A big name from patek philippe replica Hermes, who has apparent the rolex submariner replica incident, offered to swiss replica watches aftermath a backpack that is omega replica called afterwards Jane Birkin. The rolex replica celebrity is blessed to breitling replica account her ideal bag design. This is ultimately the bearing of omega replica Hermes Birkin handbags. Although the replica watches uk accomplished abstraction of rolex replica the Birkin is taken afterwards the actress, it is absorbing to rolex replica agenda that she has been answerable for the aboriginal band of swiss replica watches bags. You can aswell be like this celebrity and access your own band of rolex replica Birkin bags. The alone botheration is that you are not alive just to absorb all of your bacon on a handbag.

Majalah Hindu Raditya
OM SWASTYASTU. Selamat Datang di Web Majalah Hindu RADITYA dan sekaligus Website PUTU SETIA, pendiri majalah ini.
Left Menu
RADITYA 126
Opini
Krematorium dan Adat


I Nyoman Tika

Manusia Hindu menempatkan siklus lahir hidup dan mati sebagai sebuah prosesi ritual bermakna dalam kehidupannya. Dan muncul sebagai doa Sarva karma Bhagavad priithham (lakukaan kegiatan untuk menyembah Tuhan). Semua perbuatan itu untuk menambah gairah dalam memuja Tuhan, termasuk dalam prosesi kematian. Kematian bagi umat hindu adalah awal sebuah perjalanan panjang yang tidak bertepi untuk menikmati karma.

Namun prosesi kematian ini menjadi rumit, ketika dibangun oleh budaya dengan tingkat rigiditas yang tinggi. Umat Hindu sering terjebak ’proses megah’ prosesi ritual yang menelan biaya tinggi dengan mengabaikan kemampuan yang melakukan upacara. Biaya tinggi karena menjelimetnya adat yang sering tak bersahabat. Untuk mengatasi itu, krematorium sering menjadi solusi.

Lalu, apakah krematorium memang menjadi kebutuhan umat Hindu? Kalau jawabannya ya, bagaimana keberadaan krematorium ini bisa sinergis dengan tatanan adat yang sudah ada, sehingga dapat meminimalkan terjadinya konflik antara pengusung adat dan kepraktisan beragama? Masalah ini memang menarik untuk diungkap sebagai sebuah pemikiran, bahwa ke depan umat Hindu dihadapkan pada dimensi-dimensi baru beragama, karena interaksi antar manusia dalam suatu perkampungan global tak dapat dihindarkan.

Perkampungan global membuat dimensi agama hadir dengan peran baru, yaitu, peran sosial. Lebih khusus agama sebagai perekat sosial yang merekatkan potensi-potensi antagonistik antar individu dalam masyarakat. Agama menurut Wilson adalah mempertahankan kohesi sosial. Artinya institusi agama berdiri tegak sebagai institusi pengontrol sosial paling jitu.

Dalam kaca mata seperti itu, agama Hindu sebagai perekat sosial yang yang tak bisa terbantahkan. Khususnya umat Hindu di Bali, perekat-perekat sosial dibangun atas konsepsi ” Tat Twam Asi” . Di dimensi itu, ketika tatanan sosial yang dibangun oleh roh agama, sehingga menghasilkan sekuel dan tafsir yang kerap tidak sesuai dengan zaman, maka perlu dilakukan revisi dan perubahan ke arah kemajuan yang lebih dinamis. Oleh karena itu, dari sudut pandang inilah keberadaan krematorium dan rumah duka yang seperti banyak dimiliki yayasan China, nampak menarik untuk dipikirakan, yang mungkin bisa dimodifikasi oleh umat Hindu, baik di Bali maupun di luar Bali.

Krematorium dan rumah duka saat ini memang menarik untuk dikaji dan bila mana perlu bisa menjadi semacam elemen yang perlu dibahas oleh Parisada. Saya memiliki kisah perihal ini. Salah satu puri di desa kami memang sangat sempit dan para penghuni mereka banyak. Dari salah satu tokoh di sana ingin menggagas adanya rumah duka semacam Sumanggen zaman dulu untuk me-ngemit-kan mayat. Namun tantangan ini sangat berat dari adat. Memang krematorium lengkap dengan rumah duka banyak segmen adat yang akan mati, ini menjadi polemik yang terus diperdebatkan.

Harus diakui, bahwa krematorium itu menjadi semacam solusi jitu, ketika banyak adat sering tidak ramah. Krematorium juga menjadi solusi bagi sebuah bangunan kehidupan sosial bergama yang didasarkan pada pondasi higienis.Umat Hindu di Bali sering dituding perihal terakhir: banyak mayat yang lama disimpan dengan cara yang tidak septic, lalu menyebar bau tak sedap. Pondasi menjadi penting untuk dibicarakan, karena masalah umat Hindu tak banyak orang bisa mencarikan solusi. Lembaga agama, adat dan sejenis, sering lengang dengan pemikiran inovatif. Beragama adalah sebuah rutinitas sistem kelompok, dan bukan dibangun atas dasar kesadaran keseimbangan bathin. Sebuah rekayasa kultural bagi infrastruktur pemikiran umat Hindu perlu diajukan.

Selain itu, sulitnya mendapatkan tanah kuburan bagi umat Hindu di tanah rantau menjadikan krematroium bisa menjadi solusi yang baik. Lalu ini menjadi sebuah wacana yang hangat. Dua fondasi ini semakin penting bagi umat Hindu di era global. Di situ tempat rantau ada dua alasan, pertama, meminimilisasi intervensi adat, kedua, memiliki aspek higienis dalam tata kelola mayat. Adanya krematorium bisa jadi membenarkan thesis Durkheim “Hilangnya nurani kolektif dan tumbuhnya solidaritas sosial yang didasarkan pada hukum restitutif dan pertukaran resiprokal akan menguat dalam masyarakat.”

Agama, termasuk di dalamnya agama Hindu, akan mengikuti alur sketsa teori-teori sosial, di ranah tersebut. Agama kemudian menjurus seperti harapan Foucoult. Pengetahuan yang bersifat medico administrasi mulai memperhatikan masyarakat, kesehatan dan penyakitnya, kondisi kehidupannya, tempat tinggal dan adat kebiasaannya, yang kemudian menjadi jantung sosial ekonomi dan sosiologi abad 19 mulai nampak menguat di pemikiran umat Hindu. Semoga pikiran baik datang dari segala arah. ”Om Nama Siwaya”.

Buku Baru
meradang.jpg (30185 bytes)
Harga Rp 30.000,-

covbali.jpg (20420 bytes)
Harga Rp 30.000,-
(Cetak Ulang)

sriyoga.jpg (31656 bytes)
Harga Rp 27.000,-

sapi.jpg (34216 bytes)
Harga Rp 12.000,-
[ Print artikel  

Copyright 2007,  All Rights Reserved.