Majalah Hindu Raditya
OM SWASTYASTU. Selamat Datang di Web Majalah Hindu RADITYA dan sekaligus Website PUTU SETIA, pendiri majalah ini.
Left Menu
RADITYA 126
Opini
MITOS GAIB:
Menyuburkan Ritual, Menghancu


Agus Muliana

Dalam berbagai mantra dan sukta dari kitab suci Weda, seringkali diutarakan mengenai keagungan dan sifat-sifat mulia dari Tuhan. Ada yang menyebut Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa, Maha Karya, Maha Tahu dan sebagainya. Tuhan Hindu juga kadang disebut dengan nama Hari, Tuhan sebagai pemberi yang terkasih. Sedangkan masyarakat Bali terkadang menyebutnya sebagai Sang Hyang Parama Kawi (pengarang teragung), Sang Hyang Adi Bhuda (Yang Maha Bijaksana), Sang Hyang Guru (Guru teragung), dan sebagainya. Tuhan juga dikatakan sebagai perwujudan kasih-Prema Swarupa yang tak terbatas. Melalui kasihnya Beliau menciptakan alam semesta beserta isinya dan memeliharanya dengan kasih pula.

Namun apabila kita jeli melihat fenomena di lapangan, khususnya dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, maka Tuhan tidak dapat dikatakan demikian lagi. Beberapa ritual malah mengesankan, bahwa Tuhan orang Hindu pemarah dan rakus, sebuah mitos gaib yang menyesatkan. Fenomena ini dapat kita lihat dari maraknya ritual yang dilakukan oleh orang Hindu tatkala menghadapi bencana. Bencana diyakini sebagai kemarahan Tuhan, sehingga harus ditenangkan dengan melakukan berbagai ritual dengan segenap upakara-nya. Kita bisa lihat hal tersebut dari maraknya ritual yang dilakukan tatkala terjadi bencana angin puting beliung dan gempa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Harus disadari, bahwa berbagai bencana yang menimpa kita merupakan implikasi dari perbuatan kita dan bukan karena kemarahan Tuhan. Berbagai bencana itu timbul karena sikap kita yang terlalu rakus terhadap alam. Bencana angin puting beliung misalnya. Bencana ini terjadi salah satunya dipicu oleh perubahan iklim akibat pemanasan global. Dan pemanasan global yang mengancam kelangsungan kehidupan di bumi tentunya akibat perbuatan manusia yang terlalu rakus. Melalui kegiatan industri, manusia melakukan eksploitasi alam secara berlebihan. Sayangnya tindakan tersebut tidak diimbangi oleh berbagai langkah pelestarian alam, sehingga membuat alam semakin rusak. Kerusakan alam yang terakumulasi inilah yang akhirnya menjadi bumerang bagi kehidupan manusia.

Sungguh sangat keliru apabila kita menyalahkan Tuhan atas semua bencana ini. Apalagi kita berusahan menyenangkan Tuhan dengan berbagai upakara dan upacara besar. Sedikit saja ada bencana kita sudah melakukan pekelem, nunas guru piduka, dan berbagai ritual “mohon maaf” terhadap Tuhan. Tanpa kita sadari, bahwa dari dulu kita sudah sangat salah kaprah akan hal ini.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada banten, harus kita sadari, bahwa Hindu hancur karena banten. Dalam sejarah perkembangan Hindu kita dapat belajar, bahwa munculnya berbagai kelompok filsafat dan agama baru yang kemudian tidak mengakui otorita dari Weda karena pemahaman yang keliru akan upacara. Upacara yang semestinya mampu mengantarkan umat untuk meningkatkan Sraddha dan Bhaktinya terhadap Tuhan malah dipolitisir oleh oknum tertentu, sehingga menyebabkan banyak pemeluk Hindu pada waktu itu meninggalkan Hindu. Beberapa kelompok orang kemudian membangun sistem filsafatnya tersendiri jauh dari Weda. Namun dengan adanya reformasi ajaran Hindu dari para pemikir Hindu, maka kejayaan Hindu dapat ditegakkan kembali. Orang-orang yang dulu berpaling, kini kembali dapat terangkul ke dalam Hindu Dharma.
Namun hal yang aneh malah terjadi di Bali. Masyarakat Bali malah semakin sibuk dengan kegiatan ritual. Hampir semua masalah diselesaikan dengan ritual. Seolah masyarakat Hindu di Bali tidak bisa jauh dari ritual. Hal tersebut nampaknya mulai menunjukkan dampak buruknya. Tidak jarang banyak orang Hindu beralih agama karena beban berat menjadi orang Hindu.

Menjadi orang Hindu di Bali memang bukan hal yang gampang. Mereka dituntut untuk mempersembahkan berbagai ritual kepada Tuhan-nya seolah Tuhan Hindu senantiasa lapar. Hal inilah pemahaman yang keliru dari orang Hindu. Hal ini tentunya merupakan kesempatan emas bagi misionaris untuk mengajak orang Hindu beralih ke agama mereka. Tentunya dengan sedikit iming-iming, bukanlah hal yang sulit bagi mereka untuk menggaet orang Hindu, terlebih lagi orang Hindu yang tidak tahu akan ajaran Hindu yang sesungguhnya.

Untuk itulah, Parisadha sebagai lembaga tertinggi umat Hindu hendaknya proaktif menjelaskan berbagai mitos dan anggapan-anggapan keliru mengenai Hindu. Parisadha juga hendaknya mampu membangun Hindu yang tidak dipandang sebelah mata sebagai agama pemboros. Upaya peningkatan terhadap pemahaman akan tattwa agama hendaknya terus-menerus ditingkatkan. Di samping itu yang tidak kalah pentingnya adalah pembentukan perilaku umat yang santun sesuai dengan ajaran-ajaran etika Hindu. Dengan demikian diharapkan kualitas dan kuantitas pemeluk Hindu di masa mendatang dapat ditingkatkan.

Buku Baru
meradang.jpg (30185 bytes)
Harga Rp 30.000,-

covbali.jpg (20420 bytes)
Harga Rp 30.000,-
(Cetak Ulang)

sriyoga.jpg (31656 bytes)
Harga Rp 27.000,-

sapi.jpg (34216 bytes)
Harga Rp 12.000,-
[ Print artikel  

Copyright 2007,  All Rights Reserved.