Saying Shoulin teamed trend continued at replica handbags the waist amazing four or five years, but because it is so there is a range of children, so that designers have been caught at this point would not let go, with leather civilization Coach replica watches,this season we will be focusing its attention at Fashion Week, not knowing that this little saddle bag was actually doing so exquisite, compact design with rolex replica a sophisticated dual-sprouting moment your heart!
Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

Opini Anda
Mengkaji "Tri Hita Karana"

Dengan kemampuan terbatas saya urun pendapat sehubungan dengan saran mengkaji ulang Tri Hita Karana. Kekuasaan Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa yang dimanifestasikan dalam tiga kekuasaan besar (Tri Sakti) yaitu Tuhan sebagai pencipta (Brahma), pemelihara (Wisnu) dan pelebur (Siwa) sejalan dengan siklus hidup; lahir-hidup-mati.

Kekuasaan tersebut tercermin juga dalam aksara Ang-Ung-Mang (OM). Tri Sakti yang juga penguasa Tri Loka yakni Bhur-Bwah-Swah merupakan sumber inspirasi lahirnya konsep-konsep pembagian yang serba tiga yang mempengaruhi sikap dan pandangan hidup masyarakat Hindu di Bali. Juga sekaligus menempatkan angka tiga memiliki nilai lebih dari angka lainnya dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Ingat mantram Gayatri doa universal yang diabadikan dalam Weda.

Contoh-contoh pembagian serba tiga lainnya:

1.

Konsep Tri Hita Karana, tiga unsur penyebab keharmonisan, kebahagiaan/kesempurnaan hidup yang menyelaraskan kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam/lingkungan dan manusia dengan Tuhannya tercermin dalam sikap dan pandangan hidup masyarakat Hindu di Bali yang religius. Tempat-tempat persembahyangan dan tempat tinggal ditata penuh dengan seni ukir menurut perundagian tradisional. Upacara adat dan agama berjalan sepanjang tahun dengan kesenian sebagai sarana pengiringnya. Desa adat/desa pakraman dengan awig-awignya, sima krama, dresta, tatwa-tatwa dan sebagainya yang mengatur hubungan bermasyarakat merupakan penjabaran hubungan manusia dengan manusia.

2.

Secara geografis alam dibagi tiga (tri mandala) yaitu gunung tempat dewa dewa (utama mandala), dataran tempat pemukiman (madya mandala). Ingat pengertian kaja dan kelod di Buleleng. Kaja artinya menfarah ke gunung menjadi kaja.

3.

Pada wilayah yang lebih kecil seperti desa terdapat parahyangan (utama mandala), disebut juga karang hulu/luan. rumah tempat tinggal atau pawongan (madya mandala) sebagai karang tengah dan setra atau kuburan (nista mandala). 4. Pedum karang untuk site perumahan terdiri dari pamerajan/ sanggah sebagai tempat suci, natah/halaman tempat perumahan/ pawongan dan teba tempat membuang kotoran. Pembagian tri mandala juga ditemui jaba sisi, jaba tengah dan jeroan pada pura.

4.

Secara fisik manusia terdiri atas kepala, badan dan kaki. Secara fisik dan rohani manusia terdiri atas atman/roh (suksma sarira), tenaga (anta sarira) dan badan fisik (stula sarira) disebut Tri Anta Sarira tiga unsur hidup.

5.

Tri Sandya, sembahyang tiga waktu dan Tri Kaya Parisudha (berpikir, berkata dan berbuat baik) adalah pedoman hidup sehari-hari.

6.

Pengertian nista-madya-utama, luan-tengah-dan teben tercermin dalam sikap dan pandangan hidup seperti tidak duduk di bantal atau di luanan, kaki tidak mengarah ke luanan waktu tidur, tidak ungkul-ungkul di depan orang yang lebih tua adalah sebagian dari sopan santun/tata susila. Demikian juga tidak mandi di luanan sungai bila ada orang tua mandi di tebenan, merendahkan badan di depan orang duduk, apabila tidur kaki tidak mengarah ke gunung atau ke arah matahari terbit, dan banyak contoh lain.

7.

Kekuatan Tri Sakti yang terkandung dalam adem terdiri atas kapur (putih) lambang Siwa, daun sirih (hijau) lambang Wisnu dan gambir/buah pinang (merah) lambang Brahma dianggap dapat menolak pengaruh negatif/black magic. Masihkah konsep-konsep tersebut relevan untuk dikembangkan kini dan mendatang? Mengkaji ulang pengertian Tri Hita Karana secara utuh perlu mendapat perhatian dari tokoh adat, agama dan budaya serta pemerhati Bali.

I Made Westra
Jl. Gunung Catur IIB/2
Gatsu Barat, P. Sambian Kaja, Denpasar

Source :   Balipost
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster