Hindu-Indonesia.Com
 | LinksUcapan Terima Kasih   |  Opini Anda  |  Lihat Tamu  | home |
e
Tattwa - Filsafat
Susila - Etika
Upacara - Ritual
Tirtayatra
Wacana
Artikel
Info Buku Hindu
Adat & Budaya
Warta Umat
Diskusi tentang Banten
Copyright @ 1998-2009

UPACARA
Memaknai Ritual Tumpek Kandang

Sabtu (28/5/2005) mendatang, umat Hindu di Bali memperingati Rerahinan Tumpek Kandang. Rerahinan yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye itu sejatinya memiliki makna untuk mengembangkan kasih sayang kepada semua ciptaan Tuhan, khususnya satwa (hewan). Melalui ritual Tumpek Kandang, umat diharapkan mampu mengembangkan sektor peternakan untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian. Lalu, bagaimana umat mestinya memaknai Tumpek Kandang?

Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan Saniscara Kliwon Uye pinaka prakertining sarwa sato. Artinya, hari itu hendaknya dijadikan tonggak untuk melestarikan semua jenis hewan.

Perayaan Tumpek Kandang bukanlah prosesi ritual untuk menyembah hewan. Tumpek Kandang merupakan perayaan keagamaan untuk memuja Siwa Pasupati, Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menciptakan satwa.

Pengurus Parisada Bali Gusti Ngurah Sudiana mengatakan pada saat Tumpek Kandang, hewan khususnya ternak dibuatkan otonan yang pada intinya umat memuja Sang Hyang Siwa Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai rajanya semua makhluk hidup. Dalam prosesi ritual itu umat memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi agar ternak peliharaannya diberkati kerahayuan. Tetapi, secara filsafati perayaan Tumpek Uye itu mengandung makna bahwa umat hendaknya mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Dalam konteks ekonomi, prosesi ritual itu mengamanatkan sektor pertanian dalam arti luas (peternakan) bisa dikembangkan untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian masyarakat.

Dikatakannya, dalam Sarasamuscaya ada disebutkan Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana, yang artinya jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Itu artinya, umat mesti mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk. Khusus pada perayaan Tumpek Kandang, umat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa Pasupati agar hewan peliharaannya diberkati kerahayuan. Sebab, hewan sangat berguna bagi kehidupan manusia. Misalnya, sapi atau kerbau bagi para petani memiliki peran yang sangat besar dalam membantu aktivitas agrarisnya. Sapi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain dipakai membajak sawah, sapi juga membantu petani untuk meningkatkan kesejahteraan. Harga jualnya cukup menggiurkan, sehingga bisa dijadikan modal oleh petani untuk meningkatkan pendidikan bagi putra-putrinya, dan membiayai keperluan hidup yang lain.

Demikian pula ternak yang lain seperti babi, kambing, ayam, itik. Bahkan, babi bagi masyarakat Hindu di Bali sering dijadikan semacam tabungan atau celengan. Ketika umat menyelenggarakan hajatan, babi tersebut dipotong atau jika kepepet uang, ternak yang sering disebut ubuhan tatakan banyu tersebut bisa dijual.

Sebagai hewan yang ditakdirkan sebagai ubuan tunu, ayam, itik, babi dan sebagainya sering dijadikan sumber protein untuk menunjang kehidupan manusia. Untuk kepentingan itu hewan ternak memang terus dikembangkan.

Tetapi, khusus hewan-hewan yang lain, terutama satwa langka, umat mesti melestarikannya seperti penyu hijau, burung jalak Bali, menjangan, kera dan sebagainya. Hewan-hewan langka tersebut mesti dijaga agar tidak sampai mengalami kepunahan.

Untuk menjaga kepunahan satwa langka, di Bali dikaitkan dengan mitologi. Hewan-hewan tertentu dikatakan sebagai duwe Ida Batara (milik Tuhan), seperti sapi putih duwe, bojog (kera) duwe, lelawah (kelelawar) duwe, lelipi (ular) duwe dan sebagainya. Lewat mitologi seperti itu sesungguhnya umat diajak untuk menajaga dan melestarikan satwa lewat konsep religi. Mitologi seperti itu sepertinya jauh lebih kuat daripada seruan atau ajakan untuk melestarikan satwa langka, ujar Gusti Ngurah Sudiana yang dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar ini.

Dikatakannya, dalam konsep Hindu tidak ada satu benda pun yang tanpa kekuatan Tuhan. Ada jiwatman di dalamnya. Oleh karena itu, konsep pengembangan kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan Tuhan mesti terus dilakukan. Melalui perayaan Tumpek Kandang, umat hendaknya mengembangkan ternak dengan baik untuk kepentingan hidup dan menjaga dan melestarikan satwa langka agar tidak sampai punah.

Hal yang sama dikatakan mantan Sekjen Parisada Pusat Ida Bagus Gunadha. Melalui perayaan Tumpek Kandang umat Hindu dituntun untuk melestarikan satwa, dalam hal ini hewan peliharaan. Kata IB Gunada yang Rektor Universitas Hindu Indonesia (Unhi), dalam lontar Boma Kawuya jelas disebutkan bahwa hutan sebagai sumber kehidupan dapat lestari karena dijaga oleh hewan (singa). Sebaliknya, hewan bisa hidup dan berkembang karena hutannya juga lestari. Itu artinya, dalam konsep Tumpek Kandang, umat jika ingin memperoleh kesejahteraan dari hewan ternak, mereka mesti memilihara dan mengembangkannya dengan baik. Demikian pula jika ingin ekuilibrium atau keseimbangan kehidupan tetap ada, umat manusia mesti menjaga kelestarian alam, termasuk di dalamnya berbagai jenis satwa. Sebab, berbagai jenis binatang yang diciptakan Tuhan itu memiliki fungsi masing-masing. Sebut misalnya, binatang lemah seperti cacing. Binatang tersebut sangat besar perannya untuk menyuburkan tanah. Tanah subur otomatis akan membuat tumbuh-tumbuhan hidup subur. Jadi, peran tumbuh-tumbuhan juga besar bagi kehidupan hewan dan manusia.

Sebagai hewan ternak, sapi dan kerbau sangat membantu manusia dalam kehidupan agraris -- aktivitas bertani -- di samping untuk meningkatkan kesejahteraan. Demikian pula hewan ternak seperti babi (celeng), kambing, ayam, bebek dan unggas yang lain, amat berguna bagi kesejahteraan manusia. Selain dijadikan sumber protein, hewan ternak memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Ternak bisa dikembangkan untuk dijual. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.

Lanjut IB Gunadha, di Bali dikenal upakara Wana Kertih yaitu upakara yang bertujuan untuk memohon ke hadapan Tuhan agar hutan atau lingkungan alam tetap lestari. Maka, dalam upakara itu sering diikuti dengan pelepasan binatang ke tengah hutan.

Keberadaan hutan sangat penting bagi kehidupan. Ia merupakan sumber kesejahteraan umat manusia. Selain berfungsi sebagai peresap air hujan, ia menjadi sumber kehidupan bagi berbagai satwa. Hutan sering dianggap masih lestari, jika di dalamnya masih terdapat kera hitam atau sering disebut lutung. Jika hewan itu sampai punah, berarti keseimbangannya sudah terganggu.

Jadi, lewat perayaan Tumpek Kandang, umat diingatkan untuk menjaga kelestarian alam, terutama satwa. Lewat perayaan ritual itu umat sesungguhnya mengaturkan rasa suksma manah, karena telah diciptakan berbagai satwa demi terjadinya keseimbangan hidup. Utamanya, sangat membantu meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Karena itu, saat Tumpek Kandang, hewan ternak diperlakukan seperti manusia ketika otonan. Hewan dimandikan, kemudian diupacarai, ujarnya. (lun)

Source :   Balipost
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
Pura Jababotabek
Aditya Jaya Rawamangun
Kertajaya  Tangerang
Pura Agung Tirtha Bhuana Bekasi
Pura Eka Wira Anantha
Pura Widya Dharma Cibubur
.
Tuntunan Dasar Agama Hindu
Am I a Hindu?
Renungan
Tata Susila Hindu
Kisah Ambarisa
.
Bhagavan Dwidja
Ida Bhawati Putu Setia
Mangku Pastika
Dharmayasa
Putu Setia
Madra Suta
Anatta Gottama
.
Pemuda/Mahasiswa
Bimas Hindu dan Budha
Info Parisada

www.hindu-indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster