City Portal

Artikel

Menapak Jalan Ajaran Hindu


Selasa, 03-Jul-2007 | HDNet

Kiriman : Putra Semarapura
OM Svastyastu,
http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2003/12/3/op1.htm

Di abad ke-20 justru lahir pasraman modern, lokasinya bukan di hutan melainkan di kota. Di ujung Sunset Boulevard, menghadap ke Lautan Pasifik di kota Los Angeles, Yogananda Paramahansa mendirikan ashrama yang cantik dan menyejukkan. Di pantai barat Amerika banyak berdiri perguruan spiritual yang antara lain meneruskan ajaran Vivekananda, Krishnamurti, Osho, Shri Aurobindo, Maharsi Mahesyogi, dan lain-lain. Di Bali, di manakah kita bisa menemukan pasraman seperti itu? Inilah masalah kita bersama.
--------------------------------------

Oleh Utami Pidada

DALAM sebuah diskusi informal, seorang Bapak yang kira-kira berusia menjelang enam puluh tahun, bertanya (tentang wanaprasta): Mengapa di usia senja mesti bersusah payah masuk hutan. Lagi, di mana masih ada hutan perawan di Indonesia? Wanaprasta adalah etape berikutnya sesudah tahap Grhasta dalam pedoman perjalanan hidup seorang penganut Hindu. Sejak ribuan tahun lalu, satu siklus kehidupan di bumi diatur dalam periodisasi sebagai berikut: Brahmacaria (masa lajang masa belajar), Grhasta (masa kehidupan berkeluarga, berprofesi dan mencari nafkah), Wanaprasta (perjalanan kembali ke hutan untuk belajar lagi di pasraman), dan Sanyasin (tahap menempuh hidup tanpa keterikatan, melepas segalanya).

-----------------------------------

Dalam dua tahap pertama, Brahmacaria dan Grhasta, prinsip dan pedoman hidup menurut ajaran Hindu, langsung dipraktikkan. Jadi periode itu adalah masa praktikum dalam kehidupan duniawi. Penganut Hindu dikondisikan untuk sebanyak mungkin melakukan internalisasi nilai-nilai moral. Sehingga, perilaku setiap umat Hindu, berperikemanusiaan, berbudi pekerti halus dalam memenuhi kebutuhan survivalnya. Tidak pernah ada larangan untuk mencari pemenuhan kebutuhan materi yang bersifat duniawi. Namun, ajaran Hindu selalu mengingatkan bahwa yang bersifat materi atau duniawi, juga bersifat maya dan tidak abadi alias temporer.

Setelah selesai masa kehidupan berkeluarga, ketika semua anak-anak sudah mampu mengurus dirinya sendiri maka datanglah periode berikutnya yang disebut Wanaprasta. Secara harfiah artinya perjalanan masuk hutan. Ribuan tahun yang lalu, memang benar demikian adanya. Pelaku Wanaprasta menempuh perjalanan masuk hutan, karena pasraman, perguruan spiritual atau di India juga disebut gurukul, adanya di hutan, jauh dari desa dan kota. Mereka yang siap menempuh Wanaprasta berarti masuk kembali ke proses belajar dengan tinggal di dalam komunitas asrama.

Apa lagi yang harus dipelajari setelah usia dewasa? Kalau dalam usia lajang dan kehidupan berkeluarga setiap penganut agama Hindu sudah melakukan internalisasi nilai-nilai, maka pada tahap pendidikan Wanaprasta, saatnya untuk menyimak penjelasan di baik nilai-nilai tersebut. Seperti contoh berikut: mengapa orang Hindu dianjurkan untuk melaksanakan vegetarian, mengapa sebaiknya sapi tidak sembelih untuk dimakan, mengapa setiap bulan purnama diselenggarakan Yoga Purnima atau bentuk pemujaan lain, dan seterusnya.

Kinilah saatnya mengupas tuntas, mengapa agama Hindu masuk kategori spiritual heavy, bobotnya lebih berat kepada aspek spiritual daripada aspek lainnya. Filsafat hidup dibahas tuntas. Berbagai pertanyaan dimunculkan: Apa yang terjadi setelah kematian, mengapa manusia dianjurkan untuk mencapai pembebasan (mokhsa). Kalau sudah bebas apa yang terjadi? Bebas dari apa? Apa yang dimaksud dengan kesadaran? Mengapa ajaran Hindu tumbuh dan berkembang, tidak mandek? Mengapa ajaran Hindu punya lebih dari satu Nabi dan agama lain punya satu kitab suci, sedangkan Hindu punya lebih dari satu. Banyak lagi pertanyaan yang tidak kalah aktualnya dengan masalah kemanusiaan dan semesta masa kini. Yang penting semua jawabannya tersedia dalam khazanah kekayaan Hindu yang membentang dari sejak zaman Veda sampai masa kini di zaman Advaita Vedanta. Tidak ada lagi jawaban: Nak keto kone (konon begitu katanya).

Berbeda dari Sains dan Teknologi

Pasraman atau gurukul bukan sekolah formal, di mana pengetahuan ditimba lewat membaca buku. Dari avidya menjadi vidya diperoleh melalui proses empiris. Inilah yang membedakannya dari sains dan teknologi. Itu pula sebab universitas hutan itu tidak mempunyai waktu belajar yang tetap. Tidak ada Departemen Pendidikan Spiritual dalam Kabinet Surgawi yang menentukan aturan formal tentang proses yang harus ditempuh, baik yang menyangkut kurikulum, tempo belajar, wisuda, ijazah, dan sebagainya. Yang menjadi tolok ukur adalah niat sang sisya, komitmennya, keseriusannya dalam belajar dan tentunya peranan sang guru sangatlah menentukan. Hanya guru yang mengetahui murid mana yang siap mental dan mana yang disimpan di ruang tunggu. Setiap guru mempunyai pola sendiri. Bahkan Vivekananda bisa mempunyai cara dan pendekatan yang berbeda dengan Ramakrishna Paramahansa, walaupun Ramakrishna adalah gurunya.

Apa yang ingin dicapai di Universitas rimba ini? Pertama, membangun kesadaran, bahwa spesies manusia bukan hewan, bukan juga lautan pikiran. Di dalam diri manusia ada jiwa, maka yang hendak dituju adalah Jivan Mukti, terjemahan bebasnya adalah self realization, mengaktualisasikan diri sebagai jiwa, bukan sebagai badan. Mencapai self realization bisa memakan waktu yang panjang. Namun sebelum tercapai, meditasi dan pelatihan yang memadai bisa membuat seseorang menjadi bijak dan hatinya terisi oleh cinta kasih.

Andaikan cukup banyak ada orang bijak yang hatinya terisi oleh cinta kasih membaur di masyarakat, tentu tidak akan terjadi kekerasan yang mematikan, dan berdarah-darah antara pendukung partai Golkar dan PDIP, seperti peristiwa Tabanan dan Buleleng. Sama-sama kita ketahui bahwa kekerasan bisa didinginkan bahkan dicegah dengan kasih sayang.

Perjalanan Wanaprasta memang perjalanan pribadi, semakin banyak orang menempuhnya semakin terasa dampaknya bagi lingkungan, yaitu bertiupnya energi kasih di udara.

Di mana bisa menemukan pasraman seperti itu? Universitas hutan seperti itu tidak terdaftar dalam katalog perguruan tinggi. Wanaprasta adalah metafora; perumpamaan. Hutan itu jauh dari desa dan kota, Sisya dikonsinyir selagi masa belajar agar tidak tergoda stimuli duniawi. Pasraman tidak memiliki institusi formal, tetapi kaliber gurulah yang menentukan. Guru yang mengantarkan seorang sisya mencapai Sanyasin bukanlah guru biasa. Dia seorang master spiritual yang telah tercerahkan. Hanya yang telah cerah yang dapat melakukan transmisi energi, kasih sayang, kesadaran, pengetahuan, dan seterusnya.

Sanyasin bukanlah status atau tingkatan atau hirarki, melainkan komitmen untuk menempuh jalan spiritual sampai akhir hayatnya, sambil menanti terjadinya pencerahan total. Saniyas berarti bebas dari keterikatan akan obyek materi, pikiran, bahkan indrianya sendiri. Seorang Samyasin tidak selamanya dikonsinyir dalam komunitas ashrama. Sesuai kebutuhan dia bisa membaur di masyarakat, dan dia sudah tahu menjaga dirinya agar tidak terseret kembali pada arus duniawi.

Di abad ke-20 justru lahir pasraman modern, lokasinya bukan di hutan melainkan di kota. Di ujung Sunset Boulevard, menghadap ke Lautan Pasifik di kota Los Angeles, Yogananda Paramahansa mendirikan ashrama yang cantik dan menyejukkan. Di pantai barat Amerika banyak berdiri perguruan spiritual yang antara lain meneruskan ajaran Vivekananda, Krishnamurti, Osho, Shri Aurobindo, Maharsi Mahesyogi, dan lain-lain.

Di Bali, di manakah kita bisa menemukan pasraman seperti itu? Inilah masalah kita bersama. Rasanya sudah lama sekali sejak orang-orang suci terakhir mencapai pencerahan di Bali, mereka mewariskan tempat-tempat suci, tempat menegakkan samadhi, yang kemudian kita jadikan tempat pemujaan seperti Pura Lempuyang di Karangasem, atau Pura Luhur, di Uluwatu. Tetapi tidak ada pasraman sebagai perguruan yang berkelanjutan sampai sekarang.

Sangat Mendesak

Kebutuhan akan adanya perguruan atau pasraman bagi umat Hindu untuk menempuh perjalanan Wanaprasta sampai Sanyasin sangat mendesak. Bila tidak terpenuhi, maka umat pada umumnya akan berakhir sampai kehidupan Grhasta. Dan, itu berarti berakhir di tataran kehidupan duniawi. Aspek spiritual tidak tersentuh. Jadi selama ini, sejujurnya apa yang dijadikan tujuan hidup umat: mencari kebahagiaan abadi atau mencapai kenikmatan temporer? Ini sebuah pertanyaan mendasar bagi kelangsungan sikap Hindu di Bali.

Kita menggugah organisasi Parisada untuk mempersiapkan kader-kader baru, kader spiritual, bukan kader organisasi, dengan mengirimnya ke pasraman terdekat. Atau masyarakat sendiri yang mengambil inisiatif, berangkat sendiri ke pasraman yang bisa dijangkau. Di India masih banyak pasraman yang punya program Wanaprasta sampai Sanyasin, dan dipimpin oleh living master (guru hidup, bukan almarhum). Semoga Bali dihidupkan kembali sebagai mandala energi kasih.

Penulis, pemerhati masalah agama, tinggal di Jakarta