Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

ARTIKEL
Membangun Manusia Seutuhnya

Atmanam rathinam widhi, sariram ratham eva tu,
Buddhim tu sarathim viddhi. manah pragaham eva ca.
Indriani hayan ahur visayam tesu gicaran.
atmendriye mano yuktam bhoktety ahur manisinah.
(Katha Upanisad I.3.3 dan 4).


Maksudnya: Ketahuilah Atman adalah sebagai tuannya kereta, badan jasmani adalah badan kereta. Ketahuilah bahwa Budhi itu adalah kusirnya kereta, sedangkan pikiran adalah tali kekang. Indria disebut kudanya kereta, sasaran indria adalah jalan. Atman dihubungkan dengan badan, indria dan pikiran. Ialah yang menikmati. Demikianlah dinyatakan oleh yang suci.

---

KUTIPAN Mantram Upanisad tersebut merupakan suatu parabel atau pengandaian tentang keberadaan manusia itu sendiri. Manusia dalam Mantra Katha Upanisad itu diandaikan sebagai sebuah kereta. Badan raga diandaikan badan kereta, kuda yang menarik kereta diandaikan indria, tali kekang kuda ibarat pikiran, kusir kereta ibarat budhi, pemilik kereta adalah atman.

Kereta itu akan dapat berjalan dengan baik ke arah tujuan jika semua unsur kereta dalam keadaan baik. Keadaan baik itu artinya semua unsur mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Parabel yang dikemukakan oleh Mantra Katha Upanisad itu menggambarkan bahwa agama Hindu memandang manusia itu secara utuh.

Agama Hindu tidak melihat manusia dari sudut pandang rohani semata. Manusia harus digerakkan secara utuh dengan segala totalitasnya. Kalau badan kereta yang rusak, maka kereta itupun tidak dapat berjalan dengan baik oleh unsur yang lainnya. Demikian juga kuda yang menarik kereta haruslah kuda yang sehat. Di samping sehat, juga tidak binal sehingga dapat dikendalikan dengan mudah.

Artinya, kuda yang sehat dan kuat itu harus diajar dan dilatih untuk patuh pada arahan tali kekang yang dikendalikan oleh kusir kereta. Tali kekang kuda yang dipakai mengendalikan kuda juga harus kuat dan wajar. Kalau tali tersebut keropos mudah putus, maka kereta pun tidak dapat dikendalikan dengan baik.

Demikian juga kusirnya haruslah orang yang dalam keadaan sehat lahir batin secara normal. Artinya, kusir kereta itu dalam keadaan sehat jasmani dan rohaninya. Juga tahu ke mana tujuan mereka diarahkan sesuai dengan perintah pemilik kereta (atman).

Parabel tersebut memberikan kita inspirasi bahwa membangun manusia itu haruslah utuh. Badan raga harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Badan raga dipelihara agar sehat dan wajar untuk menopang kegiatan hidup sehari-hari mengarungi lautan kehidupan. Indria harus dikendalikan dengan upawasa. Swami Satya Narayana menyatakan upawasa itu bukanlah berarti hanya membatasi makan minum.

Semua indria haruslah dipelihara agar sehat dan fungsinya selalu diarahkan pada jalur yang benar. Peliharalah mata agar menjadi sehat dan dapat dipergunakan untuk melihat yang memang patut dan benar untuk dilihat. Demikian juga telinga, hidung, lidah dan kulit. Semuanya itu harus dipelihara dengan baik agar dapat berfungsi dengan benar. Dengan demikian ia dapat dijadikan alat oleh pikiran agar selalu berada pada jalur yang benar dan wajar.

Upawasa artinya kembali suci. Setiap indria yang menyeleweng pikiran harus mampu dikembalikan ke arah yang benar. Mengapa upawasa ditekankan pada mengatur makanan? Karena, di antara lima indria itu, yang paling sulit mengendalikan adalah lidah. Kalau lidah sudah dapat dikendalikan, maka indria yang lainnya lebih mudah mengendalikan. Sesungguhnya mengendalikan lidah bertujuan untuk mengendalikan semua indria termasuk juga panca karmendria. Yang termasuk di dalamnya adalah tangan, kaki, perut, dubur dan kemaluan. Sedangkan panca budhindria adalah mata, hidung, lidah, telinga dan kulit.

Di dalam kitab Manawa Dharmasastra V.109 disebutkan; badan disucikan dengan air, pikiran disucikan dengan satya (kebenaran dan kejujuran). Budhi disucikan dengan jnana atau pengetahuan yang suci, sedangkan atman disucikan dengan widya dan tapa. Widya itu hanya ada dua yaitu atma widya dan brahma widya.

Atma widya adalah pengetahuan tentang atman jiwa dari bhuwana alit. Sedangkan brahma widya adalah pengetahuan tentang ketuhanan atau jiwa agung alam semesta (bhuwana agung). Tapa artinya penguasaan diri sehingga tahan dengan suka dan duka. Penyucian badan raga dengan air artinya badan diberikan makanan yang dibutuhkan secara wajar (satvika ahara).

Di dalam Bhagawadgita III.14 disebutkan mahluk berasal dari makanan. Makanan berasal dari hujan (air). Hujan itu adalah yadnya dari alam. Yadnya itu lahir dari karma. Kalau kita ingin air tetap eksis di bumi ini, manusia harus ber-karma untuk memelihara hutan, membiarkan tanah datar ada resapan. Jangan semua permukaan tanah itu ditutup dengan beton sampai air tidak teresap ke bawah tanah. Dengan terpeliharanya air, maka tumbuh-tumbuhan akan senantiasa eksis memberikan manusia makanan.

Ini artinya badan dengan alat-alat indrianya haruslah diberikan makanan yang wajar dan sehat. Dengan demikian, badan dengan alat-alat indria tersebut menjadi sehat dan dapat berfungsi dengan baik. Pikiran disucikan dengan satya. Ini berarti pikiran itu jangan dibiarkan berkeliaran ditarik oleh ketidakjujuran dan kebenaran sampai berada di jalur adharma.

Kalau pikiran lemah, maka pikiran tidak mampu mengendalikan indria yang selalu ingin dipuaskan melulu. Bagaikan kuda yang tidak patuh pada kendali tali kekangnya kusir kereta. Dengan berfungsinya semua unsur-unsur kereta tersebut secara proporsional, maka akan terjadilah sinergi unsur-unsur yang membangun diri manusia tersebut. Dari sinergi itulah manusia akan dapat bereksistensi secara baik dan benar sehingga mampu produktif menumbuhkan nilai-nilai material dan spiritual secara seimbang dan berkelanjutan.

Dari syair suci Katha Upanisad ini kita dapat membuktikan bahwa agama Hindu tidak hanya mengajarkan hal-hal yang bersifat rohaniah semata, tetapi mengajarkan dan mengarahkan bahwa hidup ini harus diwujudkan secara utuh lahir batin bagaikan kereta.

I Ketut Wiana

Source :   balipost
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster