Edisi Online

Admin

 Artikel
 
  Umat Hindu di Cirebon: Soal Kremasi
 

Dari Bumi Segandu, Senin sore, 24 Desember 2007, tim Media Hindu meneruskan perjalanan menuju Cirebon, ke Pura Jati Permana. Mulai sore hujan lebat terus turun di bumi Cirebon ini. Dipandu oleh koresponden Media Hindu di Cirebon, akhirnya menjelang pukul 20.00 WIB, rombongan tiba di Pura. Umat yang hadir belum banyak. Karena hujan tidak berhenti, persembahyangan Purnama Sasih Kapitu dilaksanakan di bale piyasan, sehingga tidak semua umat sekaligus bisa ikut; karena tempatnya tidak memadai. Setelah persembahyangan gelombang ke dua selesai., acara dilanjutkan dengan dharma wacana yang disampaikan oleh Dewa K. Suratnaya dari Media Hindu. Yang kemudian dilanjutkan dengan dharma tula, hingga menjelang tengah malam. Beberapa pertanyaan yang menarik dan patut mendapatkan perhatian, antara lain tentang kurikulum agama Hindu untuk anak-anak Hindu agar bersifat standar untuk semua wilayah di Indonesia. Diharapkan ada kurikulum yang bersifat nasional, tidak hanya siswa-siswa Hindu di Bali yang mampu memahaminya. Kurikulum tersebut tidak menggunakan Bali sebagai acuan, karena siswa-siswa Hindu di luar Bali akan mengalami kesulitan, mengingat kondisinya berbeda. Untuk itu diperlukan sebuah kurikulum dengan materi yang tidak hanya mampu dicerna oleh siswa Hindu di Bali. Dengan materi agama Hindu yang dalam, dan tidak bernuansa Bali. Selain itu, seorang umat merasakan betapa ruwetnya kehidupan beragama di Bali. Namun kemudian, oleh Suratnaya dijelaskan bahwa di luar Bali tidak perlu berpikir ruwet. Biarkan Bali seperti apa adanya, karena di Bali sudah banyak umat yang arif. Yang penting di Cirebon ini, konsep desa, kala dan patra bisa berjalan dengan baik. Tetapi jangan salah mengartikan konsep ini. Bukan berarti umat Hindu asal Bali, harus sepenuhnya dan secara membuta mengikuti semua cara-cara, atau pola kehinduan model Cirebon. Ini salah persepsi namanya. Sebagai orang Bali yang ber agama Hindu, tetap memiliki ciri-ciri kehinduan model Bali, tetapi juga ada benang merah dengan lokal jenius. Seringkali kita salah mengartikan bahwa desa, kala, patra diartikan untuk melupakan milik sendiri karena harus diganti dengan tradisi setempat. Milik sendiri tetap sebagai landasan, sementara tradisi setempat merupakan pelajaran baru yang harus dipelajari dan diimplementasikan. Ada pertanyaan tentang keberadaan Dayak Hindu - Budha di Bumi Sagandu dan kelompok masyarakat adat Cigugur, di Kuningan. Suratnaya menanggapi bahwa kelompok masyarakat adat itu memang tidak semuanya beragama secara resmi, yang tercantum di KTP. Tetapi dari kegiatan dan filsafat kehidupan mereka, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka itu berbeda dengan ajaran Hindu. Hindu sangat fleksibel dan luas jangkauan ajarannya, serta tidak pernah mengabaikan dan memaksakan kehendak. Apalagi merusak tradisi atau budaya setempat. Ini dilarang keras. Sehingga dimana pun Hindu muncul dan berkembang, walaupun tidak disebut Hindu, tetapi perwujudan ajarannya jelas terlihat dalam kehidupan. Namanya bisa saja bukan Hindu, tetapi sesungguhnya itu adalah Hindu yang telah luluh lebur menyatu dengan alam kehidupan setempat. Dan suatu saat, dengan perkenan leluhurnya, ia akan kembali kepada rumah asalnya. Mereka adalah bagian dari komunitas Hindu yang universal dan mendunia. Terkait dengan kremasi, Suratnaya menyampaikan bahwa umat Hindu di Cirebon patut bersyukur karena umat Budhha telah memiliki fasilitas ini. Dan kita bisa memanfaatkannya. Boleh saja kita berkeinginan untuk memiliki tempat kremasi, namun harus dipertimbangkan dengan matang bahwa umat kita di Cirebon sangat terbatas. Biaya pembangunan, pemeliharaan dan pengelolaan yang cukup tinggi, akan membutuhkan dana tidak sedikit. Untuk itu, alangkah idealnya apabila dana yang ada digunakan untuk membangun sekolah TK, karena pendidikan umat Hindu jauh ketinggalan. Acara dialog ini berlangsung santai dan menarik, walaupun yang hadir hanya seperempat dari umat Hindu di Cirebon, karena hujan. Satu hal yang membuat Pura ini memiliki nilai lebih adalah keberadaan pelinggih untuk para leluhur Cirebon maupun Jawa Barat yang sudah di entas beberapa tahun lalu. Oleh karena itu setiap pujawali di Pura ini, maka leluhur Jiwa Barat selalu hadir untuk memberikan restu kepada umat Hindu. Pura ini merupakan salah satu terminal untuk berhubungan dengan para leluhur Jawa Barat, termasuk Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, yang oleh keturunannya sering dipanggil Hyang Agung.

 
 Source :   Dewa K. Suratnaya
 
New Page 4






* * Media Hindu Online 2007 * *