|
Admin |
| | Dari Redaksi
|
| | | Hindu dan Politik | | | Untuk terbitan edisi Pebruari 2008,
Media Hindu menampilkan laporan
utama mengenai Hindu dan Politik.
Sebetulnya tidak perlu dikatakan bahwa Media
Hindu tidak memiliki hubungan organisasi apapun
dengan sesuatu partai politik. Kami juga tidak
mendukung satu partai politik tertentu. Hanya saja
pendirian suatu partai politik, yang secara kebetulan
diasosiasikan dengan Hindu, kami gunakan sebagai
titik tolak untuk membicarakan masalah hubungan
agama, di sini agama Hindu, dengan politik.
Hubungan agama dengan politik, tetap ada,
bahkan di negara-negara sekuler yang memisahkan
agama dengan negara. Misalnya seperti di Eropa,
di Belanda dan Jerman ada partai politik yang
secara terang-terangan mencantumkan Kristen
sebagai namanya. Seperti misalnya Christian
Democratic Union. Di Amerika Serikat, Partai
Republik memiliki hubungan dekat dengan kaum
Kristen evangelis. Di Jepang ada partai Komeito
yang dekat dengan Soka Gakkai, satu organisasi
Buddhis yang berpengaruh. Dan India ada Baratiya
Janata Party (BJP) yang mengusung ideologi
Hindutva (secara harfiah artinya “Kehinduan”) dan
merupakan salah satu anggota Sangh Parivar, induk
organisasi yang dekat dengan dan memperjuangkan
kepentingan Hindu. Partai-partai ini memang tidak
memperjuangkan berdirinya negara agama, atau
menegakkan hukum agama bagi seluruh warganya,
tetapi memperjuangkan nilai-nilai yang mereka
anggap mulia, agar tercermin di dalam kehidupan
masyarakat.
Berkembang opini, bahwa orang Hindu,
memiliki kecendrungan menghindari politik.
Apakah ini benar? Kami kira tidak. Sudah sejak
jaman pergerakan kemerdekaan di Bali banyak ada
partai politik seperti PNI, PSI dan Parindra. Pada
jaman orde lama, orde baru dan reformasi sekarang
ini banyak sekali orang Bali/Hindu yang menjadi
pengurus pusat partai-partai politik. Dan banyak
dari mereka yang kemudian duduk dalam kabinet,
sebagai menteri dan di lembaga legistif pusat, DPR
dan MPR. Mereka pastilah juga memperjuangkan
kepentingan Hindu.
Ada anggapan politik itu kotor. Orang
lalu ingat kepada Niccolo Machiavelli dengan
bukunya “Sang Pangeran” dan Chanakya dengan
bukunya “Chanakya Nitisastra”. Kedua filsuf
politik ini, Chanakya bukan hanya filsuf tetapi
juga politikus, karena pernah menjabat Perdana
Menteri dalam pemerintahan Kaisar Chandra
Gupta, memang menulis etika politik untuk
jamannya, jaman kekuasaan aristokrasi. Di mana
pergantian kekuasaan dilakukan berdasarkan
garis keturunan, yang memungkinkan terjadinya
intrik-intrik internal, dengan melibatkan tipu daya
keji (sekarang mungkin disebut siasat), bahkan
pembunuhan.
Dalam negara yang menganut sistem demokrasi,
suksesi kekuasaan dilakukan secara terbuka, dari,
oleh dan untuk rakyat. Siasat tentu saja diijinkan
sejauh masih dalam koridor hukum. Makin maju
sistem demokrasi suatu negara makin bersih
perilaku politiknya. Kecurangan ada, tetapi segera
diselesaikan melalui mekanisme hukum.
Parisada, melalui rekomendasi yang dikeluarkan
dalam Pesamuhan Agung, di Balikpapan, Kalimantan
Timur, pada pertengahan bulan Desember 2003,
mendorong umat Hindu agar aktif di dalam politik.
Tentu saja dengan berpedoman pada cahaya moral
dan etika Hindu. Pesamuhan Agung menganjurkan
para politikus Hindu dan mereka yang mengaku
pemimpin untuk menjadikan Bhagavad Gita
sebagai bacaan harian mereka.
Politik berhubungan dengan kekuasaan dan
pengelolaan negara. Menghindari politik tentu
akan sangat merugikan umat Hindu sendiri.
Yang diperlukan sekarang ini sebenarnya adalah
paradigma baru di dalam berpolitik, bahwa politik
itu adalah pekerjaan mulia, bahwa politik itu adalah
pengabdian dan pengorbanan. Bahwa berpolitik
itu bukan untuk cari makan atau cari kekayaan.
Sebab hal inilah sebenarnya niyatam karma, jalan
kewajiban yang harus dititi oleh para pemimpin
seperti yang dikatakan didalam Bagawad Gita.
Di dalam Bagawad Gita (III,19) juga dibahas
dengan jelas sifat yang melatar belakangi seorang
pemimpin: bahwa dia haruslah berbuat segalanya
tanpa pamrih, bahwa dia harus dilandasi oleh
semangat untuk berkorban dan tanpa tujuan
apapun yang bersifat pribadi. Dan yang terakhir,
dia harus bekerja dengan pandangan mengenai
pemeliharaan dunia (lokasamgraha). Mahatma
Gandhi menerjemahkan hal ini ke dalam sarvodaya,
kemakmuran untuk semua, sebagai tujuan
politiknya. Rekomendasi ini masih relevan pada
masa ini bahkan sampai masa depan. | | | | Source : Ngakan Putu Putra
| |
|
New Page 4
|