ban-radit1.gif (201287 bytes)


Berbagai Jenis Puasa dan Manfaatnya

Oleh Agus S. Mantik
Para cerdik pandai mengakui bahwa pencernaan tidak banyak bedanya dengan pembakaran (combustion) pada mesin mobil. Dalam pencernaanlah makanan diubah menjadi tenaga (yang hidup, prana). Dan seperti mesin mobil pula, pembakaran yang dihasilkan bisa menghasilkan tenaga yang prima, akan tetapi bisa juga terjadi pembakaran yang tidak sempurna, sehingga tidak sepenuhnya menghasilkan tenaga yang prima. Dari Swami Sivananda sampai kepada Deepak Chopra, pencernaan ini dibahas secara mendalam. Tidak semua makanan yang masuk ke dalam perut kita akan menghasilkan sari makanan yang berguna (ojas), akan tetapi sebagian juga menghasilkan ampas (amas) yang harus dikeluarkan dari tubuh kalau kita menginginkan tetap sehat.

Dalam Ayurveda malah dikenal metoda pembersihan (pancakarma) yang hampir keseluruhannya berhubungan dengan perut, seperti emesis (obat membikin muntah), purgasi (urus-urus, pengosongan perut), enema (memasukkan cairan melalui dubur). Malah telah dibuktikan bahwa hanya dengan metoda pembersihan ini saja berbagai (gejala) penyakit bisa disembuhkan. Perut memang tidak ubahnya bagaikan mesin, tetapi berlainan dengan mesin, karena perut kita bekerja terus selama kita masih hidup. Mengingat hal ini para rsi dan balean menganjurkan, bahwa sekali waktu perut itu seyogyanya diistirahatkan, memberinya waktu untuk rehat dan cara yag dipergunakan adalah dengan puasa. Puasa dengan demikian bisa dibedakan sebagai suatu cara untuk menjaga kesehatan saja dan berikutnya sesuatu yang ada hubungannya dengan vrata (mebrata, bhs Bali). Untuk hal yang pertama dalam Ayurveda dianjurkan demikian banyaknya cara, mulai dari puasa makanan yang keras (dan hanya minum air atau juice saja), sampai dengan puasa beberapa jam, bebarapa hari dan seterusnya.

Puasa (upavasa) dalam hubunganya dengan vrata adalah disiplin diri yang dilakukan untuk tujuan rohani. Ini dilakukan dalam hubungannya dengan kemauan alamiah dari tubuh dan gangguan dunia luar. Dia berisi latihan yang bersifat ke dalam, pemujaan yang dilakukan dalam hati, analisa diri dan tindakan luar seperti menjauhi sex, menyakiti diri dan tentu saja puasa.

Kekuatan dikembangkan oleh kekuatan yang menahan. Kekuatan yang diperoleh dengan menahan keinginan atau godaan membantu kita untuk mengatasi yang berikutnya. Dengan mengesampingkan disiplin adalah berarti mengosongkan hidup ini dari hal yang paling penting. Tidak ada yang lebih tenang daripada tidak tergoyahkan oleh gerakan daging yang mengganggu. Pelepasan, nyasa dianggap lebih tinggi dari vrata dan bahkan tapa. Yang terakhir adalah jalan ke arah yang pertama. Tapa, vrata, apalagi hanya puasa saja bukanlah akhir dari semuanya; artinya dia bukanlah hal yang selamanya harus dijalankan demikian. Dia memiliki akhir berupa hasil maupun (sebaliknya) kesia-siaan. Sebab kalau puasa misalnya dianggap sebagai jalan hidup yang selalu harus demikian maka sama juga dengan kita menganggap kodok, ikan atau belut yang sejak lahir sampai mati ada di sungai Gangga semuanya sebagai yogi.

Ada juga puasa diam (mauna, monabrata, bhs Bali) yang menuntun jiwa ke dalam samadhi. Dengan disiplin diam, kita menghilangkan kelebihan yang mengalir dari lidah, umpatan, fitnah, bujukan. Kita tidak bisa mendengar suara Tuhan apabila pikiran kita diboroskan, diberikan kegiatan yang menggelisahkan dan dipenuhi dari luar dan dari dalam dengan keributan. Kemajuan dalam kebisuan adalah kemajuan dalam realisasi jiwa. Ketika kebisuan turun kepada jiwa, kegiatannya disatukan dengan kekuatan kreatif yang bisu dari Tuhan (Radhakrishnan).

Dalam berbagai susastra diceritakan mengenai berbagai macam puasa dengan berbagai manfaatnya. Sivaratri (malam Shiva) dikenal bukan saja di India akan tetapi juga di bumi Nusantara. Laku-nya sebagian besar pada malam hari, yang merupakan penghormatan kepada Bhatara Shiva di mana dinyatakan bahwa Dia mengawini Parvati pada hari itu. Di samping puasa, para penyembah diwajibkan untuk tidak tidur sepanjang malam, di mana mereka biasanya mengisi waktu dengan terus melantunkan mantra om namah shivaya, menyembah Shiva Lingam dan kemudian memandikannya setiap tiga jam dengan susu, paneer (tahu dari susu), madu, kembang dan lainnya. Persembahan daun bael diwajibkan (daun dari pohon dimana Lubdaka berada; daun-daun itu sepanjang malam dijatuhkan oleh Lubdaka dan menimpa arca Shiva). Mereka juga menyanyikan hymne penghormatan kepada Bhatara Shiva seperti Shiva Mahima Stotra atau Shiva Tandava Stotra.

Yang lain dan yang sangat menonjol bagi orang Hindu etnis Bali adalah brata hari raya Nyepi. Rupanya hari raya ini umurnya jauh melampaui tradisi Hindu/Buddha yang masuk ke bumi Nusantara. Dia merupakan tradisi purba yang sudah ada sebelumnya dan kemudian diteruskan dan dilestarikan dalam kebudayaan Hindu. Di mana hari raya Hindu biasanya diisi dengan kegembiraan seperti layaknya festival atau keramaian (bahkan di Majapahit sendiri demikian), tapi saat Nyepi sebaliknya dihormati dengan amati karya, amati geni, amati lelanguan.

Puasa lainnya yang dilaksanakan di India adalah Pradosha Vrata. Dalam brata ini, dia yang melaksanakannya haruslah puasa pada siang harinya. Dan tetap siaga pada malam harinya sesudah selesai puasa. Mandi sejam sebelum matahari terbenam. Para penyembah pertama-tama menjalankan sembah permulaan kepada Batara Shiwa, bersama semua keluarga dekat-Nya, yaitu Parvati, Ganesha, Skanda (Kartikeya) dan (Lembu) Nandi. Setelah pemujaan kepada Ganesha, Bhatara Shiwa disembah dalam kalasha khusus (jun, bhs Bali) yang ditempatkan pada mandala sama sisi dengan bunga padma dilukis di dalamnya dan ditaburi rumput dharba. Setelah upacara selesai, kisah mengenai Pradosha dibacakan dan didengarkan oleh para penyembah, kemudian dilanjutkan dengan pengucapan Mahamrtyunjaya Mantra sebanyak 108 kali. Pada akhirnya air suci dalam kalasha diambil, abu suci (vibhuti) ditempelkan pada kening dan air bekas mencuci pratima diminum. Hadiah berupa sebuah pot, seperangkat busana dan pratima Batara Shiwa diberikan kepada seorang brahmana sebagai penutup upacara. Puasa ekadasi (hari/tanggal sebelas) sudah populer di sekitar kita, karena dia mungkin merupakan puasa yang paling ‘ringan.’ Tanggal sebelas kalender bulan (lunar) hanya terjadi dua kali dalam sebulan, yaitu tanggal sebelas pada bulan terang dan pada bulan gelap. Jadi berlainan misalnya dengn puasa Senin-Kamis yang berarti 8 – 10 kali dalam sebulan. Dan kalau kita mengambil puasa ‘yang biasa’ saja maka kita bisa saja mulai puasa sejak dini hari sampai dengan jam 18.00 sore harinya. Akan tetapi untuk mengambil ukuran yang umum di Bali, kita seyogyanya mulai berhenti menyantap makanan dan minuman sejak jam 18.00 sore dan sesudah itu baru makan-minum keesokan harinya persis menjelang jam 18.00. Jadi genap 24 jam.

Dalam tradisi Waisnawa, setiap bulan dalam menjalankan puasa ekadasi memiliki makna khusus dan mereka yang menjalankannya juga dituntut utuk menjalankan segala sesuatunya dengan semestinya.

Satu lagi puasa yang populer di India Utara adalah Satya Narayana Vrata. Diperlukan waktu sekitar 3 jam untuk menyelesaikan semua upacara dan biasanya vrata ini dilaksanakan pada hari purnama, khususnya bulan Kartika, Sravana dan Chaitra dan tentu saja hari Shankranti (mulainya matahari ‘bergerak’ baik ke selatan maupun ke utara). Dia juga bisa dilaksanakan pada hari hari bulan baru (tanggal muda).

Asal muasal vrata ini dimulai ketika Rsi Narada mengunjungi bumi, di mana beliau melihat penderitaan umat manusia yang tiada habisnya dan putus asa karena tidak menemukan pemecahannya. Karena itulah beliau mendekati Batara Narayana dan menceriterakan kesedihannya. Narayana bersabda kepada Narada: ”Wahai Rsi mulia, mintalah umat untuk melaksanakan Satya Nrayana Vrata pada sore hari pada hari shankranti atau purnama. Anjurkanlah mereka untuk mendengarkan kisah (Katha) dari Satya Narayana. Semua kesulitan akan berakhir dan tidak perlu keraguan atas hal ini.”

Karena itulah Narada kembali ke bumi dan mengkotbahkan keagungan Satya Narayana Vrata. Mereka diharapkan untuk puasa pada siang harinya dan ternyata mereka akhirnya memperoleh apa yang mereka inginkan. Semuanya menjadi bahagia dan makmur.

Pelaksanaan vrata ini tidak memerlukan biaya banyak. Anda hanya perlu memberikan daksina ala kadarnya kepada pendeta yang membacakan lima kisah yang berhubungan dengan vrata ini yaitu ceritera Rsi Narada di atas, Kisah Mengenai Seorang Brahmana Miskin, Kisah Mengenai Tukang Kayu, Kisah Mengenai Seorang Saudagar dan terakhir Kisah Mengenai Prabhu Tungadhwaja.Semua kisah ini menjelaskan mengenai keagungan dan murah hati Batara Narayana. Mereka yang mendengarkan kisah ini dengan penuh bhakti dan keimanan akan memperoleh manfaat (rohani dan kebendaan) yang luar biasa. Dan prasadam (surudan) yang biasanya disajikan tidak perlu mahal; sedikit buah dan kue sudah cukup.

Copyright: Majalah Raditya


Cetak