Saying Shoulin teamed trend continued at replica handbags the waist amazing four or five years, but because it is so there is a range of children, so that designers have been caught at this point would not let go, with leather civilization Coach replica watches,this season we will be focusing its attention at Fashion Week, not knowing that this little saddle bag was actually doing so exquisite, compact design with rolex replica a sophisticated dual-sprouting moment your heart!
Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

UPACARA
Upacara Pitra Yadnya/ Ngaben

Upacara Pitra Yadnya atau ngaben adalah pekerjaan mudah dan murah yang sering dipersulit sendiri, dan dimahal-mahalkan oleh penjual banten. Begitu Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Kertha ketika memberikan penataran di hadapan para pemangku di Ashram Manikgeni. Lalu, beliau bercerita, bagaimana orang mempersiapkan banten ngaben itu jauh-jauh hari. Pas ketika upacara, semuanya berlumut, janurnya kusut, kue dan sesajinya berjamur, semut merayap penuh di sana-sini. Baunya pun tak sedap lagi. Pandita Mpu pun melanjutkan ceramahnya: "Apa banten seperti itu kita haturkan kepada Tuhan untuk mengantar roh yang akan kita upacarai? Apa Tuhan tidak tersinggung diberikan banten yang sudah bengu (maksudnya busuk)?"

Saya tak tahu, apakah Tuhan tersinggung. Tapi kalau hati kita sudah tidak enak menghaturkan banten yang "bengu" begitu, apalagi daging ayamnya sudah dipenuhi lalat, dan sesayut warnanya bukan lagi warna janur muda, bisa jadi Tuhan memang tersinggung. Bukan karena banten itu, karena kita sendiri sesungguhnya sudah tidak sreg lagi. Jadi Tuhan hanya mengikuti kondisi batin kita.

Umat Hindu di Bali, terutama di pedesaan yang tingkat pendidikannya rendah dan tidak banyak mendalami kitab-kitab agama, seringkali terjebak pada pola takut salah dalam menghaturkan banten. Takut tidak komplit, takut kurang ini atau kurang itu. Kalau salah, nanti Tuhan bukan memberikan anugerah, tetapi kutukan. Bethara, Pitara, Leluhur, Kawitan semuanya akan memberikan kutukan atau setidak-tidaknya memberikan "sakit" sebagai sinyal dari adanya kesalahan itu. Istilah di pedesaan seperti "kepongor" atau "kepanesan" adalah suatu kepercayaan bahwa para leluhur kita -- bahkan dalam tingkat tertinggi Hyang Widhi -- menjatuhkan hukuman kepada umatnya karena melakukan tindakan yang salah atau kurang lengkap dalam melaksanakan upacara. Tuhan dan Bethara lebih sebagai penghukum, bukan sebagai Yang Maha Kasih, Yang Maha Pengampun.

Supaya tidak salah, maka upacara ritual pun harus lengkap. Lengkap versi siapa? Lengkap menurut tradisi yang sudah turun-menurun, tanpa peduli lagi apakah tradisi itu benar atau sudah salah dari sononya. Karena itulah tidak sedikit orang yang mengadakan upacara ngaben sampai menjual harta warisan, agar pelaksanaan ritualnya disebut lengkap. Pokoknya demi upacara lengkap itu, pendidikan anaknya bisa dikorbankan, tanah produktif untuk kehidupan sehari-hari bisa digadaikan. Atau, tidak menyelenggarakan upacara ngaben sebelum semua biaya itu tersedia. Jadi bisa bertahun-tahun jenasah itu hanya dikuburkan begitu saja, tanpa ada upacara ngaben.

Upacara Pitra Yadnya yang lengkap itu juga dikaitkan dengan kesenian, baik berupa bunyi-bunyian maupun pementasan tari. Ngaben tanpa bunyi angklung terasa begitu asing, kata sejumlah orang. Tapi, kenapa tidak membunyikan gamelan angklung dari kaset lewat pengeras suara saja? Setidak-tidaknya ini menghemat ratusan ribu, jika mendatangkan sekehe angklung, karena mereka menabuh lebih dari seharian.

Belum lagi tradisi gamelan gambang, yang konon satu-satunya gamelan yang bisa mengantarkan "pitara" ke sorga. Tanpa gamelan itu, tak ada jalan menuju sorga. Lalu lesung yang ditumbuk itu (ngeluntang), yang akan menyambut arwah-arwah yang akan diupacarai. Langkanya lesung penumbuk padi akan membuat kelabakan orang untuk mencari di mana ada lesung yang bisa disewa. Itu baru bunyi-bunyian, belum lagi kesenian berupa tari

Padahal semua itu adalah embel-embel, bukan berarti lengkap atau tak lengkap. Lengkap tidaknya upacara adalah masalah "perasaan batin" yang punya upacara. Kesenian itu sama saja dengan banten, apakah kita puas dengan membuat yang sederhana kalau memang mampunya seperti itu? Atau kita memaksakan diri, padahal kita jelas tidak mampu? Mari melaksanakan upacara yadnya yang disesuaikan dengan kemampuan kita, sehingga hati kita pun tulus. Tidak ada pitara atau bethara yang menghukum, apalagi Hyang Widhi, itu cuma perasaan saja.

Source :   Putu Setia
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster