Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

WARTA UMAT
Tentang Dee, Iwan Fals, dan Simbol-Simbol Hindu

Oleh: D. Manggala (11 Juni 2004)

-Thesis-Antithesis-->Synthesis -

Beberapa hari ini kita banyak membaca dan mendengar pembicaraan seputar tuntutan dari Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD) yang dipimpin Arya Wedakarna kepada Iwan Fals untuk mengganti sampul album terbaru Iwan yang berjudul Manusia Dewa, karena menurut FIMHD sampul itu adalah gambar Dewa Wisnu dan Garuda--pemasangan gambar tersebut dapat menimbulkan salah persepsi terutama berhubungan dengan judul albumnya yang menurut FIMHD tidak relevan dengan gambar yang dipasang. Setelah pemberitaan yang cukup ramai, akhirnya terjadi kesepakatan antara FIMHD dan pihak perusahaan rekaman Musica (recording company-nya Iwan Fals) dengan keputusan sementara yakni tidak perlu terjadi penggantian sampul album karena tidak ditemukan unsur pelecehan seperti dituduhkan, serta adanya dukungan dari unsur masyarakat Hindu Indonesia terhadap Iwan Fals(termasuk dari kalangan artis seperti Dewa Bujana dan grup punk asal Bali Superman is Dead).

Sampul Kaset Iwan Fals terbaru

 

Salah satu penggambaran Dewa Wisnu (dari googling dengan keyword = "wisnu" dan "garuda"

Bagi yang belum lupa, FIMHD ini juga beberapa waktu lalu pernah menuntut hal yang sama untuk novel Supernova Akar karangan Dee. Yang dipermasalahkan adalah karena novel ini memasang Omkara (aksara OM) sebagai sampul novel tersebut. Setelah pemberitaan yang cukup ramai juga, akhirnya Dee dan penerbitnya (Bark Communication)  memutuskan untuk mengganti sampul tersebut menjadi tanpa gambar sama sekali (alias bolong).

Sampul Supernova Akar

Omkara

Relevansi

Yang pertama perlu diungkapkan disini tentunya bahwa secara pribadi saya yakin sekali bahwa tentunya tidak ada maksud dari Dee maupun Iwan Fals untuk melecehkan pemeluk Hindu. Dilihat dari penempatan simbol-simbol tersebut tentunya kita sudah maklum bahwa mereka sebagai seniman menempatkan simbol tersebut sebagai sesuatu yang secara artistik maupun filosofis dapat mewakili karya mereka. Namun peersoalannya adalah: apakah itu relevan?

Hal inilah yang sepertinya menjadi titik tolak gugatan Arya Wedakarna dan FIMHD terhadap Dee dan Iwan Fals karena mereka beranggapan penempatan simbol tersebut tidak relevan dan yang dikhawatirkan bisa misleading terhadap orang yang tidak mengetahui arti simbol tersebut. Bagi FIMHD dan sebagian masyarakat Hindu, simbol Dewa Wisnu dan "manusia 1/2 dewa" jelaslah tidak relevan, sama halnya dengan cukup jauhnya hubungan antara Omkara dan Supernova Akar.

Tapi perlu dicatat bahwa tentunya tidak semua orang (terutama pemeluk Hindu) berpendapat seragam. Tradisi Hinduisme memberikan ruang yang sangat besar untuk interpretasi bagi pemeluknya, yang akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam pemahaman filsafat, upacara dan upakara (alat upacara)-termasuk penggunaan simbol- yang akan sangat tergantung pada tingkat intelektual serta waktu, tempat dan keadaan.

Disini ada sedikit perbedaan antara kasus Iwan Fals dan Dewi "Dee" Lestari; penggunaan simbol Dewa Wisnu dan Garuda mempunyai ruang interpretasi yang lebih besar karena pemahaman konsep "dewa" diantara pemeluk Hindu sangat bervariasi ditambah lagi penggambaran Dewa Wisnu lebih banyak terkait dengan unsur seni. Misalnya, bisa saja kita katakan bahwa gambar di sampul itu sebagai manusia 1/2 dewa mengendarai burung, bukannya Dewa Wisnu (banyak perdebatan bisa terjadi termasuk: "Emang loe pernah liat Dewa Wisnu? Kok loe yakin yang digambar ituadalah gambar Dewa Wisnu?").

Sedangkan pada kasus Dee, karena yang dipakai adalah Omkara (simbol dari Brahman-konsep tertinggi dalam Hinduisme) yang merupakan simbol paling penting dalam agama Hindu sekarang ini (terutama setelah Suastika terlalu identik dengan Nazi dan Hitler), maka lebih banyak pihak yang keberatan dengan pencantuman lambang tersebut pada sampul sebuah novel. Tentu saja ada juga yang oke-oke saja terhadap penggunaan lambang Omkara itu. Bagi sebagian masyarakat Hindu, simbol tidaklah terlalu penting dipermasalahkan karena: the map is not the geography.

Arts vs. Beliefs

Tentu saja kontroversi diatas bukan yang pertama dan juga bukan yang terakhir; setiap saat akan ada titik tabrak antara seni dan keimanan. Dua-duanya bersifat subyektif dan berdasarkan hati dan rasa, hanya saja kalau seni mendasarkan pada kebebasan berkespresi, keimanan lebih pada keyakinan total terhadap sesuatu (dogmatik).

Bagi Iwan Fals dan Dee, permintaan mengganti sampul dari karya mereka adalah sesuatu yang sangat berat, karena itu bagian dari karya, masterpiece mereka. Pemilihan simbol, kata, warna tentunya merupakan sebuah kesatuan; melarang penggunaan salah satu saja pasti dirasakan sebagai sebuah pemasungan kreativitas.

Bagi sebagian umat Hindu, pemakaian simbol itu dalam sesuatu yang bersifat non-relijius (terutama oleh umat non-Hindu) adalah sesuatu yang tidak dapat dibiarkan. Bagi sebagian umat Hindu, seperti diwakili oleh FIMHD, simbol itu bukan sekadar gambar atau tulisan tapi merupakan sesuatu yang mereka yakini lebih tinggi dari hidup mereka sendiri.

Disinilah sebuah dialog dan peran mediator sangat diperlukan.

Dialog

Baik FIMHD, Dee (dan Bark Communication), Iwan Fals (dan Musica) telah memberi contoh bahwa dialog adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan perbedaan.

FIMHD tidak dapat disalahkan karena mereka mengajukan sesuatu yang mereka yakini sebagai kebenaran, harus ada yang mengambil peran ini agar masyarakat juga tahu apa yang seharusnya mereka tahu. Selain itu FIMHD bisa dikatakan telah meng-exercise kebebasan mengeluarkan pendapat dengan prosedur yang baik (walaupun mungkin sebaiknya dialog dulu dengan pihak yang bersangkutan sebelum dibawa ke forum umum dan media massa).

Dee dan Iwan Fals juga mempunyai hak untuk mengekspresikan karya dan rasa mereka, namun cukup bijak juga kalau mereka sebelumnya berkonsultasi dengan pihak yang mengerti mengingat mereka menggunakan bagian yang bukan murni karya mereka, apalagi berkaitan dengan simbol agama. Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai badan tertinggi umat Hindu di Indonesia sudah mengeluarkan himbauan untuk berkonsultasi dengan mereka apabila ada keinginan atau keraguan dalam menggunakan simbol-simbol agama Hindu.

Sebagai penutup, saya selaku pribadi lebih melihat kasus Dee dan Iwan Fals ini sebagai cermin dari realita di dunia; tiap kepala punya pendapat dan pemikiran sendiri. Itulah mengapa dialog perlu, bukan senjata dan tinju.

---0---

Catatan:

1. Tulisan ini bukanlah bertujuan untuk mengungkit-ungkit siapa yang salah maupun siapa yang benar tapi lebih menitikberatkan pada betapa pentingya ruang dialog dalam banyak aspek kehidupan (termasuk budaya dan agama) mengingat beragamnya tingkat pemahaman dan interpretasi terhadap berbagai macam topik di masyarakat.

2. Pendapat dalam tulisan ini adalah pendapat pribadi, bukan mewakili keseluruhan pemeluk Hindu.

 

Source :   Beranda.net
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster