama Mandala terdapat bangunan antara lain, Padmasana, Panglurah, Pelinggih
Taman Sari, Pelinggih Beji, Bale Papelik, Pemujaan/Pemiosan.
Jenis Bangunan dan Fungsinya.
1.
Candi Bentar
Merupakan pintu masuk, batas wilayah
antara jaba sisi/luar (Nista Mandala) dengan areal luar. Juga merupakan pintu masuk yang
menentukan batas wilayah antara jaba sisi (Nista Mandala) dengan jaba tengah (Madya
Mandala).
Ruangan/pintu candi bentar dibuat agak
lebar, dimaksudkan agar umat dapat lebih banyak mauk ke jaba tengah sekaligus. Juga
mengandung arti umat boleh dengan leluasa keluar masuk dari jaba sisi kejaba tengah atau
sebaliknya.
2.
Kori Agung
Merupakan pintu masuk dan batas wilayah
antara jaba tengah (Madya Mandala) dengan jeroan (Utama Mandala). Ruang/pintu tempat
masuknya sengaja dibuat kecil, hanya cukup untuk satu orang, diatasnya terdapat ukiran
berbentuk Kala (Boma), dijaga oleh 2 buah patung Dwara Pala. Hal ini mengenadung
pengertian bahwa untuk masuk ke Utama Mandala tidak setiap orang bebas dengan leluasa
melainkan hanya satu persatu, maksudnya agar mereka yang hendak masuk ke Utama Mandala
supaya benar-benar orang-orang yang sudah satau antara bayu (tenaganya), Sabha
(perkataanya), Idep (pikirannya), dan bulat tertuju hanya untuk memuja Tuhan.
Kala berarti waktu, maksudnya hanya
dalam keadaan dan waktu seseorang yang telah satu Bayu, Sabda dan Idepnya dapat masuk ke
Utama Mandala, misalnya tidak dalam keadaan cuntaka. Hanya dalam keadaan suci, bersih
lahir, bathin orang boleh masuk Utama ke Mandala.
Boma merupakan simbol hutan belantara
di lereng gunung dan puncak gunungnya adalah puncak Padmasana (Mandara Giri) sebagai
tempat stana Tuhan. Dalam lontar awig-awig Krama Desa dijelaskan bahwa orang yang telah
masuk ke Utama Mandala dilarang untuk berbicara, bercakap-cakap, lebihlebih mengucapkan
kata-kata kasar, dilarang bercanda dan dianjurkan hanyalah mengumandangkan lagu-lagu
keagamaan seperti kidung Wargasari atau mantram suci. kalau tidak bisa melagukan kidung
sebaiknya diam diiringi dengan peranayama. Jika masih ingin berbicara, bercakap-cakap,
berdiskusi sudah disiapkan tempat istirahat di Jaba Tengah atau Jaba Sisi untuk
berdharmatula.
3.
Padmasana
Sebuatan Padmasana berasal dari kata
Padma yang berarti bunga teratai, dan Asana berarti sikap dalam yoga atau sikap yang
terbaik dalam memuja. Teratai/Padma adalah salah satu simbul kesucian dalam agama Hindu,
karena teratai ini walaupun hidup dalam lumpur namun tak sedikitpun lumpur dapat menempel
pada bunganya. Dengan tidak adanya kotoran yang melekat ini merupakan simbul bahwa
kesucian itu akan bebas dari segala kemelekatan (noda).
Teratai berhelai mahkota bunga delapan buah (asta dala),
dijadikan simbul stana Asta Dewata (delapan manifestasi Prabhawa Hyang Widhi). Bunga Padma
(8 helai) dengan sarinya menunjukkan sembila arah yang dikaitkan dengan Dewata Nawa Sanga
dengan wijaksaranya Sang - Bang - Tang - Ang - Ing - Nang - Mang - Sing - Wang - Yang.
Atau disuarakan pula dengan Sa - Ba - Ta - A - I - Na - Ma - Si - Wa - Ya. Bangunan suci
ini disebut dengan Padmasana karena memang pada bagian atas (tempat duduk) bangunan
terdapat lambang Padma.
Bentuk Bangunan Padmasana
Sebagai dasar adalah bunga teratai (Padma), di atasnya
disangga oleh empas/ kurma (Bedawang Nala) kemudian dibelit/ dipegang oleh Naga
Anantabhoga dan Naga Basuki. Di atasnya, pepalihan dasar, madya dan puncak yang penuh
dengan ornamen seperti karang asti/ gajah, karang paksi/ goak, pai dan bermacam-macam
patra. Paling atas berbentuk kursi (tempat duduk) Asana dan pada bagian belakang bangunan
terdapat patung Garuda dan Angsa.