Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

UPACARA
Umat Hindu Rayakan Tumpek Wariga

DENPASAR, KOMPAS.com - Umat Hindu Dharma di Bali Sabtu merayakan hari Tumpek Wariga atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Uduh, persembahan suci yang khusus ditujukan untuk semua jenis tumbuh-tumbuhan.

Kegiatan ritual menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan, dengan kekhususan "bubuh sumsum", yakni bubur dari tepung ketan yang diberi warna hijau alami dari daun kayu sugih, ditaburi dengan parutan kelapa dan diberi gula merah.

Ketua Program Studi Pemandu wisata Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar Drs I Ketut Sumadi M.Par mengatakan, kegiatan ritual Tumpek Wariga dilakukan umat Hindu terhadap tanaman di sawah, ladang maupun pekarangan.

Masyarakat Petani di Desa Marga, Kabupaten Tabanan menggelar kegiatan ritual itu sejak pagi hingga sore hari di sawah dan ladang mereka masing-masing. Tumpek Uduh dapat dijadikan sebagai mementum yang strategis dalam revitalisasi membangkitkan sektor pertanian di Pulau Dewata.

Tumpek Uduh menurut Gurubesar Univesitas Udayana Prof Dr Ir Dewa Ngurah Suprapta, bukan merupakan hari untuk menyembah tumbuh-tumbuhan, namun hari untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar melalui tumbuh-tumbuhan umat manusia dapat diberikan kemakmuran dan keselamatan, agar terhindar dari berbagai bencana.

Kegiatan ritual yang digelar Umat Hindu pada pepohonan di pekarangan, sawah dan ladang masing-masing merupakan salah satu bentuk menghargai aneka jenis tumbuh-tumbuhan, yang selama ini mampu memberikan manfaat terhadap kehidupan umat manusia maupun aneka jenis satwa lainnya.

Tumpek Uduh dirayakan setiap hari Sabtu uku Wariga yang jatuh setiap 210 hari sekali. Menurut Dewa Suprapta tumbuh-tumbuhan dengan sistem perakaran yang ada, memegang partikel tanah dan menutupi permukaan tanah, sehingga saat musim hujan permukaan tanah terhindar erosi.

"Bisa dibayangkan bagaimana parahnya erosi dan longsor, jika seluruh permukaan tanah tidak ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan. Dalam satu musim hujan saja, bagian tanah atas yang subur akan tergerus oleh aliran air," ujar Dewa Suprapta.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/19/09195718/Umat.Hindu.Bali.Rayakan.Tumpek.Wariga

Source :   webmaster
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster