|
|
| | Pura Kerta Jaya
|
| | | SAYANGILAH ISTRI ANDA, HINDARILAH KDRT | | | SAYANGILAH ISTRI ANDA, HINDARILAH KDRT.
Ajaran Hindu sangatlah banyak mengatur agar manusia menghormati wanita sebagai salah satu mahluk ciptaan Tuhan. Penghormatan terhadap wanita diyakini menjadi kewajiban bagi semua orang sehingga apa yang sering kita dengar dan lihat balakangan ini yaitu kekerasan yang dilakukan oleh para suami terhadap istrinya seharusnya dapat dihindarkan. Berita-berita di koran maupun media lainnya menyuguhkan berita tentang betapa masih banyaknya peristiwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di lingkungan masyarakat kita, apalagi dilakukan oleh mereka yang termasuk public figure yang seharusnya mampu dicontoh oleh masyarakat pada umumnya. Sebagai Umat Hindu marilah kita pahami beberapa ayat dari sekian banyak ayat suci yang mengatur perihal perlunya kita menghormati wanita agar kita dapat mencegah terjadinya KDRT. Salah satu ayat yang sederhana, namun bermakna sangat tinggi dan luas dapat kita baca berikut ini :
Santosa trisu kartavyah
Swadare bhojane dhane
Trisu caiva na kartavyo
Dyayane japa daanayoh
(Canakya Nitisastra, VII, 4)
Artinya:
Puaslah terhadap tiga hal, dengan istri sendiri, makanan yang ada dan kekayaan yang diperoleh. Sebaliknya janganlah pernah puas terhadap tiga hal yaitu mencari ilmu, berjapa dan berdana punya.
Tekanan yang pertama pada ayat tersebut menempatkan bahwa wanita (dalam hal ini sebagai istri ) harus menjadi perhatian khusus bagi kaum lelaki khususnya karena ternyata wanita diberi kedudukan yang terhormat dalam ajaran kita. Khusus terhadap butir pertama yaitu puaslah hanya dengan istri sendiri , kita dapat pula menemukan kutipan sastra yang dapat mendukung hal tersebut. Posisi wanita ternyata sangat diagungkan menurut kitab suci Hindu. Hal ini dapat kita temukan dalam Manawa Dharma Sastra Bab IX, 101, 102 disebutkan bahwa; "Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya, hal ini harus diyakini sebagai hukum yang tertinggi bagi suami-istri". Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendak melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. Manava Dharmasastra III.45 :Hendaknya suami menggauli istrinya dalam waktu-waktu tertentu dan merasa selalu puas dengan istrinya seorang, ia juga boleh dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk mengadakan hubungan badan pada hari-hari yang baik. Tujuan setiap pasangan membentuk suatu rumah tangga adalah untuk menjalankan kewajiban Dharma, menciptakan keturunan yang Suputra dan bukan sekedar tempat berkumpul suami istri, makan dan minum bersama, tetapi justru untuk terbinanya ketenangan lahir bathin, hidup rukun dan damai, tenteram dan bahagia. "Keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula istri terhadap suaminya, di sana kebahagiaan pasti kekal abadi"(Manawa dharma Sastra III.60). Suami wajib menggauli istrinya dan mengusahakan agar antara mereka sama-sama menjamin kesucian peribadi dan keturunannya serta menjauhkan diri dari segala unsur yang mengakibatkan perceraian.
Untuk mencapai ketenangan lahir batin, hidup tenang dan damai; masing-masing suami istri harus mampu memenuhi dan memperhatikan kebutuhan dan keinginan pasangannya. Keduanya harus dapat saling mengerti, harus berusaha untuk dapat memahami latar belakang hati masing-masing, sehingga tidak ada yang merasa tertekan, menderita dan tidak puas. Suami terlebih dahulu wajib menghormati istrinya dan demikian pula istri harus mampu membalas penghormatan itu dalam berbagai bentuk perilaku dan kewajiban istri yang baik menurut sastra agama. Salah satu ayat yang dapat dijadikan referensi utama dalam hal ini adalah Manawa Dharma Sastra Bab III, 56 dan Bab IX, 29 yang menyatakan bahwa dimana wanita dihormati, di sanalah Dewa-dewa (Tuhan Yang Maha Esa) akan bersemayam dan merasa senang, tetapi dimana mereka (wanita/istri) tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang diterima olehNya dan apapun yang dilakukan tidak akan mendapatkan pahala.
Dalam Canakya Niti Sastra bab I, sloka 6, disebutkan merupakan kewajiban bagi rumah tangga untuk menyimpan uang/kekayaan untuk persiapan menghadapi kesulitan, dan korbankanlah harta dan kekayaan tersebut demi menjaga dan melindungi (martabat) istri. Sloka ini menunjukkan bahwa posisi seorang istri sangatlah sentral dan patut dijaga dengan baik, meskipun harus mengorbankan harta benda dan bahkan nyawa suami. Dalam bab 7, sloka 1 disebutkan orang yang bijaksana hendaknya tidak mengatakan kepada orang lain tentang kelakuan istrinya yang jelek.
Meskipun dalam kitab suci Hindu tidak dinyatakan secara eksplisit larangan kekerasan terhadap perempuan, namun kutipan di atas dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga, khususnya kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istri sangat dilarang dalam kitab suci Agama Hindu. Hendaknya umat Hindu dapat menjaga istri dan menempatkan istri sebagai patner yang sejajar dalam menghadapi kehidupan ini. Maka dari itu sayangilah istri anda dan hindarilah KDRT dalam keluarga kita.
Sloka berikut ini bersumber dari Manawa Dharmasastra yang menunjukkan betapa pentingnya kita menghormati dan menyayangi istri sendiri agar tidak sampai terjadi peristiwa KDRT dalam keluarga kita, karena hal ini akan menyengsarakan semua pihak baik suami, istri, anak-anak yang tidak bersalah bahkan orang tua maupun mertua kita.
Sloka 55:
Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayah-ibu dan mertuanya, kakak –kakaknya, adik-adiknya, suami dan ipar-iparnya yang menghendaki kesejahteraan sendiri.
Sloka 56.
Dimana wanita dihormati disanalah para Dewa-dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang berpahala.
Sloka 57.
Dimana ada warga yang wanitanya hidup dalam kesepian, keluarga itu cepat akan hancur tetapi dimana wanita itu tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.
Sloka 58.
Rumah dimana wanitanya tidak dihormati sewajarnya, mengucapkan kata-kata kutukan; keluarga itu akan hancur seluruhnya seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib.
Sloka 59.
Oleh karena itu orang yang ingin sejahtera hendaknya selalu menghormati wanita pada hari-hari raya dengan memberikan perhiasan, pakaian dan makanan.
Dari sekian banyak sloka tersebut diatas jelaslah bahwa secara hukum agama kita diwajibkan untuk menghormati wanita mengingat kedudukan wanita begitu pentingnya. Bahkan didalam Vanaparva Mahabharata (VIII.29) terdapat dialog antara Yudhistira dengan Yaksa yang menanyakan apakah yang lebih berat dari pada bumi dan lebih tinggi dari langit. Yudhistira menjawab : Ibu lebih berat dari bumi dan ayah lebih tinggi dari langit. Penjelasan yang sama dapat kita jumpai dalam Sarasamuccaya 240. Mengapa ibu dilambangkan dengan bumi dan ayah dengan langit. Pengorbanan ibu demikian besar dan tulus sebagaiman halnya bumi yang dengan ikhlas mengorbankan dirinya untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan umat manusia tanpa mengharapkan balasan apapun. Demikian pula saat seorang ibu melahirkan anaknya maka nasibnya dapat diibaratkan tergantung pada sehelai rambut; kondisi yang sangat berbahaya dan bila terjadi kesalahan sedikit saja, maka bisa jadi ibu atau bayi atau bahkan keduanya dapat menjadi korban. Penderitaan ibu saat melahirkan adalah tiada taranya. Seorang anak mungkin bisa melupakan kasih ibunya, tetapi seorang ibu tidak akan pernah tidak mencintai anaknya .
"Demikianlah Ibu, dalam kasih sayang kepada anaknya sama rata, sebab baik anaknya mampu atau tidak mampu, yang baik budi pekertinya atau yang tidak baik, yang miskin atau kaya, anak-anaknya itu semua dicintai dan dijaganya, diasuhnya dan mereka itu, tidak ada yang melebihi kecintaan ibu dalam mencintai dan mengasuh anak-anaknya (Sarasamuccaya 245).
Kewajiban kita untuk menyayangi istri bukanlah karena istri atau wanita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai mahluk yang lemah sehingga butuh perlindungan dan kasih sayang. Justru wanita memang dianugerahkan sifat lemah lembut bukan sifat lemah; bahkan sangat dipercaya justru wanita lahir sebagai mahluk kuat daya tahan tubuhnya dibandingkan kaum laki-laki. Hal itu dibuktikan dengan kemampuan wanita untuk menanggung beban yang amat sangat berat ketika melahirkan anak-anaknya berkali- kali; suatu cobaan yang sulit dicari bandingannya dengan cobaan berat yang dihadapi oleh kaum laki-laki pada umumnya. Selain itu tuntutan menjadi wanita demikian beratnya, hal ini ditandai dengan banyaknya hal-hal yang patut dan wajib dilakukan oleh setiap wanita sehingga sejak jaman dahulu Wanita Hindu hampir dibelenggu oleh sederetan norma-norma yang lebih ketat sehingga membedakan perilakunya di masyarakat dengan kaum lelaki ; hal ini semata-mata agar wanita dapat terjaga kehormatannya sebagai wanita yang utuh. Setelah era emansipasi wanita barulah wanita memperoleh kebebasan dalam persamaan hak dengan kaum laki-laki sehingga wanita saat ini sudah lazim memakai celana panjang, menyetir mobil, pergi ke mana-mana sendirian, berbicara bebas, berhak menjadi apa saja sebagaimana yang boleh dialkukan oleh laki-laki, dll. Itu semua sebagai dampak pengaruh budaya barat atau budaya dari "luar" Hindu.
Perlu juga diingatkan kepada kaum wanita bahwasanya walaupun ajaran –ajaran suci kita mewajibkan kita untuk menyayangi dan menghormati wanita, tetapi aturan tersebut tentu saja tidak mudah diterapkan dalam praktek. Hal ini disebabkan karena sebagai manusia baik laki-laki maupun perempuan akan terbawa oleh sifat dan perilakunya masing-masing yang sangat dipengaruhi oleh berbagai hal sehingga dapat menjauhkannya dari sifat-sifat mulia yang dikehendaki oleh Sang Pencipta ketika manusia tersebut dilahirkan. Interaksi manusia dengan alam sekitarnya akan membentuk sifat dan perilakunya yang sangat mungkin dapat berseberangan dengan apa yang tersurat dalam sloka-sloka tersebut diatas. Bagi kita sebagai manusia dewasa , maka tulisan ini bermaksud untuk dijadikan renungan baik bagi kaum laki-laki dan tanpa terkecuali kaum wanita untuk memahaminya dengan seksama sehingga kaum laki-laki dengan tingkat kesadaran yang tinggi dapat menghormati dan menyayangi wanita.
Demikian pula wanita yang menjadi obyek yang harus dihormati dan disayangi tentunya wajib mengkondisikan dirinya sedemikian rupa agar memang pantas untuk dihormati dan disayangi. Tanpa adanya usaha dan peran wanita yang sungguh-sungguh untuk berperilaku sesuai ajaran Hindu, maka sloka-sloka yang tersebut diatas menjadi tiada guna dan justru membuat kaum laki-laki seolah-olah memperoleh pembenaran untuk tidak menghormati dan menyayangi wanita dan bahkan melakukan KDRT; karena dia merasa bahwa tidak ada unsur yang mendukung dia harus menghormati dan menyayangi wanita karena wanita sendiri yang tidak dapat membuktikan dirinya sebagi wanita yang sesungguhnnya.
Demikianlah butir-butir yang penting yang harus kita pahami bersama agar kita dapat menciptakan suasana batin yang damai dan bahagia ditengah-tengah kehidupan keluarga kita dengan cara penuh keyakinan menghormati dan menyayangi istri kita untuk menjauhkan adanya KDRT. Baik laki-laki maupun wanita harus sadar dengan kedudukan dan perannya masing-masing yang mengacu kepada ajaran Dharma sehingga mampu mewujudkan sikap saling menghormati diantara keduanya demi terwujudnya kebahagian dan kedamaian dalam keluarga.
Bekasi, 9 September 2009.
KETUT SUNARTA.
Wakil Ketua PHDI Kota Bekasi.
Wakil Ketua Banjar Bekasi.
| | | | Source : webmaster
| |
|
|
|
|