Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

WACANA
Nilai Agama Perlu Diaplikasikan

Veda smrtih sadaacaarah
Swasya ca priyamaatmanah.
Etaccatur vidham prahuh.
Saksaddhanamasya laksanam.
(Manawa Dharmasastra.II.12)

Maksudnya:
Veda Sruti, Veda Smrti, Sadaacaara dan priya atman adalah sebagai dasar untuk merumuskan norma hidup yang suci.

BALI terkenal karena kebudayaannya yang merupakan pengejawantahan ajaran Hindu di Bali. Ini artinya kebudayaan Bali itu jiwa dan napasnya adalah agama Hindu. Karena itu, nilai-nilai Hindu sebagai jiwa kebudayaan Bali itulah yang harus diaplikasikan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dinamika kebudayaan Bali itu harus terus berangkat dari nilai-nilai agama Hindu dan dilaksanakan secara benar.

Berdasarkan Sloka Manawa Dharmasastra yang dikutip di atas bahwa yang harus dijadikan dasar kebijakan umum untuk membangun ajeg Bali adalah nilai Hindu. Ada empat hal yang dinyatakan dalam Sloka Dharmasastra tersebut: Sruti, Smrti, Sadacaara dan priyaatmanah.

Sruti artinya kitab suci Veda sebagai sabda Tuhan yang supra-empiris. Smrti adalah kitab Sastra Veda sebagai tafsir dari daya ingat dan daya intuisi para Maha Resi yang mendalami Veda. Isi kitab suci Veda itu adalah kebenaran yang kekal abadi (Sanatana Dharma). Sedangkan penerapannya harus selalu Nutana Dharma. Artinya, harus selalu dapat diremajakan menurut pertumbuhan zaman.

Jadi, penerapan ajaran agama Hindu secara benar itulah yang akan dapat menegakkan Bali. Membina Bali yang bisa bertahan dalam menghadapi era globalisasi, pertama-tama harus diupayakan adalah membangun SDM yang Suputra. Karena dalam Slokantara 2 dinyatakan jauh lebih utama memiliki seorang Suputra daripada seratus kali berupacara Yadnya. Suputra inilah yang seharusnya menjadi para pemimpin Bali.

Suputra adalah orang yang Yatha sakti kayika Dharma. Demikian dinyatakan dalam Agastia Parwa. Artinya, orang yang dengan kemampuannya sendiri menegakkan Dharma. Sakti menurut Wreshaspati Tattwa adalah orang yang memiliki banyak ilmu (Sarwa Janyana) dan orang yang banyak kerjanya (Sarwa Karta). Suputra itu bukan orang yang membunuh aspirasi rakyat dan kebenaran dengan kekuasaan dan wibawa orang di atas atau pusat.

Dalam Slokantara 2 juga dinyatakan bahwa lebih utama Satya yaitu kebenaran dan kejujuran dari seratus Suputra. Ini artinya Satya sebagai inti kebenaran Veda itulah yang harus dijadikan pegangan utama oleh seorang Suputra dalam membangun norma hidup yang suci (Smrti) dalam menegakkan ajeg Bali.

Kemudian ada Sadaacaara. Istilah ini berasal dari kata Sat dan Acaara. Sat artinya Satya atau kebenaran abadi isi Veda. Sedangkan Acaara artinya tradisi yang ajeg. Jadi, Sadaacaara artinya tradisi kebenaran Veda yang ajeg. Tradisi Veda atau Hindu yang ajeg di Bali itulah yang diajegkan.

Tradisi Hindu di Bali itu banyak konsepnya dalam Pustaka Bali seperti banyak dimuat dalam Pustaka Lontar. Dalam Pustaka Lontar itulah banyak sekali konsep yang merupakan kristalisasi dari nilai-nilai Veda. Cuma dalam praktik kehidupan beragama dan berbudaya Hindu di Bali sudah banyak yang jauh bahkan sebagian ada yang sudah sangat bertentangan dengan nilai-nilai Veda yang mengkristal dalam Pustaka Lontar tersebut.

Di samping itu, karena kemajuan zaman nilai-nilai Veda yang sudah mentradisi di Bali perlu diperkaya dengan nilai-nilai Veda yang belum mentradisi yang dirasakan sebagai kebutuhan dalam menghadapi kemajuan zaman. Nilai-nilai baru yang muncul sepanjang untuk memperkaya dan memperkuat yang ada perlu disinergikan dalam rangka ajeg Bali. Unsur yang keempat yaitu Priyaatmanah, artinya pancaran suci Atman. Hal ini sangat luas maknanya. Aspirasi suci umatlah yang sesuai dengan nilai suci kitab suci itu yang dijadikan dasar untuk menata Bali.

Kalau kita perhatikan tujuh sistem budaya yang diteorikan oleh Prof. Dr. Koentjaraningrat, strategi pembinaan budaya hendaknya dimulai dari sistem religi. Artinya, dalam konteks Bali harus dimulai dari pembenahan sistem beragama yang benar.

Tinggalkan dengan rela sistem beragama Hindu bagaikan Asura yang masih ada menjadi benalu dalam sistem beragama Hindu di Bali. Kembalilah beragama dengan sistem Dewi Sampad. Ajeg Bali akan sukses apabila Veda Sruti, Smrti, Sadaacaara dan Priyaatmanah itu sebagai dasar membangun norma kehidupan di masyarakat.

* I Ketut Gobyah

Source :   Balipost
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster