A big name from patek philippe replica Hermes, who has apparent the rolex submariner replica incident, offered to swiss replica watches aftermath a backpack that is omega replica called afterwards Jane Birkin. The rolex replica celebrity is blessed to breitling replica account her ideal bag design. This is ultimately the bearing of omega replica Hermes Birkin handbags. Although the replica watches uk accomplished abstraction of rolex replica the Birkin is taken afterwards the actress, it is absorbing to rolex replica agenda that she has been answerable for the aboriginal band of swiss replica watches bags. You can aswell be like this celebrity and access your own band of rolex replica Birkin bags. The alone botheration is that you are not alive just to absorb all of your bacon on a handbag.

Majalah Hindu Raditya
OM SWASTYASTU. Selamat Datang di Web Majalah Hindu RADITYA dan sekaligus Website PUTU SETIA, pendiri majalah ini.
Left Menu
RADITYA 117
Artikel
Lontar Versus Weda dari Bali



Made Aripta Wibawa

Dalam era posmo yang kental dengan nuansa intelektualnya masih saja ada orang yang sengaja berdalih mengajegkan nama ‘Hindu Bali’ sebagai fokus yang ingin dibuatkan perdebatan. Dari kata Hindu Bali, menurut hemat saya bisa mengandung dua pengertian. Orang Hindu yang ada di Bali atau orang Bali yang beragama Hindu. Meskipun mereka berbeda etnis dan daerah: Dayak, Toraja, Jawa dan sebagainya yang tinggal di Bali dan beragama Hindu tidak termasuk Hindu Bali, sebagaimana nuansa yang dimaksudkan karena memang ia tidak berasal dari Bali dan bukan etnis Bali.

Lebih lanjut, Hindu Bali mana yang dimaksudkan: Bali Aga, Bali Majapahit. Bali Pertengahan atau Bali Modern? Walaupun beragama Hindu kalau bukan orang Bali, tidak termasuk Hindu Bali. Memang sengaja di buat ‘trade mark’ Hindu Bali yang eksklusif dan sentris. Untuk membuat agar beda dibuatlah identitas-identitas yang spesifik dengan materi yang memang beda, antara lain rujukan Veda yang disarikan. Kiranya sangat aneh, menyebut Weda Sruti dan Weda Smrti Darsana, Tantra dan kearifan lokal sebagai kitab suci yang disarikan dalam bentuk lontar. Sejauh ini yang saya tahu belum pernah ada Weda Sruti (Catur Veda), dan Smerti itu ditulis apalagi disarikan dalam bentuk lontar. Oleh kelompok yang anti gerakan vedanta dan sampradaya, yang dimaksudkan Catur Veda adalah Catur Weda Sirah di Bali (sesuai dengan namanya beberapa kumpulan mantra-mantra yang yang dianggap penting dalam Catur Veda ditulis) – menjadilah namanya Catur Veda Sirah.

Menurut catatan Van der Tuuk (1929), semua naskah lontar dibagi dalam enam bagian, khususnya dalam Kelompok Veda (yang dimaksudkan Catur Veda), sedangkan menurut isi lontar tidak lain adalah Nârâyanatharvasiropanisad:, yaitu sejenis kitab Upanisad, bukan kitab Catur Veda. Demikian juga yang diberi nama ‘Weda Parikrama’ tidak tergolong Weda, yang isinya hanya himpunan ayat-ayat mantra dan stotra yang terdapat dalam kesusastraan Sanskerta, di samping itu terjemahannya di sana-sini masih ada terdapat kesalahan yang sangat prinsipil. Buku inipun memuat kitab Bhagawad Gita sehingga Weda Parikrama yang dimaksudkan oleh buku itu sangat luas sekali artinya ((Puja, 7). Hampir sejak dahulu lontar dijadikan sebagai kitab suci yang dihaturkan banten (sesajen) dan disungsung, tapi tidak untuk dibaca, ditelaah dan dipahami apa yang tersirat dan tersurat di dalamnya. Lebih banyak disungsung sebagai layaknya kitab suci, padahal banyak lontar yang nyeleneh. Sebetulnya apa sih lontar itu? Barang sucikah atau malah sebaliknya?

Lontar menjadi barang ‘tetamian’ – semacam barang yang disungsung dan dipuja secara turun temurun. Padahal belum tahu apa isinya. Banyak lontar yang disungsung secara turun temurun di kawitannya, malah yang disungsung Lontar Pengayam-ayam (Lontar Binatang Ayam). Termasuk jenis dan kategori mana Lontar Pengayam-ayam dan Lontar Pengiwa dalam kitab Sruthi dan Smerti? Lontar sangat beda dengan Catur Veda, dari segi bentuk, isi dan fungsinya. Jadi, lontar makhluk apakah itu? Lontar itu ya daun lontar yang ditulis oleh nenek moyang kita sebelum ada barang untuk tulis menulis. Yang jelas bukan kitab suci!

Ada beberapa substansi materi yang patut dicermat oleh kelompok yang membuat orgnanisasi yang berlabel Parisada (mudah-mudahan kata Parisada memang murni serapan Bali asli atau Bali Kuwi?). Buktinya esensi dan napas Weda tidak pernah akan selaras dengan isi lontar-lontar karena Weda menganut paham ahimsa (jauh dari kekerasan) karena itu memang hahekat agama Hindu berasal dari akar kata Hi – himsa dan Du itu duur - jauh, jadi jauh dari kekerasan dan pembunuhan. Di samping Weda isinya tidak pernah memuat tentang bagaimana memainkan adu ayam (Lontar Pengayam-Ayam) dan Pengiwaan (leak) atau bagaimana menyakiti dan membunuh orang lain yang tidak sejalan. Kalaupun Weda dikatakan sebagai napasnya atau sari-sarinya Weda yang ditulis dalam lontar, mengapa mesti mempersulit diri, bukankah buku Cartur Weda sudah dicetak di atas kertas? Atau lebih canggihnya bisa disimpan di komputer saja.

Lontar memproklamirkan adanya himsa karma (kekerasan dan pembunuhan), khususnya kepada binatang. Swami Sivananda pernah mengatakan: “Tidak ada pertapaan yang paling hebat selain melakukan Ahimsa.” Jangan-jangan wiku yang mendorong untuk melakukan yajna dalam lontar tidak melakukan ahimsa karma, karena rutinitas yang dimakannya oleh yang mengaku Sulinggih berasal dari yajna pembunuhan. Zaman Kali ini banyak yang mengaku Brahmana wangsa, tapi doyan makan sarva bhaksa, yang berasal dari surudan (be guling, be siap, be bebek, ke kebo, betutu?). Lontar itu masuk kitab suci? Lalu apa yang termuat dalam lontar tidak lebih kumpulan sebuah artikel, opini, bunga rampai, tajuk, petunjuk tekhnis pelaksanaan upacara, yang hampir kesemuanya anonim. Sulit melacak siapa penulisnya. Apalagi di zaman dulu semua orang punya wewenang dan hak membuat lontar, tanpa ada instansi yang mengawasi. Banyak lontar yang isinya berlainan bahkan saling bertentangan satu sama lain. Setiap warga (baca: soroh) bisa membuat agem-ageman pemangkunya untuk mengantar upacara yajna karena memang leluhurnya mewariskan lontar seperti itu.

Secara moral, tidak ada yang berani mempertanggungjawabkan secara substansial apa yang termaktub dalam naskah lontar. Syukurnya dulu tidak ada UU Hak Cipta hasil karya lontar. Sebab bila ada hak cipta zaman itu dan lontar masuk dalam hasil karya cipta yang dipatenkan, maka masyarakat Hindu di Bali (bukan Hindu Bali) tentunya menuai akibatnya. Masyarakat di Bali kalau ada kegiatan Panca Yajna sering bertanya dengan lugunya ‘Napi munggah ring Lontar?, bukan bertanya ‘Napi munggah ring Weda? Siapa yang menulis, apa otoritasnya dan bagaimana kompetensi orang yang menulis, tidak ada yang mempertanyakan. Dalam era globalisasi dengan high-tech, tidak saja bisa ditulis dalam daun lontar, tetapi bisa ditulis dalam internet, website, komputerisasi, lempengan tembaga atau yang lebih canggih lagi. Sejak orang melek huruf, lontar telah dipertanyakan validitasnya dan kedudukannya dalam Weda. Apa lontar termasuk kitab Sruti atau Smrti atau tafsir awud-awudan?

Ambil validitasnya saja contoh sederhana hiriarki dalam Undang-Undang Dasar. Bila ada Undang-undang atau peraturan yang bertentangan dengan undang-undang di atasnya, ia gugur dengan sendirinya. Sekarang kalau rujukannya lontar, yang bertentangan dengan isi Weda, maka tentu saja ia gugur dengan sendirinya. Tapi punya nyalikah untuk mengatakan kebenaran? Rupanya, hal ini sangat tidak dipahami oleh yang merujuk isi lontar. Bagaimana penganut lontar bisa memahami, wong kitab sucinya Weda tidak pernah dirujuknya. Ini yang disebut sebagai ‘sistematika eror’ – eror-eror yang berkepanjangan, eror turun temurun.

Mpu Kuturan Pelopor Pemersatu Sekte

Ternyata benar a having religion tidak berarti sama dengan being religious. Orang yang terpelajar, cendekiwan intelekual (vidya), rohaniawan yang banyak gelar yang disandang tidak selamanya berimplikasi pada kemajuan-kemajuan rohani, berpikiran lurus malah menuju alam ‘avidya’. Pada abad ke-11 Mpu Kuturan saja mampu menyatukan sekte-sekte yang ada di Bali, malah di zaman globalisasi dengan banyaknya tokoh-tokoh profesional terjadi kecendrungan menuju benar-benar ‘sekterian’, feodal dan primordialisme.

Dari point ke tiga Piagam Samuan Tiga Parisada Dharma Hindu Bali (PDHB): “Menyembah Tuhan (Sang Hyang Widi Wasa) lebih khusus disebut Bhatara Siwa, Dewa Dewi dan Hyang Leluhur” (lihat Bahasan Utama Raditya, edisi Maret 2007 hal.10), ini sesuatu pemutar-balikan fakta. Di Bali, sejak zaman dahulu tumbuh 9 sekte (kalau saya menyebutnya Istha Derwata), yaitu: Siwa Sidhanta, Pasupata, Waisnawa, Bodha atau Sogata, Brahmana, Bhairava, Rsi, Sora (penyembah Surya) dan Ganapatya (penyembah Ganesa).

Istilah sekte diberikan orang asing di tanah India yang hidup dan berkembang, yang kita warisi sampai sekarang dan ingat tidak pernah ada ‘pshy war’, saling memfitnah dan saling menjegal. Tidak hanya Siwa Sidhanta yang hidup dan berkembang saat itu. Mereka hidup berdampingan dalam suasana harmonis yang dijiwai oleh semangat Sathyam, Sivam, Sundaram.

Hindu menganut dua keyakinan: Adikara dan Istha Dewata. Adikara adalah sadhana spiritual yang berbeda, ada yang melakukan sesuai dengan bakat dan kemampuannya: Yoga, Meditasi, Namasmaranam, Kirtanam Bhajan (mengidungkan nama-nama suci) Tirtha Yathra, Agni Hotra dan sebagainya. Istha Dewata (Dewa Pelindung) ada Navavidha bhakti (sembilan jalan melakukan bhakti yang kesemuanya diapresiasi). Perbedaan alam modernisasi yang dibekali dengan intelektual dan budi pekerti, sekte yang jelas sekterian ini mencoba mengubah haluan dengan menggunakan patokan Siwa Sidhanta, sebagai dasar berpijak. Padahal Siwa Sidhanta hanya satu dari sekian Istha Dewata yang patut diyakini. Swami Sivananda membagi tiga penganut paham yaitu Sivaistik (penganut Siva), Waisnawa (penganut Wisnu) dan paham Sakta (Saktiisme) – yang selalu berdampiggan rukun, damai dan harmonis dan belum pernah ada pertikaian yang berarti.

Mpu Kuturan menyatukan sekte-sekte di Bali yang dipuput oleh Sarwa Sadhaka dalam Lontar Bali Pulina 4a yang bunyinya sebagai berikut: “Sutrepti punang Bali Pulina tan hana wiyadi tiling manahnya agagitayan, punang para pandita Siwa, Buda lan para Rsi mwang Mpu setata akarya Homa nguncaraken wedannya mwang sehe. Humung kang swaranya genta ngastiti Hyang Widhi mwang para dewa-dewata. Tetabuhan maler meswara sadesa-desa, siyang latri angaci ring Pura-Pura tan papegatan. Kadulurin kidung kakawin.“

Artinya: Damailah keadaan Bali, orang-orang yang hatinya terpusat pada isi kidung. Adapun para pandita Siwa, Budha, para Rsi dan Mpu (berarti Sarwa Sadhaka?) senantiasa melaksanakan Agni Hotra (homa) mengucapklan mantra Weda (maksudnya puja-puja stava/stotra?) dan sehe (mantra memakai bahasa hati nurani). Bergemalah suara genta memuja Tuhan Yang Maha Esa dan para dewata, gamelan berbunyi di setiap desa, siang dan malam, berbakti di Pura-Pura tiada putusnya. Upacara ini disertai kidung dan kakawin.

Mengapa di alam demokrasi malah banyak menjamur paham feodal dan benar-benar sekterian?

Buku Baru
meradang.jpg (30185 bytes)
Harga Rp 30.000,-

covbali.jpg (20420 bytes)
Harga Rp 30.000,-
(Cetak Ulang)

sriyoga.jpg (31656 bytes)
Harga Rp 27.000,-

sapi.jpg (34216 bytes)
Harga Rp 12.000,-
[ Print artikel  

Copyright 2007,  All Rights Reserved.