Pura Kerta Jaya Tangerang

Pura Kerta Jaya

PHDI Tangerang

KSHD Tangerang

Permudita

A r t i k e l

Warta Umat

H o m e

 

Pura Kerta Jaya

  10 September 2009  
 SAYANGILAH ISTRI ANDA, HINDARILAH KDRT  
 

Ajaran Hindu sangatlah banyak mengatur agar manusia menghormati wanita sebagai salah satu mahluk ciptaan Tuhan. Penghormatan terhadap wanita diyakini menjadi kewajiban bagi semua orang sehingga apa yang sering kita dengar dan lihat balakangan ini yaitu kekerasan yang dilakukan oleh para suami terhadap istrinya seharusnya dapat dihindarkan. Berita-berita di koran maupun media lainnya menyuguhkan berita tentang betapa masih banyaknya peristiwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di lingkungan masyarakat kita, apalagi dilakukan oleh mereka yang termasuk public figure yang seharusnya mampu dicontoh oleh masyarakat pada umumnya. Sebagai Umat Hindu marilah kita pahami beberapa ayat dari sekian banyak ayat suci yang mengatur perihal perlunya kita menghormati wanita agar kita dapat mencegah terjadinya KDRT.

Salah satu ayat yang sederhana, namun bermakna sangat tinggi dan luas dapat kita baca berikut ini :

Santosa trisu kartavyah Swadare bhojane dhane Trisu caiva na kartavyo Dyayane japa daanayoh (Canakya Nitisastra, VII, 4)

Artinya: Puaslah terhadap tiga hal, dengan istri sendiri, makanan yang ada dan kekayaan yang diperoleh. Sebaliknya janganlah pernah puas terhadap tiga hal yaitu mencari ilmu, berjapa dan berdana punya. Tekanan yang pertama pada ayat tersebut menempatkan bahwa wanita (dalam hal ini sebagai istri ) harus menjadi perhatian khusus bagi kaum lelaki khususnya karena ternyata wanita diberi kedudukan yang terhormat dalam ajaran kita. Khusus terhadap butir pertama yaitu puaslah hanya dengan istri sendiri , kita dapat pula menemukan kutipan sastra yang dapat mendukung hal tersebut. Posisi wanita ternyata sangat diagungkan menurut kitab suci Hindu. Hal ini dapat kita temukan dalam Manawa Dharma Sastra Bab IX, 101, 102 disebutkan bahwa; "Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya, hal ini harus diyakini sebagai hukum yang tertinggi bagi suami-istri". Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendak melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. Manava Dharmasastra III.45 :Hendaknya suami menggauli istrinya dalam waktu-waktu tertentu dan merasa selalu puas dengan istrinya seorang, ia juga boleh dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk mengadakan hubungan badan pada hari-hari yang baik. Tujuan setiap pasangan membentuk suatu rumah tangga adalah untuk menjalankan kewajiban Dharma, menciptakan keturunan yang Suputra dan bukan sekedar tempat berkumpul suami istri, makan dan minum bersama, tetapi justru untuk terbinanya ketenangan lahir bathin, hidup rukun dan damai, tenteram dan bahagia. "Keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula istri terhadap suaminya, di sana kebahagiaan pasti kekal abadi"(Manawa dharma Sastra III.60). Suami wajib menggauli istrinya dan mengusahakan agar antara mereka sama-sama menjamin kesucian peribadi dan keturunannya serta menjauhkan diri dari segala unsur yang mengakibatkan perceraian.

 lebih detil


  3 September 2009  
 Mengapa Belajar Agama, oleh Nyoman Widia  
 

MENGAPA MENDALAMI AJARAN HINDU? Oleh: I Nyoman Widia MH, Ak.

Om Suastiastu,

Sehabis menyantap hidangan makan malam di meja makan, seorang anak menanyakan sesuatu kepada ayahnya, seorang pengusaha sukses. “Ayah, apakah yang dimaksud dengan Catur Paramita? Terdiri dari apa saja dan apakah artinya masing-masing?” Sebelum pertanyaan berikutnya meluncur dari mulut anaknya, sang ayah buru-buru menjawab. “Nak, sebaiknya pertanyaan itu kamu tanyakan kepada guru agama di Pura. Mereka pasti lebih tahu daripada Ayah. Lagi pula, Ayah selama ini sibuk terus dengan urusan bisnis, sehingga tidak sempat mempelajari hal-hal seperti itu?”

Pada kesempatan lain, seorang pejabat penting di sebuah departemen yang kebetulan beragama Hindu diminta untuk memberikan Dharma Wacana dalam sebuah arisan keluarga. “Waduh, mohon maaf, saya belum bisa memberikan Dharma Wacana. Pemahaman agama saya masih kurang, belum seberapa dibandingkan dengan yang lain. Undang saja orang dari Departemen Agama, dari Parisada, ataupun Ida Pedanda sekalian supaya lebih mantap.”

Kedua fenomena di atas mungkin bisa menjadi gambaran yang mewakili sebagian umat Hindu yang hingga kini masih banyak yang tidak tertarik untuk mendalami ajaran Hindu. Jangankan mendalami, sekadar membaca-baca buku yang bernafaskan Hindu saja mungkin mereka tidak tertarik. Di mana sesungguhnya letak permasalahannya? Apakah ajaran Hindu memang tidak menarik? Ataukah cara penyajiannya yang kurang menarik? Jangan-jangan ada sesuatu yang menjadi penghambatnya.

 lebih detil


  19 May 2008  
 "Peranan Teknologi Komunikasi dan Informasi di Era 
 

Doktor AA. Ketut Diatmika, SE,MM Sebagai Narasumber, "Peranan Teknologi Komunikasi dan Informasi di Era Global dan Prakteknya" di dampingi Moderator Bapak Drs Gde Jaman Msi dalam Workshop yang diikuti Pejabat Fungsional Penyuluh Hindu dari 16 Propinsi yang diadakan di Hotel Sentral Jakarta dari Tanggal 12-15 Mei 2008. Salah satu hal yang telah menjadi komitmen dari para Penyuluh bahwa Keberadaan Teknologi Komunikasi dan Informasi sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tugas agar dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien, dimana seluruh Penyuluh telah memiliki Email address di yahoo.com sehingga komunikasi diantara Penyuluh dapat dilakukan melalui Internet. lebih detil


  11 March 2008  
 Donor Darah di Pura Adityajaya Rawa Mangun  
 

Bersama ini kami informasikan, bahwa sesuai hasil Rapat Panitia Dharma Shanti Nasional yang dilakukan ke marin Minggu 09 Maret 2008 di Pura Praba Candra, Jakarta Barat, telah disepakati bahwa pada saat Panitia Mendatangkan Pendonor Darah dari umat Hindu Sejabodetabek pada hari Kamis 20 Maret 2008  lebih detil


  23 January 2008  
 Serati Banten Se - Jabodetabek di P Kerthajaya 
 

Om Swastyastu

Pak Agung niki tiang kirim kegiatan Serati Banten se-JABODETABEK yang dilaksanakan di Pura Kertajaya Tangerang pada tanggal 12 Januari 2008.

Kegiatan ini rutin dilaksanakan per-tiga bulan secara bergilir untuk lebih saling mengenal atau mempererat tali persaudaraan diantara sesama Serati Banten, sekaligus wadah temu kangen tentunya.

Hal yang lebih penting dari kegiatan ini adalah menambah pengetahuan anggota Serati Banten tentang upakara, tingkatan upacara serta upakara yang diperlukan dalam setiap tingkatan tsb.

Mudah-mudahan dengan kegiatan ini Serati Banten Pura Kertajaya Tangerang mampu melayani umat yang ingin melaksanakan kegiatan upacara agama yaitu Panca Yadnya, dengan demikian tidak selalu tergantung dengan semeton Bali.

 lebih detil


  4 January 2008  
 Hari Raya Galungan dan Kuningan 
 

Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali, wuku yang kesebelas itu disebut wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi, sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama yaitu manis.

 lebih detil


[1][2][3][4][5][6]   


 


 Search for  
New Page 2
Candi Bentar
 
padmasana1
 
Pura Gunung Salak
 
Tari Topeng