Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

UPACARA
Menuju Hidup Sukses dengan Banten

BANTEN peras adalah salah satu simbol sakral dalam kehidupan beragama Hindu di Bali. Banten peras itu umumnya menjadi bagian dari banten soroan alit yang berfungsi sebagai banten tataban alit. Banten tataban alit terdiri atas Peras, Penyeneng, Tulung dan Sesayut. Dalam banten tersebut terkandung nilai-nilai universal yang dikemas dalam wujudnya yang sangat lokal Bali. Dalam Lontar Yadnya Prakerti dinyatakan: Peras ngarania prasidha Tri Guna Sakti. Artinya: Peras namanya sukses dengan kekuatan (kesaktian) Tri Guna. Tri Guna Sakti artinya dengan kekuatan atau dengan kemampuan Tri Guna. Kata Sakti dalam bahasa Sansekerta artinya mampu atau kuat. Sedangkan dalam Wrehaspati Tattwa, sakti itu artinya banyak ilmu dan banyak kerja.

Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan, sakti ngarania sarwa jnyana muang sarwa karya. Dari penjelasan singkat lontar Yadnya Prakterti tersebut dapat kita pahami bahwa makna banten peras tersebut secara lebih luas. Makna banten peras tersebut adalah sebagai lambang kesuksesan. Artinya dalam banten peras tersebut terkemas nilai-nilai berupa konsep hidup sukses. Konsep hidup sukses itulah yang ditanamkan ke dalam lubuk hati sanubari umat lewat natab banten peras. Dalam banten peras itu sudah terkemas suatu pernyataan dan permohonan untuk hidup sukses serta konsep untuk mencapainya.

Tri Guna adalah tiga unsur dasar yang berada dalam alam pikiran manusia. Tiga unsur dasar tersebut sebagai dasar membentuk tiga sifat manusia.

Dalam lontar Tattwa Jnyana dinyatakan bahwa kalau Guna Sattwam dan Guna Rajah yang menguasai Citta atau alam pikiran manusia, maka manusia itu akan didorong sangat kuat untuk berniat baik dan juga berbuat baik. Guna Sattwam mendorong orang berniat baik dan Guna Rajah mendorong manusia untuk berbuat baik. Keadaan seperti itulah yang akan membawa Atman masuk sorga. Kalau alam pikiran itu dikuasai oleh Tri Guna secara seimbang, hal itulah yang menyebabkan orang menjelma ke dunia.

Keadaan itulah yang menyebabkan manusia melakukan Subha atau Asubha Karma. Artinya, mereka akan berada pada lingkaran berbuat baik dan buruk silih berganti.

Keadaan itu yang akan menyebabkan manusia akan berputar-putra pada penjelmaan berulang-ulang. Menjelma secara berulang-ulang dalam ajaran Hindu disebut samsara. Itu artinya perjuangan hidup di dunia ini belum berhasil. Hidup yang berhasil atau prasidha adalah hidup dengan menguatkan dominasi Guna Sattwam dan Guna Rajah pada alam pikiran (Citta). Karena dua Guna tersebut akan menyebabkan manusia itu sangat aktif untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan juga mewujudkannya dalam kerja segala ilmu yang mampu diraihnya. Aktif mengembangkan ilmu pengetahuan dan aktif pula mewujudkan ilmu pengetahuan tersebut dalam praktik kehidupan. Itulah konsep hidup sukses, itulah nilai universal yang dikandung dalam banten peras yang wujudnya sangat lokal Bali.

Meskipun kita setiap hari atau setiap ada upacara sangat rajin natab banten peras, kalau berhenti pada membuat dan natab saja maka tidak ada hidup sukses yang kita jumpai. Natab banten peras adalah suatu proses ritual yang sakral. Prosesi itu harus dibarengi dengan keyakinan bahwa hal itu memiliki makna magis religius yang bersifat niskala. Selanjutnya kekuatan magis religius itu harus dilanjutkan dengan upaya sekala dengan menggunakan daya nalar yang serius. Jadi hidup sukses itu haruslah menyatukan proses magis religius yang bersifat niskala dengan daya nalar yang bersifat sekala dengan menonjolkan akal budhi.

Upaya selanjutnya untuk membangun hidup sukses adalah dengan cara membangun kekuatan Guna Sattwam dan Guna Rajah dalam diri agar mampu menguasai dan mengendalikan alam pikiran. Dalam Susastra Hindu banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan untuk menguatkan dominasi Guna Sattwam dan Rajah tersebut. Misalnya memilih makanan yang Satvika yaitu makanan yang berkualitas untuk menguatkan rohani. Mencari makanan dengan cara Guna Dharma. Artinya, bekerja sesuai dengan profesi. Mendapatkan makanan dengan cara yang jahat akan melemahkan kekuatan Sattwam dan Rajah. Melakukan pemujaan pada Tuhan setiap Raditya Dina untuk menguatkan Sattwam.

Madya Dina untuk mengarahkan Guna Rajah dan Sandhya Dina untuk meredam Guna Tamah. Menambatkan pikiran untuk mengingat mantram-mantram suci dan nama-nama Tuhan secara teratur dan konsisten. Melatih lidah untuk tidak mengucapkan ujar ahala, mithhya, pisuna dan aperggas. Artinya, hendaknya dari lidah kita jangan ada keluar kata-kata jahat, bohong, fitnah dan kasar. Jadinya dari natab banten peras itu kita sudah dapatkan konsep untuk membangun hidup sukses.

Source :   Balipost
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster