Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

Bhagavan Dwidja
Jawaban atas Pertanyaan Umat

Majalah Raditya wrote:
Yth: Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Nawa Warsa Sandi

Om Swastyastu,
Berikut ini ada 5 pertanyaan yang masuk lewat Redaksi Majalah Raditya yang membutuhkan jawaban. Mengingat kesibukan Sri Bhagawan menjelang kepergian ke India, seberapapun yang bisa dijawab kami haturkan banyak terimakasih. Semoga Ida Bhagawan selalu dalam lindungannya dan rencana keberangkatan ke India berjalan dengan mulus.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

Putu Setia

----------------------

Meru dan Bade

Om Swastyastu,

Di Pura-pura sering saya melihat ada bangunan pelinggih meru yang bertumpang dan selalu ganjil. Pertanyaan;

1. Mengapa tumpangannya selalu ganjil?
2. Apa nama dewa di masing-masing yang berstana di sana?
3. Dan penjelasan lainnya yang berkaitan dengan meru.
Dalam upacara ngaben saya sering melihat adanya Bade (tempat mengusung mayat) yang juga selalu bertingkat. Pertanyaan;
1. Mengapa tumpangannya juga berbeda?
2. Apakah setiap perbedaan tumpangan juga mempunyai perbedaan nama dan peruntukan/golongan tertentu.
3. Apakah menggunakan sikut/ukuran tradisional di dalam menentukan tingginya tumpangan.
4. Dan penjelasan lainnya berkaitan dengan Bade.
Terima kasih banyak atas penjelasannya, semoga Hyang Widhi Wasa selalu memberikan anugrahnya kepada Ida Pandita.

I Nyoman Nok
Denpasar
-------------------------

JAWABAN
Bangunan-bangunan arsitektur Bali dilatar belakangi oleh kehidupan budaya daerah Bali menyangkut perjalanan sejarah, sistem mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, religi, pengetahuan (Veda), dan kesenian. Dari sejarah Bali dapat dikemukakan beberapa arsitek besar sebagai pencipta yaitu : Kebo Iwa dizaman Bali Aga, Mpu Kuturan dizaman pemerintahan Anak Wungsu, dan Danghyang Nirartha dizaman pemerintahan Dalem Waturenggong. Bentuk bangunan, ragam hiasan, relief dan warna mengandung perpaduan unsur-unsur alam, manusia, fauna dan flora. Bentuk meru mengambil unsur alam yaitu symbolisasi gunung sebagai sumber kemakmuran karena adanya mata air. Gunung juga area yang suci stana para Dewa, dan gunung tersuci di dunia adalah pegunungan Himalaya sebagai hulu Sapta Gangga.

Bentuk meru mula-mula hanya bertumpang tiga, diciptakan oleh Mpu Kuturan. Tumpang tiga sebagai symbol ketiga alam : Bhur, Bhuvah, Svah. Meru tumpang tiga juga symbol Ongkara (ANG-UNG-MANG) yaitu utpti (penciptaan), stiti (kehidupan) dan pralina (pemusnahan), dimana unsur-unsur arda chandra, windhu, dan nada diwujudkan dalam bentuk kekeb pane diatas tumpang tiga. Konsep Mpu Kuturan berupa meru tumpang tiga kemudian dikembangkan oleh Danghyang Nirartha dengan membangun meru yang bertumpang lebih dari tiga, yaitu 5,7,9, dan 11 sebagai perwujudan sistem kemasyarakatan dan religi.

Banyaknya tumpang meru menggambarkan derajat klasifikasi Dewata atau Bhatara yang distanakan. Jumlah tumpangnya ganjil karena dalam religi Hindu yang berkembang di Bali (antara lain disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti), angka ganjil adalah symbol sakti, dan angka genap adalah symbol dharma. Yang dimaksud dengan sakti ada dua dimensi, yaitu kemahakuasaan Hyang Widhi, dan dimensi kekuatan. Para pendiri Pura atau Sanggah pamerajan membangun meru berpedoman pada Lontar Asta Bumi dan Asta Kosali dari Bhagawan Wiswa Karma. Dalam lontar itu secara rinci disebutkan ukuran-ukuran sebagai acuan membangun sehingga menghasilkan bentuk yang indah, harmonis, dan selaras.

Dewata atau Bhatara yang distanakan di masing-masing meru sesuai dengan prasasti yang ada di masing-masing keluarga untuk Sanggah Pamerajan, dan untuk Pura-pura Kahyangan Tiga, dan Sad Kahyangan diatur dalam Lontar-lontar : Gong Besi, dan Sanghyang Aji Swamandala.

Bentuk bangunan Meru kemudian oleh Danghyang Nirartha dikembangkan juga untuk Bade dengan konsep yang sama, namun ada modifikasi ruang penempatan layon, serta penambahan symbol-symbol seperti : Garuda, Boma, dan Bedawangnala. Pengusungan jenasah dengan Bade dilatar belakangi oleh Atma Tattwa. Layon yang sudah disucikan dengan upacara Askara dipandang sebagai Panca Mahabhuta (pertiwi, apah, bayu, teja, dan akasa) yang siap dikembalikan ke alam semesta sehingga tercapai penyatuan antara Bhuwana Alit dengan Bhuwana Agung. Penggunaan banyaknya tumpang dalam bade diatur menurut tatanan masyarakat menurut sistem kasta. Dewasa ini kita perlu mengkaji kembali apakah perlu menonjol-nonjolkan kasta dalam upacara pitra yadnya. Bila tidak ingin demikian, tidak perlu repot-repot membuat bade dengan biaya mahal, cukup dengan pengusungan yang sederhana saja. Pencapaian sorga - neraka tidak ditentukan oleh tinggi dan mewahnya bade, tetapi oleh Subha dan Asubha Karma kita selama hidup.

-----------------------------------------

Daging yang tak boleh di makan

Om Swastyastu.

Di dalam Niti Sastra sloka 12 dinyatakan sebagai berikut:

"Haywa mamukti sang sujana kasta picita tilaren. Kasmalaning carira ripu wahya ri dalem aparek, Lwirnika kasta mangsa musika cregala wiyung ula Krimi kawat makadinika papara hilangaken".

Artinya:

Orang baik-baik tidak boleh makan daging yang tidak suci. Ia harus menjauhi segala yang mengotorkan badan dan segala yang mendekatkan seteru lahir batin kepadanya. Adapun yang termasuk daging yang tidak baik yaitu: Daging Tikus, Anjing, Katak, Ular, Ulat dan Cacing. Semua itu makanan terlarang, sebab itu elakkan. Nah sloka 12 ini sangat jelas dan tegas menekankan kepada kita umat Hindu bahwa daging-daging yang telah disebutkan dalam sloka 12 tersebut di atas adalah pantang untuk di makan karena semua itu adalah makanan terlarang.Namun di sisi lain dalam "Bhama Kertih" misalnya menyatakan bahwa "asu bang bungkem" bise dipakai ben banten caru/bhuta yadnya.Memang pada kenyatannya tak bisa dipungkiri bahwa di tempat saya sudah banyak orang Bali Hindu terutama/angkatan mudanya yang doyan mengkonsumsi daging anjing, bahkan bukan cuma itu, daging kucing, yaki/kera hitam tak berekor/dan tikus sawah sudah ada yang mencobanya. Menurut saya itu adalah dampak dari pengaruh pergaulan dengan teman penduduk setempat yang kebetulan berbeda budaya dan agama. Selain itu ada seorang teman berkata begini "Kenapa daging anjing tak boleh dimakan, padahal dipakai ben banten caru bisa. Kalau dipakai ben banten caru bisa, berarti di makan juga boleh". Demikian celotehnya teman saya itu.

Pertanyaan saya:

1. Karena asu bang bungkem bisa dipakai ben banten caru/bhuta yadnya, apakah itu bisa diartikan atau bisa dianggap bahwa daging anjing itu boleh dimakan menurut ajaran agama Hindu?

2. Bagaimana kalau menurut ajaran agama Hindu, selain daging yang dinyatakan terlarang oleh sloka 12 pada Niti Sastra itu, apakah ada lain daging yang lain pantang dimakan, misalnya dengan kucing dan kera?

3. Konon katanya di Bali sendiri sekarang anak-anak muda sudah mulai ada yang suka mengkonsumsi daging anjing, benarkah itu? Bagaimana bapak melihat dan menyikapinya masalah ini?

Mohon jawaban sekaligus pencerahan dan penegasan, agar nantinya untuk ke depan umat Hindu terutama generasi mudanya benar-benar bisa mengerti dengan jelas dan pasti akan ajaran agamanya.

Om anno bhadrah kratavo yantu visvatah.

I Dewa Rai Marutawan
Dsn. II Kembang Mertha
Kec. Dumoga Timur
Kab. Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

JAWABAN
Peraturan tentang makanan bagi pemeluk Hindu, selain ada dalam Niti Sastra, juga ada di Manawa Dharmasastra Buku kelima (Atha Pancamo Dhyayah). Pada garis besarnya pemeluk Hindu tidak dibolehkan makan makanan yang terlarang, karena akan berakibat tidak suci dan berumur pendek. Jenis-jenis makanan yang dilarang antara lain : bawang putih, bawang bakung, bawang merah, cendawan dan tumbuh-tumbuhan yang berasal dari barang busuk, cairan merah dari pohon hasil takikan, buah celu, susu kental sapi setelah menyusui anaknya, binatang pemakan binatang atau bangkai atau yang kotor, susu sapi dll. setelah 10 hari beranak, susu sapi dll. yang berahi, susu sapi dll. yang mandul, susu yang masam, binatang peliharaan dirumah, binatang yang makan apa saja, binatang yang berjari tangan/kaki lima.

1. Asu bang bungkem adalah anjing dengan bulu tubuh berwarna krem dan moncongnya berwarna hitam. Digunakan dalam upacara pecaruan bagi pemeluk Hindu di Bali. Segala jenis caru bertujuan antara lain untuk "nyomia bhuta" yaitu menghilangkan hal-hal negatif terutama yang bertentangan dengan trihita karana, menuju ke hal-hal positif. Sesajen untuk bhuta seharusnya tidak dimakan karena manusia adalah mahluk yang berderajat paling tinggi dalam pandangan ke-Tuhanan Hindu. Disamping itu, daging anjing adalah jenis yang dilarang dimakan sesuai Manawa Dharmasastra tersebut diatas karena anjing makanannya kotor.

2. Kucing adalah binatang yang makanannya kotor, misalnya ketika melahirkan ia menjilat dan memakan plasenta. Daging kera juga tidak boleh dimakan karena Kera adalah binatang yang berjari lima. Memakan binatang kodok/katak dan tikus dilarang dalam Parasara Dharmasastra XI.12.

3. Maka jika anda ingin menjaga kesucian dan berumur panjang, hati-hatilah memakan sesuatu karena jenis makanan sangat menentukan perilaku, pikiran, kesehatan lahir-bathin. Kutipan dari Atharva Veda XV.14.24 : Brahmana annadena annam atti. Artinya : Dia pilih makanannya dengan hati-hati dan kemudian dia memakannya.

Bila terlanjur memakan sesuatu yang dilarang, pemeluk Hindu harus melakukan puasa yang disebut Kricchara selama sehari semalam setiap bulan purnama.

-------------

Apa Beda Tirta dengan Wangsuhpada?

Om Swastiastu

Pada kesempatan yang baik ini kami ingin bertanya kepada bapak pengasuh masalah tirta dan wangsuhpada Ida Betara.

Pertanyaannya:

1. Apa beda tirta dengan wangsuhpada?
2. Apakah setiap selesai kita melakukan Tri Sandya harus metirta?
3. Saya melakukan persembahyangan di sanggah (Tri Sandya lalu diikuti dengan kramaning sembah) lalu ngelungsur wangsuhpada. Karena ada beberapa pelinggih yang mana harus kami lungsur tirtanya? Demikianlah pertanyaan yang kami sampaikan, atas jawabannya kami haturkan terima kasih.
Om Santi, Santi, Santi. I Wayan Sukarma
Jl. Nangka Gg Kutilang No. 7
Denpasar.

JAWABAN

1. Tirtha atau Air Suci adalah air yang dengan proses tertentu dalam tata-cara ke-Sulinggihan yang disebut sebagai "Surya Sevana", sudah mengandung tuah atau kekuatan Hyang Widhi. Dalam paham Hindu sekte Siva Sidantha, air yang sudah mengandung tuah itu dinamakan "Siva-ambha" (Siva = Hyang Widhi; Ambha = air). Siva-ambha ini berguna untuk pelaksanaan upacara-upacara : pensucian, persembahyangan, pemujaan, dll. Siva-ambha yang digunakan untuk pemujaan Hyang Widhi atau Roh suci lainnya, disebut sebagai "wangsuh-pada" (wangsuh = air cucian; pada = kaki). Wangsuh-pada ini dipercikkan keatas kepala dengan tujuan memohon agar kita dituntun kearah manacika (pikiran) yang baik; diminum dengan tujuan memohon agar kita dituntun kearah wacika (perkataan) yang baik; diraup dimuka dengan tujuan memohon agar kita dituntun kearah kayika (perbuatan) yang baik. Jadi mohon wangsuh-pada bertujuan untuk menegakkan Trikaya Parisudha pada diri manusia yang hidup. Sedangkan bagi jenasah, pemercikan wangsuh- pada bertujuan memohon "panugrahan" bagi perjalanan atma jenasah, mengingat jenasah sudah tidak lagi mempunyai Trikaya.

2. Sebaiknya setelah sembahyang kita mohon wangsuh-pada.

3. Bila bersembahyang di Pura atau Sanggah Pamerajan, cukup satu wangsuh pada saja, yaitu dari semua Bhatara-Bhatari yang distanakan, biasanya dipusatkan di Balai Piasan atau Balai Pelik.

-------------

Lagi Tentang Omkara

Om Swastyastu

Setelah membaca penjelasan tentang Omkara dalam Raditya nomor. 75 bulan Oktober 2003, maka ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan dan mohon penjelasan:

1. Bahwa unsur-unsur Omkara versi India hanya 4 (empat) tanpa Windu ( 0) sedangkan Omkara versi Bali genap 5 (lima).

2. Bahwa unsur Apah/air menggunakan Arda Candra/bulan sabit/kepangan sama dengan simbul agama Islam. Mengapa tidak menggunakan simbul bulan Purnama supaya sinarnya sempurna.

3. Bahwa unsur Akasa/langit/ ether menggunakan simbul angka 3. Mengapa angka 3 (tiga), apakah ada kaitannya dengan pengertian Bhur, Bhwah, Swah?

4. Mohon sebutkan sloka dalam kitab suci Weda yang menerangkan bahwa agama Hindu adalah agama Wahyu dari Hyang Widhi/bukan agama bumi. Demikian surat ini saya sampaikan, kalau ada kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf dan terima kasih.

Om Santi, Santi, Santi Om

Wiryono
Manggisan Baru No. 6
Kel. Mudal, Kec. Mojotengah
Wonosobo.

JAWABAN
1. Ongkara adalah bentuk atau symbol perkataan OM yang disebut sebagai wijaksara (wija-aksara) yaitu huruf suci/utama karena meliputi tiga wujud kemahakuasaan Hyang Widhi yaitu sebagai pencipta, pemelihara dan pemusnah. Sebagai pencipta, wijaksara-Nya adalah ANG, pemelihara UNG dan pemusnah MANG. Jadi OM atau ONG adalah penyatuan ANG-UNG-MANG (AUM). Oleh karena itu symbol Ongkara menggunakan angka tiga. Untuk menguatkan wijaksara maka angka tiga ini dilengkapi dengan Ulu-Candra. Ulu-Candra terdiri dari tiga unsur yaitu : Arda Candra, Windu dan Nada. Arda Candra berbentuk bulan sabit melambangkan Siwa, Windu berbentuk bulatan melambangkan Sada Siwa, dan Nada berbentuk segitiga kecil runcing melambangkan Parama Siwa. Jika melihat bentuk symbol OM (ONG) di Bali dan India, sama dan memenuhi keempat unsur itu, hanya saja angka tiga-nya yang berbeda yaitu di Bali menggunakan huruf Jawa kuno dan di India menggunakan huruf Devanagari. Disamping itu peletakan unsur-unsur Ulu-candra versi India menggunakan kreasi kaligrafi.

2. Sesuai dengan "Krakah Modre" bentuk symbol Ongkara di Bali ada 10 jenis digunakan dalam "rerajahan" yaitu proses sakralisasi : Ongkara Ngadeg, Ongkara Sungsang, Ongkara Gni, Ongkara Sabdha, Ongkara Amrta, Ongkara Adumuka, Ongkara Siwadwara, Ongkara Pitra, Ongkara Dada, dan Ongkara Kiwa-Tengen. Diantara kesepuluh jenis Ongkara itu ada enam jenis yang tidak menggunakan "tarung" yaitu Ongkara : Gni, Amrta, Adu muka, Pitra, Dada dan Kiwa-Tengen karena makna symbol-symbolnya tidak berkaitan dengan "pertiwi"

3. Yayur Veda XXX.7 : TASMAD YAJNAT SARVAHUTA, RCAH SAMANI JAJNIRE, CHANDAMSI JAJNIRE TASMAD, YAJUS TASMAD AJAYATA. Artinya : Dari Tuhan yang Maha Agung dan kepada-Nya manusia mempersembahkan berbagai yajnya dan dari pada-Nya muncul Rgveda dan Samaveda. Dari pada-Nya muncul Yayurveda dan Samaveda. Ulasan secara panjang lebar tentang hal ini dari Svami Dayanada Sarasvati menyatakan bahwa Veda adalah Sruti, yaitu wahyu yang didengar langsung oleh Sapta Rsi : Grtsamada, Visvamitra, Vamadeva, Atri, Bharadvaja, Vasista, dan Kanva. Beliau bertujuhlah "nabi" pemeluk Hindu yang meneruskan sruti itu kepada manusia.

-----------

Buku Sejarah Agama Hindu

Om Swatiastu,

Para sameton pengasuh Majalah Raditya bersama ini saya mau bertanya sedikit tentang sejarah masuknya & penyebaran agama Hindu ke Indonesia dan siapa-siapa saja tokoh-tokoh tersebut dan mengapa pula pulau Bali menjadi penganut mayoritas agama Hindu dan buku-buku apa saja & dimana saja saya bisa membaca sejarah penyebaran agama Hindu yang secara rinci dan mendetail saya mohon penjelasan dari pengasuh Majalah Raditya

Matur suksma

Om Shanti,Shanti,Shanti,Om

Made Sukarwa
Amanjiwo
Borobudur,Magelang
Jawa Tengah 56553
JAWABAN

Agama Hindu dibawa masuk ke Indonesia pada abad ke-8 Masehi oleh Maha Rsi Agastya dari Madyapradesh (India Tengah). Paham yang dibawa adalah Hindu dari sekta Siwa Sidantha. Hindu berkembang di Bali sejak abad ke-8. Menjelang keruntuhan Majapahit bersaman dengan kebangkitan Islam di Jawa, maka tokoh-tokoh Hindu beserta pengikut-pengikutnya "mengungsi" ke Bali. Mereka antara lain : Rsi Markandeya, Mpu Gni Jawa, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Bharadah, Danghang Sidhimantra, Mpu Jiwaya, Danghyang Nirartha, dll. Merekalah yang berjasa menyelamatkan Hindu sehingga dapat bertahan hingga sekarang. Buku-buku tentang sejarah Agama Hindu di Bali banyak, salah satunya adalah : Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, oleh Cudamani, diterbitkan oleh Yayasan Dharma Sarathi, Jakarta, 1990

Om santi, santi, santi, Om

Source :   HDNet
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster