Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

ARTIKEL
Kemenangan Dharma dalam Keheningan

Memasuki akhir bulan Maret tahun 2009, umat Hindu . di Nusantara merayakan beberapa hari suei sekaligus. Untuk umat Hindu di Pulau Bali bahkan juga melaksana.. kan karya suei Panea Bali Krama, yang pelaksanaanya dilakukan setiap sepuluh tahun sekali.

Hari suei yang mewarpai aktivitas keagamaan umat Hindu di Nusantara, menjelang akhir Maret tahun 2009 adalah, Hari Suei Galungan pada Buda Kliwon Dungulan saka warsal930, atau Rabu 18 Maret 2009. Hari Suei Nyepi pada Wrespati Pon Kuningan, pananggal apisan sasih Kadasa saka w~rsa 1931, atau Kamis 26 Maret 2009. Serta Hari Suei Kuningan pada Saniseara Kliwon Kuningan saka warsa 1931 atau Sabtu 28 Maret 2009 .

Perayaan atau peringatan hari suei merupakan bagian dari dharma agama sebagai penganut ajaran Hindu Secara garis besar tujuan dari perayaan atau peringatan hari suei adalah sebagai media pendekatan dan pelayanan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia dan seluruh isi alam semesta ini. Sehingga tereipta keseimbangan antara nilai spiritual dan material budaya, dengan peningkatan pemahaman terhadap nilai filosofi dari masing-masing perayaan hari sueci.

Selain itu, tujuan perayaan hari suci bagi umat Hindu adalah sebagai media untuk meningkatkan penyucian diri pribadi. Ada empat bagian diri yang dapat disucikan ketika melaksanakan perayaan suatu hari suci, sebagaimana yang dicantumkan dalam pustaka suci Manawa Dharma Sastra adyaya V sloka 109. Pertama ialah tubuh fisik atau badan jasmani. Apabila kita hendak melaksanakan persembahyangan, serangkaian perayaan suatu hari suci, tentunya terlebih dahulu kita melakukan pembersihan pada diri dengan mandi yang bersih, mengenakan pakaian sembahyang yang rapi, sehingga badan terasa segar dan nyaman, untuk melaksanakan puja bhakti.

Selain tubuh fisik, pikiran atau manah juga disucikan pada perayaan suatu hari suci, melalui kejujuran yang dilakukan secara bijaksana. Misalnya, ketika telah berada di areal tempat suci terutama pada uttama mandala, atau tempat dilaksanakannya perayaan hari suci, sebaiknya pikiran dipusatkan pada upacara hari suci, jangan membicarakan hal-hal di luar konteks pelaksanaan hari suci tersebut.

Atman termasuk bagian diri yang disucikan,ketika melakukan perayaan hari suci keagamaan. Penyucian atman ini dilakukan dengan melakukan tapa brata sesuai dengan kemampuan masing-masing, serta sesuai dengan aturan dari perayaan hari suci. Misalnya untuk hari suci Nyepi ada Catur Brata penyepian, untuk hari suci Siwaratri ada bratanya sendiri.

Di samping tubuh fisik, manah, dan atman, ketika melaksanakan perayaan suatu hari suei keagamaan Hindu, budhi indria pun disucikan. Budhi indria yang suci akan mudah menerima sinar suci dari Sang Hyang Widhi Wasa. Budhi indria ini disucikan dengan ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan kerohanian. Pada waktu perayaan hari suci, usai persembahyangan atau sebelum persembahyangan, diberikan dharma wacana atau dilaksanakan dharma tula. Melalui dharma wacana dan dharma tula ini, dapat memberikan pengetahuan maupun wawasan baru bagi budhi indria. Pada perayaan ketiga hari suci, yaitu Galungan, Nyepi dan Kuningan, di bulan Maret tahun 2009 ini, umat Hindu Nusantara diharapkan dapat melakukan penyucian terhadap keempat unsur diri pribadi tadi, secara lebih baik lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Datangnya ketiga hari suci yang penuh dengan nilai kebijaksanaan spiritual ini secara berurutan, merupakan sebuah momentum yang amat baik bagi umat Hindu untuk bersama-sama melakukan perenungan terhadap perbuatan yang selama ini dilakukan. Apakah swadharma yang selama ini dilakukan, baik itu dharma agama maupun dharma negara, telah berjalan dengan sebagaimana mestinya, atau masih memerlukan perbaikan dan peningkatan lagi.

Hari suci Galungan dan Kuningan memiliki pesan filosofis perayaan kemenangan dharma atas adharma serta bagaimana perjuangan mempertahankan kemenangan tersebut, sehingga dharma senantiasa ajeg dalam kehidupan umat manusia di marcapada ini.

Dalam pustaka suci Wrhaspati Tattwa sloka 26 dinyatakan ada tujuh macam perbuatan yang tergolong Dharma, yaitu: Sila (Tingkah laku yang baik), Yajnya (Pengorbanan), Tapa (Pengendalian Diri), Dana (Pemberian), Prawrjya (Menambah ilmu pengetahuan suci), Diksa (Penyucian diri/dwijati), dan Yoga (Menghubungkan diri dengan Tuhan).

Sedangkan hari suci Nyepi, memberikan pesan filosofi sebagai waktu pergantian tahun Saka, di mana umat Hindu merayakanya dengan melaksanakan Catur Brata penyepian, yang terdiri atas mati gni, mati karya, mati lelungan dan mati lelangunan. Umumnya pergantian tahun dirayakan dengan pesta hangar-bingar, namun berbeda dengan pergantian tahun Saka yang dirayakan dalam suasana kensunyian dan keheningan.

Suasana hening berpadu dengan kebahagian karena kemenangan dharma atas adharma, merupakan kondisi yang indah dan tepat sekali bagi umat Hindu untuk introspeksi diri dan menyusun rencana selanjutriya dalam pelaksanaan dharma agama Hindu. Sehingga tercipta suatu tatanan masyarakat Hindu Nusantara yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Selamat hari suci Galungan, Kuningan dan Nyepi Saka 1931

Penulis adalah kontak person yayasan lembaga sanatana dharma wilayah Malang, Jawa Timur

Source :   balipost
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster