City Portal

Tattwa - Filsafat

Kembalilah Kepada Tuhan


Selasa, 31-Oct-2006 | HDNet

SETIAP orang tidak bisa menghindari suka lara pati, yaitu kebahagiaan, penderitaan dan kematian. Pada waktu menikmati kesukaan umumnya orang lupa kepada Tuhan, tetapi bila penderitaan menimpa ataupun kematian mendekatinya orang baru teringat kepada Tuhan. Sejak lahir manusia diperkenalkan dengan isi dunia, dan asik bermain-main dengan isi duniawi. Tidak pernah memikirkan apalagi berterima kasih kepada pemilik daripada benda-benda itu. Sudah sepatutnyalah berburu kesenangan duniawi itu dikurangi dengan mengalihkan pandangan kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini.

Kesenangan akan benda-benda duniawi tidak akan pernah dapat dipuaskan dengan memenuhi kesenangan itu sendiri. Seperti menyiram api dengan minyak, api akan berkobar semakin besar. Setitik kesenangan yang kita nikmati selalu terdapat bibit penderitaan didalamnya. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah terdapat didalam kekayaan yang berlimpah, ataupun pemuasan hawa nafsu yang tidak terbatas. Kesenangan yang hampa dan selalu diikuti oleh kedukaan adalah hasil dari perburuan terhadap benda-benda duniawi. Di masyarakat yang menilai segala sesuatu dari sudut benda dan memakai ukuran benda akan berkembang penyakit menular yaitu stress.

Bila anda menghadapi pekerjaan yang berat dan penuh bahaya, maka keragu-raguan dan ketakutan akan menghantui diri anda, karena itu untuk menghilangkan keraguan itu sebutlah nama Tuhan. Menurut ajaran agama Hindu, setiap apa pun yang akan anda lakukan sebelum memulai pekerjaan itu didahului dengan mengucapkan Om, sebagai simbol Nama Tuhan. Setiap memulai pekerjaan, pikiran dipusatkan sejenak kepada Tuhan dan menyebut nama-Nya untuk memohon restu-Nya, agar adanya kegairahan dalam bekerja dan mengundang keberhasilan.

Dengan demikian, maka kita akan takut untuk berbuat sesuatu yang menyimpang dan tidak direstui-Nya. Bila anda pernah berbuat suatu dosa yang selalu membayangi pikiran anda sehingga tidak bisa tidur dengan nyenyak, ketakutan memburu anda, maka serahkanlah diri kepada Tuhan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, maka penderitaan akan berkurang dan akhirnya akan memberikan ketenangan. Tidak ada istilah terlambat bagi kita untuk menjalankan kebenaran dalam mencari Tuhan.

Seperti halnya sang Ratnakara yang seorang pencuri dan perampok, namun dalam kariernya sebagai pencuri dia bertemu dengan seorang Maharsi yang sedang mengajarkan kitab-kitab Weda dan ayat-ayat Weda yang didengarnya menyentuh hatinya, hingga akhirnya ia bertobat dan bahkan sebagai perwujudan tobatnya itu dia menghukum dirinya dengan melakukan tapa yang sangat berat yaitu tanpa bergerak dan bergeser sedikit pun dari tempatnya bertapa sampai bertahun-tahun lamanya, hingga tubuh sampai ke lehernya ditutupi oleh gundukan rumah semut. Karena ketekunannya dalam tapa dan penyerahan diri kepada Tuhan dengan tulus sehingga memberikan kemukjizatan kepadanya, yang menyebabkan ia menjadi seorang suci yang penuh dengan cinta kasih, dan dikenal dengan nama Bhagawan Walmiki. Cerita ini menunjukan bahwa dengan kesungguhan dan kebulatan tekad maka seseorang itu dapat kembali pada kebenaran yaitu Tuhan.

Kesungguhan dan tekad sangat penting untuk mendapatkan pengampunan Tuhan. Demikianpula tekad yang kuat dapat mengalihkan kenekatan jahat menjadi kenekatan menyerahkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu janganlah larut di dalam penyesalan dan kedukaan, serahkan diri kepada Tuhan. Menyebut nama Tuhan dan menuliskan nama Tuhan besar sekali manfaatnya. Seperti halnya sang Hanuman dalam memimpin pasukan kera saat membuat jembatan Situbanda, ia senantiasa menuliskan nama Rama pada setiap batu dan selalu mengucapkan nama Rama. Walaupun pekerjaan itu luar biasa hebatnya, namun kegembiraan memuja Rama memberikan keberhasilan. Bagi Hanuman seluruh hidupnya diabdikan untuk Rama dan selama hidupnya ia tidak pernah melupakan wajah Rama. Dan setelah perang selesai, sang Hanuman diberikan sebuah kalung mutiara oleh Dewi Sita sebagai hadiah, setelah melihatnya sejenak lalu sang Hanuman menggigit dan membuang mutiara itu. Sehingga timbul keheranan dari Maharsi agastya dan bertanya kepada Hanuman mengapa ia melakukan hal itu. Lalu sang Hanuman mengatakan bahwa dalam setiap butiran mutiara itu tidak ditemukannya wajah Sri Rama dan apalah gunanya mutiara baginya yang hanya seekor kera.

Lalu Maharsi Agastya berkata “Hanuman jangan kamu merasa diri paling bhakti pada Sri Rama, apakah dalam hatimu sungguh-sungguh kamu memuja Sri Rama?” maka Hanuman pun merobek dadanya dengan kukunya yang tajam dan tampaklah dalam hatinya gambar Sri Rama dan Sita. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi heran dan akhirnya Sri Rama pun berkata “baiklah Hanuman hadiah yang kuberikan kepadamu adalah diri kami berdua, kami adalah milikmu selamanya, simpanlah kami selalu di dalam hatimu. Maka Hanuman pun menyembah dengan puas. Demikianlah Hanuman sebagai contoh dari orang yang selalu bhakti, ingat dan selalu berbuat demi untuk tuannya yaitu Sri Rama yang merupakan awatara Wisnu.

Ingat kepada Tuhan, selalu mengenang wajah-Nya dan menyebut nama-Nya berulang-ulang, akan mengusir kabut penderitaan, menghindarkan kita dari kesalahan dalam bertindak dan menjadikan hidup kita lebih bersemangat. Nasib sial yang menimpa diri kita, walaupun sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi nasib itu datang juga, seperti halnya kematian seorang anak atau kegagalan dalam usaha, maka janganlah menjadikan kita putus asa dan jangan pula penderitaan menjadi beban, karena semua penderitaan akan datang dan pergi seperti awan di langit. Oleh karena itu di dalam keadaan yang gawat, jangan biarkan pikiran menjadi panik, pujalah Tuhan, serahkan segala beban penderitaan hidup pada-Nya, sampaikanlah penderitaan itu dengan tulus dan jujur, mohon pengampunan padaNya, maka kita akan merasakan beban penderitaan itu makin berkurang. Kepercayaan kepada Tuhan penting sekali, karena kepercayaan kepada-Nya dapat meredam segala penderitaan. Jangan kuatir Tuhan akan berat memikul segala beban yang anda derita karena Tuhan bukan memikul beban anda saja, tetapi berat seluruh alam semesta ini adalah beban yang dipikul oleh Beliau. Betapapun tingginya tegangan listrik yang ditimbulkan oleh halilintar, begitu menyentuh bumi seketika tegangan itu menjadi tawar, demikian pula penderitaan yang anda rasakan betapapun perihnya, tetapi bila doa anda sampai pada Tuhan maka semua penderitaan anda itu akan tawar dengan sendirinya. Janganlah lupa akan kewajiban kita untuk senantiasa mendekatkan diri dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan kehidupan pada kita semua baik saat kita mendapatkan suatu keuntungan dan kebahagian maupun saat kita tertimpa masalah yang mengakibatkan kerugian dan penderitaan, karena pemecahan masalah yang paling utama adalah kembali kepada Tuhan.**