Majalah Hindu Raditya
OM SWASTYASTU. Selamat Datang di Web Majalah Hindu RADITYA dan sekaligus Website PUTU SETIA, pendiri majalah ini.
Left Menu
RADITYA 126
Wawancara
Jro Dasaran Dwija Prana


Apa dan bagaimana sebenarnya persoalan magis di kalangan umat Hindu? Apakah memang benar penganut Hindu terikat oleh hal-hal yang bersifat magis dan bagaimana kedudukan magis dalam sastra Weda?. Berikut petikan wawancara wartawan Majalah Raditya I Nyoman Arjana dengan Jro Dasaran Dwi Prana di Batubulan, Gianyar, Bali.

Sebenarnya bagaimana kedudukan praktek magis dan kitab suci sebagai penuntun perilaku beragama?

Agama adalah suatu metode yang memperkenalkan kita, mengingatkan dan mengajarkan kita untuk patuh pada Tuhan Yang Maha Esa. Mengenal Tuhan berarti mengenal roh yang utama, jika ada roh yang utama berarti ada roh yang bersifat tidak utama, untuk membedakan sifat inilah kitab-kitab suci menuangkannya berbagai teori-teori tentang roh. Tapi untuk membuktikan pengaruh atas perbedaan roh tersebut, sifat rohani harus diutamakan. Misalkan, melakukan meditasi atau melakukan dialog dengan orang-orang rohani. Pada fase inilah logika menganggapnya sebagai magis.

Kalau ingin meng-aben-kan leluhur, maka terlebih dahulu pergi nunas bawos kepada balian atau dasaran, mengapa tak pergi langsung ke sulinggih atau mangku?

Dewasa ini tidak semua orang bisa melihat roh, sehingga roh-roh yang sengsara ini membutuhkan mediasi untuk menyampaikan maksudnya. Karena para pendeta dan pemangku senantiasa berpatokan pada tata cara buku dari lontar (Weda) dan maaf, masalah yang menyebabkan sang roh itu sengsara dikesampingkan, karena dianggap sebuah karma belaka. Padahal tata cara yang ada di lontar (Weda) memang tepat bagi roh yang semasa hidup di dunia benar-benar membayangkan sifat rohani. Kenyataannya saat ini banyak orang tidak mengembangkan sifat rohani, maka semakin banyaklah roh yang sengsara walaupun di-aben dengan tata cara Weda atau dengan biaya yang besar. Untuk menolong yang sengsara ini muncullah para dasaran yang dipakai mediasi oleh sang roh agar bisa meringankan beban kesengsaraannya.

Umat Hindu Bali sangat percaya akan mitos kepongor, salahang kawitan, bhatara memirga, bukankah ini ciri dari kepercayaan animisme yang tak berdasar Weda atau juga lontar?

Istilah kepongor, bhatara memirga sesungguhnya gambaran dari hubungan roh leluhur dengan keturunannya dalam proses saling mengingatkan tujuan hidup di dunia ini. Memang tidak jarang ini menyebabkan sakit sampai celaka. Jika itu terjadi, bukan roh itu yang membuat sakit atau celaka melainkan diri kita yang tidak mau mengembangkan sifat-sifat rohani. Sehingga di mata orang-orang seperti kita yang selalu tertarik terhadap duniawi nilai-nilai moral keduniawian yang utama. Tapi bagi orang yang senantiasa senang menekuni pengembangan sifat-sifat rohani tidak mungkin kepongor dan ini bukan mitos. Apabila mereka mengikuti apa yang menjadi penyebab dari kepongor, bhatara memigra, maka ketenangan jiwa pun akan kembali dirasakan. Istilah kawitan muncul didasari oleh keputusan yang dibuat oleh Sri Kresna Kepakisan. Beliau memberikan kekuasaan penuh untuk mengatur keturunannya termasuk tata cara melakukan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dan leluhurnya kelak. Sehingga gambaran memori rohani pada setiap nafas keturunannya sekarang kita kenal dengan banyak kawitan. Namun menurut perenungan saya, ini adalah bentuk hubungan antara leluhur di alam astral lapisan 3,2 dan 1, di Bali disebut alam sunia dan alam-alam ini masih menyatu dengan permukaan bumi, sementara lapisan 4,5,6 dan 7 berada di alam lautan, dasar lautan di perut bumi, di bawah dari itu semua disebut alam bawah (alamnya buta, kala, dengen). Tujuh lapisan alam astral inilah yang mendasari kawitan sampai 7 undak pada banten yang dilambangkan dengan 7 tumpang atau bunga 7 rupa.

Animisme dan dinamisme adalah suatu metode untuk mengenalkan manusia pada Tuhan di zaman ini. Metode itu juga mengajarkan manusia, bahwa Tuhan ada pada setiap partikel yang ada di alam semesta ini, dan mereka pada aplikasinya menghormati setiap benda. Weda juga mengajarkan hal yang sama. Sayangnya, apabila orang menyembah benda yang dilihat sebagai perwujudan Tuhan, maka hal itu dianggap bukan ajaran Weda, tapi malah dicap sebagai penyimpangan atau merupakan metode animisme dan dinamisme.

Apa yang menyebabkan pengaruh magis masih terlalu kuat di Bali dan mungkin juga dalam masyarakat penganut Hindu lain di Nusantara?

Sugesti umat Hindu di Bali maupun Nusantara, memperkuat keyakinan tentang kekuatan magis, bahkan dalam setiap upacara terjadi pembangkitan kekuatan magis tersebut. Itu terjadi karena alam yang kita tempati ini sesunguhnya dekat, bahkan menyatu dengan alam bawah. Dan ini juga yang membuat kerancuan dalam hubungan kita pada Dewata dan Tuhan. Tak jarang kita menganggap, bahwa kejadian magis itu berasal dari dewata atau Tuhan. Sebenarnya leluhur-leluhur suci kita telah mengingatkan, bahwa dalam mempelajari Weda hendaknya kita memperdalam rwa bhineda dening sastra, yaitu belajar dari pedoman atau membaca kitab-kitab suci untuk mengolah panca indria kita dan melanjutkannya dengan mempelajari rwa bhineda tanpa sastra, yakni mengelola indra ke enam dengan melakukan meditasi.

Bagaimana mempertanggungjawabkan petunjuk ’konsultasi gaib itu’ seperti balian, dasaran dan sejenisnya dalam sistem agama Hindu, apa dibenarkan atau tidak?

Orang menjadi dasaran maupun balian adalah melalui suatu proses yang cukup panjang. Begitu pula dalam memperoleh petunjuk magis, petunjuk tersebut selalu datangnya dengan berbagai cara, ada berupa gambaran, berupa suara, berupa penggerakan anggota tubuh, berupa kerauhan (trans). Kekuatan petunjuk tersebut tergantung dari kondisi rohani si dasaran dan keberhasilan atas petunjuk itu tergantung dari sugesti yang mohon petunjuk. Di Bali biasanya umat disarankan untuk menghaturkan pejati ke hadapan Bhetara Hyang Guru terlebih dahulu sebelum pergi ke dasaran, agar prosesi ini dibantu.

Magi itu terbukti sering benar (secara subjektif menurut pengalaman masing-masing) berarti magi lebih ampuh dari tattwa. Apa benar demikian?

Magi dan pembuktian tentang keberadaan magi sebenarnya merupakan praktik langsung dari teori-teori Weda dan melakukannya harus dengan meditasi, karena meditasi menciptakan prosesi pengosongan diri, kekuatan magi berada di dunia yang kosong.

Tattwa ditulis berdasarkan wahyu, wahyu didapat dari perenungan selama pengosongan diri dalam melakukan meditasi. Sebagian besar memang bersifat magi, tapi tidak semuanya. Dan saya tidak melihat mana sebenarnya yang lebih ampuh, sebab yang saya tahu, tattwa dan magi memang tak terpisahkan karena itu bagian dari rwa bhineda. Tattwa mendukung keberadaan magi begitu pula sebaliknya.

Apa manfaatnya bagi masyarakat yang terikat oleh pesona daya magi itu?

Jika dipahami, bahwa magi adalah salah satu kekuatan Tuhan dan kekuatan magis dihembuskan pada setiap ciptaanNya, di mana kekuatan magi yang amat besar dihembuskan pada alam dewata dan alam bhuta (setan), kala (iblis), dengen (jin) dan mempunyai kekuatan yang sama, maka manusia seharusnya sadar bahwa ia sesungguhnya menjadi penyeimbang dari dua kekuatan yang besar itu (kekuatan dewa dan kekuatan buta, kala, dengen) dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan. Dengan sifat rwa bhineda yang ada pada manusia, maka sesunguhnya kekuatan magis yang dimilikinya jauh lebih besar dari pada dewata atau buta, kala, dengen. Sebaiknya jangan terikat dengan pesona magis, tapi mengenal dan faham dengan sifat magis itu jauh lebih baik, agar kita bisa membedakan dari mana sumber magis itu.

Apa kerugian terhadap masyarakat bila kepercayaan terhadap magi terus mencengkram kuat?

Untung ruginya terhadap kepercayaan magi bagi masyarakat tergantung dari karma kehidupannya, karena percaya atau tidak tanpa disadari kekuatan magi itu sudah ada pada setiap tubuh manusia, bahkan setiap makhluk hidup. Jika kekuatan magi pada dirinya digunakan untuk mendukung pengembangan rohani, maka ia akan menjadi pengabdi Tuhan Yang Maha Esa yang setia. Jika sebaliknya, maka ia akan hancur bersama kekuatan magis yang mempesonannya.

Bagaimana idealnya masyarakat Hindu masa kini menyikapi hidupnya termasuk terhadap magi itu?

Sebaiknya masyarakat mau belajar memahami sifat magis dengan cara mempelajari rwa bhineda dening sastra atau Weda dan dilanjutkan dengan rwa bhineda tanpa sastra melalui meditasi. Kegiatan ini mampu menginisiasi karma kita, sehingga kita menjadi orang baik. Tuhan berjanji di dalam Weda (Bhagavadgita), bahwa Tuhan akan mengelompokkan orang baik dengan orang baik, orang jahat dengan orang jahat sesuai dengan keinginannya. Dan jika kita sudah menjadi baik tidak mungkin Tuhan mempertemukan dengan orang jahat atau kekuatan magis yang jahat.

Hendaknya kita juga jangan takut atau mau ditakut-takuti oleh kekuatan magis itu, karena rasa takut sesungguhnya muncul dari sifat tamas dan biasanya kita tidak bisa berpikir jernih.

Buku Baru
meradang.jpg (30185 bytes)
Harga Rp 30.000,-

covbali.jpg (20420 bytes)
Harga Rp 30.000,-
(Cetak Ulang)

sriyoga.jpg (31656 bytes)
Harga Rp 27.000,-

sapi.jpg (34216 bytes)
Harga Rp 12.000,-
[ Print artikel  

Copyright 2007,  All Rights Reserved.