City Portal

Wacana

Kitab Suci Weda, Peta Kehidupan Umat Hindu


Rabu, 07-Jan-2004 | Balipost

Kitab suci Weda merupakan peta kehidupan bagi umat Hindu, karena itu pengajaran Weda sudah seharusnya diberikan sejak dini. Dengan demikian, umat akan dapat berjalan sesuai dengan penunjuk Weda. Memahami dan mendalami kitab suci Weda berarti kita sudah menuju jalan Tuhan -- jalan kebenaran. Lalu, bagaimana strategi pensosialisasian kitab suci kepada generasi muda Hindu?

======================

Sebagai kitab suci, Weda sudah seharusnya dibaca oleh umat Hindu, terutama kalangan generasi muda. Terkait dengan itu pengamat agama Ir. Made Amir menyitir beberapa kitab suci. Misalnya dalam Bhagavata Purana disebutkan ... Kaumara yavonaman jara, dharma bhagavata iha... yang artinya hendaknya pencerahan atau pengajaran Weda diberikan sejak anak-anak (kaumara). Tetapi pengajaran Weda itu hendaknya disesuaikan proporsinya dari sumber yang dibenarkan (yang diotoritaskan). Yang tidak boleh diajarkan justru sumber yang tidak jelas.

Kitab suci menyebutkan, pengajaran Weda hendaknya sudah diberikan sejak masa anak-anak. Namun, pemberian ajaran itu perlu disesuaikan dengan kemampuan anak-anak, ujar Amir. Contohnya Prahlada dan Druva Maharaj mempelajari Weda mulai kecil. Bahkan, Prahlada Maharaj belajar Weda sejak masih dalam kandungan. Sementara Druva Maharaj mendalami ajaran Weda sejak umur lima tahun.

Amir mengatakan dalam beragama mesti proporsional antara ritual, tatwa dan susila. Jika sudah paham tentang tatwa, umat praktis akan melaksanakan ritual dan susila. Karena itu penting sekali pemahaman tatwa tersebut. Jika tatwa dipahami secara benar, ritual akan dilaksanakan secara benar pula, demikian pula etika dan moral, ujar dosen Unud itu. Jika pendalaman tatwa bisa ditumbuhkembangkan, kata Amir, Bali akan seperti roda pedati, yang sama kekuatan dan besar lingkarannya. Dengan roda pedati yang sama besarnya, tentu kereta dapat berjalan lurus, tidak timpang.

Karena itu, umat yang memiliki kecukupan materi hendaknya ikut menyebarkan tatwa kepada umat. Mereka mesti ikut terpanggil beryadnya dalam bentuk itu. Beryadnya dalam penyebaran tatwa besar sekali pahalanya.

Dalam Bhagavadgita ayat 18 sloka 68 disebutkan: ...mereka yang mengajarkan ilmu pengetahuan rahasia yang suci ini kepada umat, terjamin pada akhirnya akan datang kepada-Ku.... Sloka 69 ayat 18 Bhagavadgita menyebutkan ... Tidak ada bhakta yang lebih Ku-cintai dari mereka itu....

Itu berarti, tegas Amir, pencerahan umat lewat pengajaran tatwa merupakan yadnya yang sangat besar.
Di samping itu, peran orangtua dalam pengajaran tatwa sangat penting. Orangtua mesti bekerja keras untuk membentuk anak-anak menjadi orang yang suputra -- yang paham akan dharma. Sebab, salah satu dharma orangtua adalah membesarkan anak-anak dalam kesadaran akan ajaran dharma. Itu berarti orangtua belum dapat disebut sempurna manakala tidak memberikan ajaran dharma kepada anak-anaknya. Anak-anak adalah titipan Tuhan. Karena itu, orangtua diberikan mandat untuk membesarkan anak-anak sebagai bakta-Nya. Kalau ini sudah berjalan, pendidikan budi pakerti akan otomatis meresap pada diri generasi muda. Terkait dengan itu menjadi kewajiban bagi orangtua untuk menyiapkan literatur (kitab suci) kepada anak-anak. Kitab suci itu merupakan peta kehidupan. Jika peta itu tak dipelajari, bagaimana bisa berjalan dengan baik.

Untuk memancing generasi muda tertarik untuk membaca kitab suci, buku itu mesti disajikan dengan format yang menarik. Di samping itu, perbanyak dharma wacana, dharma tula dan dharma santhi. Biasakan budaya mendengar dan menyampaikan kidung-kidung suci, ajaran suci dan lain-lain. Lama-lama akan terbentuk atmosfir dan penghayatan dalam hati. Selanjutnya otomatis akan ditindaklanjuti dalam tataran pelaksanaan.

Di sekolah, guru agama dan guru bimbingan dan penyuluhan (BP) memiliki peran vital dalam hal ini. Dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada anak-anak, guru BP sedapat mungkin lebih intensif memberi hal itu berdasarkan tatwa agama. Dalam kegiatan ekstrakurikuler, lebih bagus disisipkan hal-hal yang bernuansa keagamaan.

Dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Drs. Wayan Budi Utama mengatakan generasi muda Hindu sudah semestinya paham akan kitab suci agama yang dimiliki. Kesadaran generasi muda Hindu untuk membaca kitab suci sudah mulai bangkit. Kebangkitan itu mesti disambut dengan pengadaan buku-buku agama. Persoalannya, sering kesandung pada masalah pendanaan. Karena itu, umat yang memiliki dana lebih sudah seharusnya terpanggil untuk meyadnya dalam bidang ini.

Yadnya Mulia

Ketua STAHN Denpasar Drs. Gde Rudia Adiputra mengatakan desa pakraman yang merupakan tiang pancang dalam hal ini. Desa adat bisa memberikan pemahaman kepada krama bahwa yadnya dalam bidang pendidikan merupakan sesuatu yang mulia. Tak hanya yadnya ritual, yadnya pengadaan buku-buku -- dalam hal ini kitab suci -- merupakan yadnya yang tinggi. Buku merupakan linggih-Nya -- yakni Sang Hyang Haji Saraswati. Karena itu, perlu ada keseimbangan yadnya ritual dan yadnya pendidikan.

Pemerhati adat dan agama AAG Bagus Netra mengatakan sesungguhnya praktik ajaran Weda sudah dilakoni oleh umat Hindu di Bali. Ajaran itu sudah meresap dalam tatanan adat, sehingga etika dan moral menjadi sesuatu hal yang dijunjung tinggi. Bagaimana orang melakukan sesana, bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama, sesungguhnya sudah dilakoni oleh umat. Namun, ke depan perlu diimbangi dengan tatwa. Kebanyakan umat Hindu di Bali melakoni pada tingkatan action (praktik ajaran agama), kendati tak hafal betul ayat-ayat suci, ujar Kepala Museum Perjuangan Rakyat Bali ini.

Tetapi, Netra yang mantan Kasubdis Adat dan Budaya Dinas Kebudayaan Bali ini mengatakan lebih baik praktik langsung ketimbang hafal ayat-ayat suci. Karena itu, berbicara ajeg agama Hindu, sebaiknya umat menek kancan belajar tatwa, sehingga ada keseimbangan antara teori dan praktik. (lun)