|
|
| | Warta Umat
|
| | | Mengenal Ir Rataya Bayu Kentjanawaty Swisma | | | Menurut Ketua Umum WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) Pusat ini, perempuan memiliki potensi besar di negeri ini setidaknya dari segi jumlah. Jika dioptimalkan perannya perempuan bisa menjadi sumber kekuatan baru dalam mengatasi krisis bangsa. Perempuan yang akrab disapa Ny. Ken ini mengatakan, perempuan sebagai istri adalah pendamping suami.
Karena itu suami wajib melindungi istri dan anak-anaknya serta memperlakukan istri dengan wajar dan hormat. Saling memelihara kesucian hubungan dengan saling mempercayai harus selalu dilakukan sehingga terjamin kerukunan dan keharmonisan rumah tangga. Untuk itu ajaran agama harus dijadikan landasan utama.
Putri pasangan Brigjen TNI Drs. Rangga Bonjoran Bayupati, AKK (alm.) dan I Gusti Agung Puspawati ini mengatakan, dalam program kerjanya WHDI telah mencanangkan sosialisasi UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT.
Hal ini dimaksudkan agar kasus KDRT dapat diminimalkan bahkan dicegah, selain itu agar laki-laki maupun perempuan makin melek hukum. Dalam hal ini pamong desa pakraman dipandang sangat tepat jika berperan turut menyosialisasikan undang-undang ini.
Perempuan kelahiran Makassar 1952 ini berpandangan, agar keluarga terbina harmonis, pendidikan pranikah sangat diperlukan, guna memahami apa tujuan pernikahan, apa perannya setelah menjadi suami atau istri, dan bagaimana cara mendidik anak.
Peran ibu juga penting sebelum anaknya masuk pendidikan formal. Pada saat-saat itu perkembangan dan pertumbuhan anak menjadi tanggung jawab ibu.
“Karena itu seorang ibu harus mampu memberi pendidikan awal yang benar berupa pendidikan moral, pengembangan potensi dan kreativitas sehingga anak tumbuh dengan baik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Seorang ibu harus dapat membangun kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual anak-anaknya sehingga siap mandiri dan berempati pada lingkungan,” tutur pengurus Perip (Persatuan Istri Purnawirawan TNI dan Polri) Pusat ini.
Ia menegaskan, perilaku seorang ibu sangat tergantung pendidikan dan pengalamannya. Seyogianya seorang ibu tidak mengenal istilah ‘berhenti belajar’. Menjadi ibu yang pintar tidak harus mendapatkan pengetahuan dari bangku sekolah. Cara yang juga efektif, mengembangkan wawasan dengan banyak membaca dan mengikuti berbagai pelatihan keterampilan,
Dalam kehidupan bersosialisasi di masyarakat, kata Sarjana Teknik Elektro Universitas Tri Sakti lulusan tahun 1980 ini, perempuan juga perlu belajar dan memiliki jiwa kepemimpinan. Ini, minimal untuk dirinya dan keluarganya, tetapi juga bermanfaat saat terjun di masyarakat. Dengan demikian ia akan menjadi sosok teladan bagi anaknya.
Ia menilai wacana yang mengusulkan 30% pengurus partai politik terdiri atas perempuan merupakan langkah maju. Jika disetujui, ini tonggak kebangkitan bagi perjuangan kaum perempuan di bidang politik. Namun, Wakil Ketua Yayasan Citra Dewata Sentosa ini mengingatkan, emansipasi jangan disalahartikan.
“Perempuan boleh mengenyam pendidikan tinggi, berhasil menjadi wanita karier dan sibuk dalam kegiatan organisasi, tetapi tidak melupakan kewajiban sebagai istri, dan ibu bagi anak-anaknya,” pesan istri Mayjen (Purn.) Sang Nyoman Suwisma ini.
WHDI yang dipimpinnya sebagai anggota Kowani (Kongres Wanita Indonesia) sejak April 2007, memperdayakan perempuan Hindu dengan jalan memberikan berbagai keterampilan seperti lewat kursus salon kecantikan, menjahit, membuat banten, pesantian, dan membuat kue.
WHDI dan Depdiknas telah menandatangani MoU dengan cakupan tiga program kerja menjadi prioritasnya yakni life skill, buta aksara, dan PAUD. Juli 2007 WHDI melakukan sosialisasi ke Hongkong. Terdata 250 orang pekerja wanita Indonesia yang beragama Hindu. Mereka diberi penyuluhan untuk menjadi perempuan Hindu yang berharkat dan bermartabat.
Ny. Ken mengungkapkan, ia banyak belajar disiplin, tanggung jawab, dan bekerja keras, dari ibunya. “Ibu sangat disiplin. Dulu, dalam keseharian saya dan adik-adik mendapat tugas siapa yang mengepel, menyapu, dan merapikan tempat tidur.
Kami punya pembantu, tetapi tetap harus bekerja. Didikan Ibu secara tidak langsung mengajarkan saya hidup disiplin dan teratur,” ungkap pengurus Yayasan Kanker Payudara Jakarta, ini.
Ia melukiskan ibunya sosok perempuan yang pantang menyerah sampai kini. “Ibu berusaha membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kue. Kami ikut membantu menjalankannya. Akhirnya Ibu punya toko kue.
Kini Ayah sudah meninggal tetapi Ibu menolak bertempat tinggal bersama anak-anaknya. Ibu pun masih mengelola Toko Bu Bayu sampai sekarang di Cijantung, Jakarta,” ujar anak sulung dari lima bersaudara kandung ini.
Sebagai istri tentara, Ny. Ken paham betul suaminya tidak bisa selalu mendampinginya. Ia menyatakan harus pintar-pintar membagi waktu agar semua berjalan lancar. Hal itu berhasil dilakukannya dengan baik sampai ia sempat menduduki jabatan manajer pembangunan di tempatnya bekerja, Telkom.
Desember 1996, ia memilih pensiun dini untuk lebih banyak mencurahkan waktu mendidik ketiga anaknya, Sang Ngurah Wikrama Wirapatih, Sang Ngurah Wiranggana Adityapatih, dan Sang Ngurah Wiratama Satriapatih, serta giat di berbagai organisasi wanita dan sosial.
| | | | Source : Denpost/Ad
| |
|
|
|
|