Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

WARTA UMAT
Pusaka Bali

Pusaka Bali

PAMERAN Pusaka Budaya Nusantara yang kini sedang berlangsung di Taman Budaya Denpasar tidak banyak diikuti benda pusaka dari Bali. Kebesaran sejarah Bali seakan-akan tidak ada, karena pameran ini didominasi pusaka-pusaka kerajaan di luar Bali. Bagaimana duduk persoalannya?

Tentu saja saya tidak paham, latar belakang saya bukan arkeolog. Tetapi, rasa-rasanya ada satu penyebab yang masuk akal, yakni cara pandang kita terhadap benda pusaka itu. Di masyarakat Bali, benda pusaka selalu dikaitkan dengan kesakralan dan karena itu tergolong keramat. Karena ada unsur keramat ini maka ada pantangan. Kalau benda pusaka itu berupa lontar, misalnya, pantangannya adalah jangan dibaca oleh orang yang tidak berhak, apalagi anak kecil. Difinisi orang yang tidak berhak itu lalu dibuat aneh-aneh, misalnya, belum dewasa, dianggap tidak punya tingkat kerohanian tertentu, belum mawinten dan sebagainya. Kalau benda pusaka itu berupa keris atau tombak, maka pusaka itu tetap terbungkus di tempatnya atau di dalam keropak kayu, lalu setiap hari raya Hindu dibuatkan sesajen. Tak pernah dibuka atau dibersihkan dengan alasan keramat.

Ketika saya kecil, ayah punya beberapa lontar dan saya diajari membacanya. Itu yang membuat saya sejak kecil sudah bisa membaca huruf Bali. Namun, ayah meninggal ketika saya berumur 13 tahun, dan sejak itu lontar dianggap keramat. Tak boleh lagi dibuka karena yang berhak membuka yaitu ayah sudah tak ada. Bertahun-tahun pusaka itu ditaruh di tempat khusus, termasuk keris dan tombak yang tak ada lagi tangkainya. Pada usia 20-an tahun, saya memberanikan diri membaca lontar itu, saya yakinkan ibu bahwa saya "sudah berhak membaca". Ternyata isinya hanya pedewasan biasa, bukan hal yang aneh-aneh. Keris dan tombak tanpa tangkai kemudian hilang entah ke mana saat rumah roboh total kena gempa di tahun 1976. Barangkali dibuang bersama reruntuhan karena orang lupa ada benda pusaka.

Kasus lebih unik juga terjadi di pura dadia. Ada lempengan tembaga yang dianggap prasasti dan berpuluh-puluh tahun dipuja sebagai pratima pura. Tak seorang pun berani mencoba membaca apa isinya. Bahkan dibersihkan pun tidak, karena tak ada yang berani menyentuhnya. Konon sering ada orang kerauhan yang menyebut agar prasasti itu dipelihara baik-baik. Cara memelihara terbaik adalah tetap membungkusnya, lalu dijadikan pratima. Sekitar dua tahun lalu, keberanian mempersoalkan pratima itu muncul. Apa sih yang tak berani dilakukan jika sudah minta izin ke Ida Batara? Begitu pendapat "generasi sekarang". Setelah dibaca ternyata isinya hanya dongeng soal menjangan yang lari dari gunung. Sejak itu tak ada urusan dengan tembaga yang disebut pratima itu. Pratima baru untuk pura dibuat dengan memakai simbol-simbol Hyang Widhi sesuai sastra agama yang merujuk ke Weda, seperti aksara Om, Acintya dan sebagainya.

Saya kira di banyak tempat di Bali, hal ini terjadi. Cara memelihara benda pusaka seperti itu yang menyebabkan benda pusaka menjadi tidak terawat. Di luar Bali benda pusaka dipelajari asal-usulnya. Kalau asal-usulnya jelas, siapa yang mewariskan, dari kerajaan mana mewarisi, apa fungsinya di masa lalu, apa khasiatnya sekarang ini, barulah benda pusaka itu dipilah-pilah. Mana yang pantas dipelihara sebagai monumen sejarah dan dipamerkan kepada masyarakat agar masyarakat tahu apa yang terjadi di masa lalu. Lalu mana yang unsur sakralnya tinggi dan dijaga kekeramatannya. Yang sakral dan keramat itu pun dibersihkan pada hari-hari tertentu. Pada masyarakat Jawa tradisional, ada hari baik untuk membersihkan keris, tombak dan senjata tajam lainnya. Di Bali, senjata tajam itu hanya diberi upacara pada saat Tumpek Landep, jarang dibersihkan.

***

Mari kita bertanya, di manakah benda pusaka warisan Danghyang Nirartha saat ini berada? Karena beliau seorang pandita, barangkali warisannya tidak dirawat oleh keturunannya dan lingkungannya. Tetapi, seberapa besar benda pusaka warisan Dalem Watu Renggong yang berkuasa di Bali sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16? Kita jarang mengetahuinya. Tentu benda pusaka itu ada, tetapi kita tidak tahu bagaimana benda pusaka itu dirawat sekarang. Apa pernah dipamerkan? Adakah unsur kesakralan dan kekeramatan itu lebih ditonjolkan dibandingkan nilai sejarahnya?

Kerajaan-kerajaan di Bali semestinya punya pusaka warisan. Keluarga puri pasti menyimpan pusaka itu. Kalau secara berkala hal ini dipamerkan kepada masyarakat, ini bisa memberikan pendidikan sejarah yang bagus untuk generasi muda. Kita jadi tahu, keris jenis apa yang dipakai dalam perang Puputan Badung, Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga dan sebagainya. Kita tahu bagaimana jenis-jenis tombak di masa lalu. Kita bisa mendapatkan inspirasi tentang mode jika melihat kain dan cara berpakaian di masa lalu. Banyak hal yang bisa kita pelajari. Sekarang ini kita hanya dibantu cerita-cerita saja, dan sedikit foto-foto masa lalu. Tidak banyak ada kesempatan untuk melihat pusaka budaya itu secara langsung.

Bahwa ada orang yang menyimpan warisan budaya itu untuk hal-hal tertentu, misalnya, merasa bertambah gengsinya, atau sakti mandraguna, kebal terhadap semua senjata tajam, atau lewat benda pusaka itu bisa menggaet wanita sebanyak-banyaknya, ini sudah mulai merambah hal-hal rasional. Bisa jadi hal itu benar, tetapi kemungkinan pula lebih banyak hanya sugesti. Tidak ada manfaatnya benda pusaka itu untuk lingkungannya kalau cara melihatnya seperti ini. Apalagi, pewarisnya tidak tahu benar apa wujud sesungguhnya dari benda pusaka itu. Ia hanya tahu dari kisah yang turun-temurun.

Dalam budaya Jawa, seseorang memang dihormati oleh lingkungannya jika mereka menyimpan benda-benda pusaka. Kehormatan itu datang bukan karena pusaka itu sakti atau bertuah, tetapi karena ia mau berkorban untuk merawat dengan telaten pusaka budaya itu. Dan, sesekali memamerkannya kepada umum seperti yang dilakukan di Taman Budaya Denpasar sekarang ini. Orang Bali yang kebetulan menyimpan pusaka budaya semestinya tergerak juga untuk hal ini. Agar sejarah Bali tidak gelap-gulita.

* Putu Setia

Source :   Balipost
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster