Hindu-Indonesia.Com
Ucapan Terima Kasih   |  Opini Anda Lihat Tamu  | home |
::::

logo.jpg (26320 bytes)
Parisada

  Lahirnya Parisada
 
 

Pengertian dan Latar Belakang Lahirnya Parisada
Parisada adalah Majelis Wipra (Brahmana ahli, cendekiawan) yang berfungsi semacam Badan Legislatif, memegang peranan penting di dalam memecahkan berbagai permasalahan keagamaan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Kata Parisada tersebut identik pengertiannya dengan duduk melingkar (untuk bersidang). Parisada terdiri dari Brahmana ahli berdasarkan ketentuan yang diatur di dalam kitab suci Manawa Dharma Sastra XII.110-114.

Parisada didirikan pada tanggal 23 Februari 1959 dilandasi oleh suatu keinginan Umat Hindu untuk menghimpun diri dalam sebuah organisasi yang memiliki integritas. Pada tahun lima puluhan merupakan fase penting perjuangan Umat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali mengingat pengakuan pemerintah terhadap kehadiran Agama Hindu di Indonesia terlambat datangnya.

Keinginan untuk membentuk Dewan Agama Hindu Bali saat itu terus muncul dan berkembang. Dengan timbulnya Undang-Undang Swapraja di seluruh Indonesia dan dibentuknya Propinsi Administratif Nusa Tenggara menjadi tiga propinsi otonom (Propinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur) keinginan tersebut semakin kuat.

Keinginan untuk membentuk Badan Keagamaan diharapkan dapat menggantikan peranan raja-raja di Bali yang sejak tahun 1957 tidak ada lagi dan kekuasaannya yang diganti oleh para bupati di tiap-tiap daerah bagian tidak termasuk menggantikan peranan dibidang keagamaan.

Ketidak teraturan serta ketidaktertiban dalam hal pelaksanaan kegiatan agama mendorong para Pemuda Hindu saat itu untuk segera membentuk wadah guna membina, menata dan mengayomi pelaksanaan kegiatan keagamaan dan kehidupan beragama.

Pada tahun 1961 Parisada mulai membangun lembaga Asrama Pangadyayaan (tempat mempelajari Dharma) yang diberi nama Institut Hindu Dharma (IHD), kini berlokasi di Tembau, Kabupaten Badung. Tamatan Institut Hindu Dharma ini akhirnya mendapakan posisi sebagai Rohaniwan pada Rohani Daerah militer di seluruh Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari peran aktif Pedanda Made Kemenuh dan Pedanda Gede Wayan Sidemen saat itu.

Dengan tersebarnya Umat Hindu secara sporadis di seluruh Indonesia maka Parisada terus mendapat tantangan untuk dapat menyatukan visi dalam rangka mengembangkan Umat Hindu di seluruh Indonesia. Satu langkah yang dibuat Parisada adalah dengan membuat model tempat Ibadah (Pura) untuk luar Bali dan Lombok. Maka dibuatlah Pura Jagatnata di tengah-tengah kota Denpasar sebagai model tempat persembahyangan. Pura yang cukup sederhana (tidak terlalu banyak bangunan) akhirnya benar-benar menjadi contoh bangunan pura bagi masyarakat Hindu di luar Bali.

Dalam rangka memperlancar roda organisasi, khususnya bidang administrasi, Sekretariat Parisada pertama masih menumpang di Fakultas Sastra Universitas Airlangga (kini Udayana), kemudian di lokasi Pura Jagatnata Denpasar dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kemudian atas usaha para pengurus, Parisada dapat membeli tanah untuk dibangun Sekretariat Parisada di Jalan Ratna Tatasan, Denpasar yang akhirnya menjadi kantor pusat Parisada Hindu Dharma Indonesia. Tetapi sesuai dengan keputusan pada Maha Sabha tahun 1980 ditetapkan bahwa di Ibu Kota Negara (di Jakarta) juga ada Perwakilan Kantor Pusat Parisada dengan maksud supaya memudahkan hubungan dengan Pemerintah. Selanjutnya sejak tahun 1991 Parisada Pusat berkedudukan di Jakarta, pertama menumpang di daerah Pondok Bambu Jakarta Timur, kemudian di jalan Anggrek Nelly Murni Slipi, Jakarta Barat sampai sekarang.

> Latar Belakang Parisada
> Lahirnya Piagam Parisada
> Lahirnya Piagam Campuhan
> Lambang Parisada Hindu Dharma
> Perubahan Nama Parisada
> Kepengurusan Parisada

 
 Source :   Parisada
 
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
:::::  

Copyright © 2003 Parisada All Rights Reserved.