Saying Shoulin teamed trend continued at replica handbags the waist amazing four or five years, but because it is so there is a range of children, so that designers have been caught at this point would not let go, with leather civilization Coach replica watches,this season we will be focusing its attention at Fashion Week, not knowing that this little saddle bag was actually doing so exquisite, compact design with rolex replica a sophisticated dual-sprouting moment your heart!
Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

WACANA
Perjalanan ke Pusat-pusat Air Kesadaran

KEMALAMAN di tengah hutan, tanpa hasil buruan, Nisada alias Lubdhaka akhirnya memutuskan memanjat pohon maja yang dahan-dahannya menaungi telaga berair bening. Panah serta busurnya dibawa serta naik, lalu manusia pemburu ini pun duduk di dahan yang telah condong, sembari siaga memanah binatang-binatang buruan datang meminum air.

Lama ditunggu, tiada seekor binatang juga datang. Rasa kantuk tiba. Jerih terjatuh manakala tertidur lalu dimangsa badak, buaya, dan singa, Nisada pun mencari penghilang kantuk. Dia petik-petik daun maja, tiada henti, menjatuhkannya ke tengah air telaga nan dalam. Tanpa dinyana di tengah telaga ada Siwalingga bukan buatan manusia. Kesiwalingga itulah daun-daun maja petikan Nisada jatuh, tiada disengaja. Dalam keadaan demikian tetap tiada seekor binatang buruan pun dilihatnya datang.

Dalam visi Mpu Tanakung yang menggubah kisah Nisada itu ke dalam karya puitis kakawin Siwaratrikalpa, si manusia pemburu (yang tiada terelakkan pastilah menjadi pembunuh) ini sungguh tiada pernah berbuat punya, yasa, dharma, serta brata. Perbuatannya sungguh amat kotor nista (kasmala dahat). Toh, pada babakan kisah akhirnya kelak, atmanya bisa masuk menyatu ke alam mahatinggi, Paramasiwa. Itu berkat keutamaan brata Siwaratri sebagai penghilang segenap dusta dan durhaka (saka ri mahaprabhawa nikanang brata panyalimur kadusta kuhaka).

Adakah kehadiran telaga berair bening nan dalam di sini sebagai kebetulan belaka? Dalam teks-teks Siwaistis yang diselamatkan dan dialirkan terus di Bali hingga kini, air dalam segenap bentuk dan wadagnya mendapat perenungan sedemikian mendalam, memang, selain gunung. Air muncul atau dimunculkan sebagai simbolik puitis untuk melukiskan Dia Yang Mahasuci. Teks Siwaistis kakawin Arjunawiwaha gubahan Mpu Kanwa, misalkan, demikian puitis membentangkan spiritualitas Dia Yang Mahasuci Mahadamai dalam simbolik bayangan rembulan di tempayan berisi air. Demikian, dalam tiap tempayan yang berisi air jernih bening dipastikan bayangan rembulan menampak jelas benderang. Begitulah Dia Yang Mahasucimurni, bakal dihayati dan dirasakan nyata ada-Nya dalam tiap insan yang teguh-kukuh melakonkan yoga senantiasa (iwamangkana rakwa kiteng kadadin/ringangambeki yoga kiteng sakala).

Dalam perenungan spiritual, air memang bukan hanya mensucikan, melebur segala mala maupun kasmala menjadi nirmala. Air juga adalah kesucian itu sendiri. Karena itu, hanya dan hanya kesucimurnian itulah yang dapat, mampu, dan berhak melebur-satu-padu dengan Dia Yang Mahasucimurni. Di titik itu Bhuwanakosa mencitrakan ibarat butir-butir air hujan yang jernih-jernih dari langit jatuh menyatu dengan air samudra yang mahaluas. Lebur, luluh, menyatu. Setara dengan kebeningan butir-butir air hujan, kecemerlangan bening butir-butir embun di pucuk ilalang ataupun rerumputan pun digunakan dalam kakawin Dharma sunya sebagai metafora melukiskan Paramasiwa yang bersemayam di pusat padma hati tiap insan. Di sana Dia Yang Mahasuci melihat tapi tidak terlihat. Dia murni tidak terpengaruh oleh berbagai ragam kenikmatan yang tergelar di panggung tubuh raga manusia, tiada ubahnya bunga padma yang hidup dan dihidupi air namun tiada terbasahi air. Kecemerlangan kebeningan butir-butir embun itulah Paramasiswa, dan butir-butir embun itulah atma yang mendenyutkan hidup pada insan manusia. ....Dia Yang Melihat lalu muncul bagaikan embun di pucuk ilalang/gilang cemerlang seperti matahari nan suci bersinar, Dia-lah jiwa segenap jagat/Atma jualah Dia yang perkasa, Ia yang menjadikan muncul kata dan pikiran/ ...., disurat Dharma Sunya.

Maka, ketika Bhagawan Wararuci lewat Sarasamuccaya memberi pilihan jalan spiritual dalam bentuk tirtayatra, perjalanan menuju pusat-pusat air, sebagai jalan pensucian batin rohani dengan pahala lebih utama tinimbang segala bentuk kurban persembahan yajnya lainnya, adakah yang dimaksudkan sebatas sebagai perjalanan fisik raga belaka? Adakah yang dimaksudkan dengan tirtayatra sebagai mahas agelem atirta itu cukup sebatas pergi berkeliling ke pusat-pusat air (tirta), atau seperti yang diwujudkan belakangan ini dengan mengunjungi tempat-tempat suci hingga ke India sana?

Tampaknya tidak cukup hanya dengan itu. Perjalanan mengunjungi pusat-pusat air suci itu mestilah melibatkan pengalaman kerohanian, sehingga sekaligus juga menjernihkan hamparan pikiran, membeningkan rasa hati, hingga menyucikan batin rohani. Di sana sumber-sumber air kosmik mesti direfleksikan ke dalam pusat-pusat air dalam diri. Teks Siwastis Jnanasiddhanta memberi tuntutan pasti perihal pusat-pusat persemayaman Sang Hyang Tirta dalam semesta diri masing-masing.

Manakala dalam puja ada sungai-sungai pusat-pusat air yang disucikan dalam kosmis semesta raya dari Sungai (Tirta) Narmada, Sindu, Gangga, dan Saraswati hingga Airawati, Nadi srestha, serta Nadi-tirta) Narmada, Sindu, Gangga, dan Saraswati hingga Airawati, Nadi-srestha, serta Nadi-tirtha, lantas dikenal pula pada asin (keringat), segara/susu (sumsum), asam (daging), minyak/santan/mentega jernih (otak), hingga cairan perasaan tebu (darah), alkohol (air seni), gula/endapan tebu digiling (lidah/air liur), maka Jananasiddhanta menuntun penempuh jalan pendaki rohani agar menyusuri sungai-sungai pusat-pusat air dalam jagat diri itu. Di sanalah air dipadankan dalam badan, masing-amsing berupa : manas (batin) sebagai air suci Sungai Narmada, buddhi sebagai Sungai Sindu, di dasar tenggorokan Sungai Gangga, dan lidah merupakan Sungai Saraswati. Lantas Sungai Airawati disepadankan dalam badan dengan hidung, mata sebagai Nadi-srestha, lalu Siwa-prstha sebagai sungai dalam telinga. Semua itu dalam Jnanasiddhanta dinamakan Sapta Tirta, atau Sapta-arnawa versi Tattwa-jnana.

Perjalanan ke luar diri, di dalam kosmis semesta raya, karenanya, tidak cukup manakala tidak memantul berefleksi ke dalam jagat diri yang utuh. Dalam kerangka itulah perjalanan menuju pusat-pusat air lewat momentum berbarengan beramai-ramai sosio-religius, seperti melasti, nyegara-gunung, Banyupinaruh, tirtayatra, lebih-lebih saat Siwaratri sebagai malam suntuk kesadaran pemujaan Hyang Siwa bisa dipahami sebagai latihan awal membiasakan tubuh raga fisik ini mencari, menuju, lalu berada mencerap dalam radius pusat-pusat kesucian itu.

Toh, Bhagawan Wararuci tetap menilai itu saja tidak cukup. Dalam perilaku sehari-hari berinteraksi dengan manusia lain tetap saja diingatkan agar senantiasa mengupayakan hati tidak kerasukan amarah, teguh pada kebenaran, kukuh pada brata termasuk janji dan prinsip diri. Tiada kalah penting lagi: penuh kasih kepada segenap mahluk (masih ring sarwa bhuta), memandang dan mengapresiasi tiada beda segenap mahluk itu dengan dirinya. Dia yang demikian itu perilakunya bakal memperoleh pahala tirtayatra, surat sang Bhagawan.

Itu sebab, tirtayatra paling utama dalam visi Sarasamuscaya mestilah dilakonkan nyata kepada sang daridra (wenang ulahkena ring daridra), yakni sesama mahluk yang tiada berdaya, dina, miskin, melarat, merana, dst. Si daridra itu tiada ubahnya dengan manusia sudah mati meskipun dia masih hidup. Mengangkat harkat sesama dari lembah daridra ke dataran kemanusiaan berbudi berpencerahan itulah tirtayatra yang mungkin lebih diperlukan kini di tengah pusaran zaman industri yang tiada luput memelantingkan manusia-manusia ke ngarai kekerdilan rohani, bahkan juga ketiadaberdayaan ekonomi. Di sana Kesadaran (tutur) mesti terus diputar sehingga terus terjaga (jagra), seperti Lubdhaka yang tiada henti memetik-metik dan pohon maja. Di titik itu manusia sebagai bintang ekonomi mesti berhenti berburu ekonomi, sebaliknya bertransformasi menjadi pemburu Kesadaran Mahatinggi, Paramasiswa.

I Made Prabaswara

Source :   Balipost 26/1/03
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster