|
Admin |
| | Laporan Utama
|
| | | Pengalaman Politik Hindu | | | Teks Veda menjelaskan konflik
militer antara kelompok
masyarakat yang menyebut dirinya Arya,
melawan Dasyu, juga disebut raksasa,
Dravidian, suku asli penghuni peradaban
kota lembah Indus. Veda mencatat
kemenangan yang diperoleh Arya atas
musuhnya. Sikap apakah yang harus
diambil terhadap kepercayaan dan praktek
agama dari orang-orang yang ditaklukkan?
Wangsa Arya mengambil sikap murah
hati dan pengampunan religius dalam
kemenangan politik. Terjadi integrasi
secara perlahan terhadap kepercayaan dan
praktek agama dari penakluk dan yang
ditaklukan, sehingga akhirnya keduanya
tidak dapat dibedakan.
Asimilasi dalam teologi diikuti dengan
pembedaan fungsi. Dalam sejarah awal
agama Hindu peranan pendeta dan raja
sangat jelas dibedakan. Ini harus dianggap
sebagai perkembangan yang sangat
penting, bila kita melihat perbedaan peran
seperti itu bukanlah sifat agama Mesir
kuno dan Mesopotamia dan agama agama
Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam).
Pemisahan peran antara pendeta dan raja,
merupakan versi awal dari pemisahan
‘gereja’(agama) dengan negara, pilar
utama demokrasi.
Sikap murah hati ini juga diteruskan
ol eh Buddha . Makluma t Asoka
menyatakan “Raja, menghargai setiap
bentuk kepercayaan agama, tidak
memberi keistimewaan terhadap satu.
Siapapun bertindak berlainan berarti
melukai agamanya sendiri, sedang ia
sendiri berbuat kesalahan terhadap orang
lain.”…Semua kitab suci (susastra) dari
semua bentuk agama akan berada di
bawah perlindungan saya.” (The Tweleft
Rock Edict).
Penguasa Hindu dan Buddha di India
bertindak menggunakan azas ini. Dan
sebagai akibatnya mereka yang dihukum
karena alasan agama dan pelarian dari
berbagai agama di negara lain menemukan
perlindungan di India. Yahudi, Kristen
dan Parsi diberikan kebebasan mutlak
untuk mengembangkan kepercayaan
mereka sampai kini.
Kekalahan.
Penaklukkan India oleh Islam
membawa akibat yang tak terduga
bagi agama Hindu. Kenyataan bahwa
satu agama mempergunakan pasukan
bersenjata atau badan negara untuk
menambah jumlah pemeluknya adalah
sebuah pengalaman yang sangat sukar
untuk ditangani oleh umat Hindu sampai
dewasa ini.
Karena kehilangan kendali politik atas
nasib mereka, kepemimpinan efektif dari
masyarakat Hindu akhirnya berpindah
dari raja kepada pendeta. Para pendeta
itu melidungi agama Hindu dengan cara
membekukannya.
Kekuasaan Islam atas India
berlangsung selama 8 abad dari tahun
1000 – 1858. Sekalipun India selatan
baru ditaklukkan oleh Islam pada abad
17. Pada abad 19 Inggris menjadikan
dirinya sebagai penguasa India yang
mantap. Dan dengan demikian ia
mengijinkan kegiatan missionaris di
daerah kekuasaan mereka. Kemenangan
Inggris juga berarti kemenangan Kristen.
Penjajahan oleh dua kekuatan asing ini,
membawa kehancuran fisik, mental dan
psikologis bagi umat Hindu India. Terjadi
penghancuran banyak sekali pura dan
lembaga pendidikan termasuk universitas
Nalanda ketika umat Hindu India di
bawah Islam. Seperempat orang Hindu
beralih agama. Serta rasa rendah diri
sebagai orang Hindu yang masih tersisa
sampai sekarang.Kemerdekaan.
Akibat-akibat keagamaan dari
kemerdekaan India pada 15 Agustus 1947
adalah pecahnya anak benua India menjadi
India dan Pakistan atas dasar agama.
Pakistan secara konseptual diciptakan
sebagai tanah air untuk orang-orang India
yang beragama Islam, sementara India
tidaklah dipandang sebagai tanah air bagi
orang-orang Hindu. India adalah negara
sekuler. Jadi oposisinya adalah Pakistan
yang Islam dengan India yang sekuler.
Hal unik yang perlu dicatat, sementara
Gandhi, bapak India adalah seorang
religius, Ali Jinnah, bapak Pakistan adalah
seorang sekuler.
Komitmen India pada sekularisme
merupakan hasil dari konvergensi dua
wawasan yang sangat berbeda yang
diwakili oleh Gandhi dan Nehru. Gandhi
menganggap semua agama adalah sah dan
sederajat dan karena itu menghendaki
negara sekuler atas dasar keagamaan.
Nehru menganggap bahwa agama adalah
sebuah kekuatan reaksioner dengan mana
negara kebangsaan yang modern harus
menjauhkan dirinya.
Tetapi sekularisme India dirasakan
oleh orang-orang Hindu di India sebagai
ditujukan kepada dirinya, karena UUD
India 30 ayat 1 dan 2) memberikan lebih
banyak hak kepada minoritas daripada
kepada mayoritas Hindu.
Pengalaman Indonesia:
Kemenangan.
Ketika Hindu masuk ke Indonesia,
ia membawa sikap murah hati dan
penghargaan yang sama terhadap budaya
dan keyakinan yang telah ada. Hindu
tidak berupaya untuk menggantikan
mereka secara serta merta, karena hal itu
berarti menghapus sejarah mereka dan
mencabut manusia dari akar budayanya.
Hindu hanya memberikan kerangka tattva,
kitab-kitab suci, supaya kepercayaan asli
memiliki dasar dan kerangka yang lebih
kuat.
Ketika Hindu telah begitu kuat di
Nusantara, baik dalam bidang politik
maupun ekonomi, ia tetap dengan sikap
murah hatinya. Pada zaman pemerintahan
Majapahit, prabu Brawijaya mengangkat
banyak orang Islam menjadi pejabat tinggi
istana. Raden Fatah yang beragama Islam
diangkat menjadi Bupati Demak. Para
wali atau sunan diberikan kebebasan
untuk menyebarkan agama Islam, dan
mereka diberi tanah untuk mendirikan
pesantren.
Kekalahan
Dengan runtuhnya Majapahit pada
awal abad 15, runtuh pulalah agama
Hindu di Indonesia. Sejarah formal di
Indonesia tidak memberikan gambaran
yang jelas mengenai penyebab runtuhnya
Majapahit. Sebagian besar mengatakan
penyebabnya adalah konflik internal.
Suatu hal yang biasa dalam kehidupan
politik, suksesi (peralihan atau perebutan
kekuasaan) sistem kerajaan. Sejenis intrik
istana.
Sumber-sumber di luar sejarah formal,
seperti kitab Sabdo Palon Noyogenggong,
memberikan gambaran yang lebih
jelas. Raden Fatah, yang diangkat oleh
Brawijaya menjadi bupati Demak, atas
bujukan Sunan Giri dan Sunan Bonang,
menyerang Majapahit tanpa pengumuman
terlebih dulu. Karena serangan yang
tak diduga-duga itu Majapahit jatuh.
Brawijaya melarikan diri ke suatu kota
di ujung Jawa Timur. Di sana ia berniat
pergi ke Bali, bertemu dengan adiknya
yang menjadi raja di Klungkung, dan
dari Bali ingin mengumpulkan para
Adipati seluruh Nusantara yang masih
setia untuk menyerang Raden Fatah. Tapi
atas bujukan keponakannya, Raden Sahid,
Brawijaya mengurungkan niatnya ke Bali
dan mengampuni Raden Fatah yang telah
mengkianatinya.
Kemerdekaan.
Setelah Majapahit runtuh pada abad 15
Hindu bertahan di Bali. Terputus dengan
India, agama Hindu di Bali ‘dibekukan’
dalam ritual-ritual yang banyak sekali
jumlahnya. Berbagai pembaharuan
yang terjadi di India, sama sekali tidak
menyentuh Bali.
Kedatangan Belanda menjajah
Indonesia, membawa dua akibat keagamaan
bagi Hindu. Di satu pihak Belanda
membawa serta para missionaris Kristen ke
Bali, sekalipun setelah terjadinya beberapa
skandal di Bali, seperti pembunuhan
seorang pastor Amerika Serikat oleh
seorang convert Bali yang dikucilkan
oleh warga desanya, ketegangan antar
warga Bali Hindu dengan warga yang
telah beralih kepada Kristen, memaksa
pemerintah Batavia melarang missionaris
Kristen beroperasi di Bali. Di pihak
lain, kedatangan Belanda di Indonesia,
membuat fokus perhatian Islam tertuju
kepada perlawanan terhadap mereka,
sehingga upaya untuk mengislamkan Bali
sebagaimana pernah dicoba pada zaman
Raden Fatah terabaikan atau tertunda.
Di Bali, para penguasanya sama
sekali tidak menaruh dendam terhadap
Islam. Kampung-kampung Islam seperti
Pegayaman di Buleleng, Kepaon di
Badung, Nyuh Kuning di Karangasem,
Loloan di Negara, tidak saja mendapat
perlindungan dari Raja, tetapi juga
diberikan tanah untuk masjid bahkan
bantuan untuk naik haji.
Kemerdekan Indonesia yang
diproklamirkan oleh Sukarno dan Hatta
pada tanggal 17 Agustus 1945 hampir
saja membuat agama Hindu hilang dari
bumi Nusantara ini. Kementrian agama,
pada waktu itu tidak mengakui Hindu
sebagai agama. Orang-orang Hindu
di Bali lalu melakukan ‘pembrontakan’
dengan mendirikan dinas agama Hindu
sendiri di Bali, mengirimkan dharma duta
ke desa-desa dan mulai mencetak bukubuku
Hindu. Sukarno yang setengah
Bali sebetulnya bersimpati tetapi dia
harus mempertimbangkan pendapat para
ulama.
Dewasa ini, sementara Bali terkenal
dengan toleransinya, di luar Bali umat
Hindu mengalami banyak kesulitan untuk
mengurus ktp, surat nikah, akta kelahiran
bila identitas diri mereka dicantumkan
sebagai Hindu. Demikian pula di
beberapa daerah umat Hindu mengalami
kesulitan bila hendak mendirikan pura.
Kemerdekaan tidak otomatis
memberikan manfaat bagi orang Hindu.
Sasanti Bhineka Tunggal Ika, dasar
negara Pancasila yang pada hakikatnya
mengandung pengakuan terhadap
kemajemukan masyarakat Indonesia,
dalam agama, budaya, bahasa dan adat
istiadat, baru dirasakan manfaatnya oleh
umat Hindu setelah melalui perjuangan
yang cukup keras.
Sumber:
1). Dr. Arvind Sharma : “Agama Hindu”
penerjemah N.M.Madrasuta, Penerbit
Paramita Surabaya, 2000.
2) Prof. S. Radhakrishnan : “Hindu
Dharma, Pandangan Hidup Hindu”,
penerjemah Agus s. Mantik, Manikgeni,
2002. | | | | Source : Ngakan Made Madrasuta
| |
|
New Page 4
|