Majalah Hindu Raditya
OM SWASTYASTU. Selamat Datang di Web Majalah Hindu RADITYA dan sekaligus Website PUTU SETIA, pendiri majalah ini.
Left Menu
RADITYA 126
Opini
Perlindungan gaib dalam Lemahnya Brama


Nyoman Sedana

Proses pembelajaran sabda suci Tuhan dari Veda, Gita, atau Brahma tattwa pada masa sekarang ini, metodenya telah sama-sama kita ketahui. Ia dapat dicapai dengan dharma wacana, dharma tula, dharma gita, tirta yatra, dan lainnya. Yang saat ini diterjemahkan oleh manajemen modern menjadi seminar, coaching, workshop, company visit, dan istilah lain. Sistem ini telah digunakan oleh masyarakat umum, dan hasilnya pun bisa dipetik oleh instansi yang bersangkutan, tergantung pada kesungguhannya dalam menerapkan.

Selanjutnya, berbicara proses pembelajaran untuk meningkatkan sradha (keyakinan) dan bhakti dari umat tentu masalahnya akan lebih komplek. Tidak semua indikator keberhasilannya bisa diukur dan sangat sulit diucapkan, karena hanya bisa dirasakan pribadi masing-masing. Dalam praktik pembelajaran, kadang-kadang tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik, apalagi membaca atau mencari sumber sendiri, sehingga ragu-ragu dengan keyakinan agamanya sendiri. Saat sekarang, tampak perilaku akibat kurang pemahaman ajaran dharma, seperti terbentuknya sekehe (kelompok) pemabuk peminum arak, mebotoh, metajen di pura, berburu hantu (setan) masuk pura, dan sebagainya.

Berangkat dari keinginan untuk menuju kebahagiaan sesuai missi Hindu, tentu tidak boleh lepas dari prinsip-prinsip umum pembelajaran yang didasarkan pada learning to think, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Peserta dituntut tidak hanya berpikir, tetapi harus berbuat dalam arti diterapkan, orang harus sadar belajar agar tetap bisa hidup bahagia (to be), dan juga mempererat antarsesama (learning to live together). Bila saat sekarang ternyata praktik dari hasil pembelajaran Hindu di Nusantara atau di Bali pada khususnya, masih didominasi oleh warna kearifan lokal, menyangkut mitos gaib, menonjolkan tradisi ritual fisik, dan lain-lain, maka ini semata-mata karena elite agama belum mampu mengubah jalan pikiran para umatnya, sehingga lingkungan lebih dominan. Lingkungan dapat berasal dari kearifan lokal, ajaran agama orang lain yang sering dilihat atau didengar melalui media yang sering dibaca (ditonton). Itulah sebabnya orang selalu berusaha menguasai jaringan informasi global. Untuk menyempurnakan ke arah yang lebih baik, membutuhkan proses yang panjang, karena menyangkut perubahan paradigma. Alternatif yang kemungkinan terjadi, pertama bila orang ingin berubah dan dorongan perubahan dari lingkungan luar lebih kuat (dominan) dan menarik, maka ia akan melakukan konversi (pindah ke agama orang lain). Kedua, bila dalam diri orang tidak ada keinginan berubah, sementara pembinaan agama lemah, maka yang dijalankan adalah kebiasaan-kebiasaan dari kearifan lokal dengan melaksanakan bermacam-macam upacara sesuai dengan pemahaman kandungan lokal, atau mengikuti trend dunia materialistik untuk memuaskan badan. Ketiga, bila dalam diri ada keinginan berubah dan ada tuntunan agama yang memadai, maka akan terjadi perubahan terencana sesuai dengan yang dikehendaki untuk menjalankan ajaran agamanya. Karena dalam konsep perubahan, para elite agama (dalam management disebut manager) dituntut melakukan perubahan terencana, dikatakan if top down not sufficient, bottom up never work. Dalam mencapai tujuan dituntut melakukan perbaikan What to change, dilanjutkan dengan To what to change, dan How to change.

Sebagai illustrasi, misalkan tahap pertama what to change “Mitos gaib membelenggu umat” tahap ke dua To what to change: kondisi existing adalah: (1) orang lebih percaya pada petuah balian yang menggunakan ilmu gaib dari pada yang tertulis pada kitab suci, (2) Ritual bersifat tamasik dan rajasik tumbuh subur, (3) Mitos gaib menghambat masyarakat. Kondisi yang akan dikehendaki mencakup: (1) Agar orang lebih percaya pada mantra Veda dan sloka pada Gita atau Brahma tattwa dari pada mitos gaib, (2) Ritual yang dilakukan bersifat satwik, (3) tidak menghambat, dan bersifat apauruseya (melampaui kekuatan manusia). Tahap ketiga How to change: (1) Elite spiritual harus menjadi contoh teladan mengamalkan ajaran Veda ”tidak kebliger oleh mitos” (2) Harus ada involvement (keterlibatan) elite agama dalam pengadaan hardware maupun software untuk sarana pembelajaran, (3) Harus dilakukan pencerahan yang memadai oleh orang yang disucikan (sulinggih) dan para dharma duta, guru, dan sebagainya (3) Harus ada kunjungan elite agama ke daerah-daerah dan monitoring pelaksanaan program.

Melihat kenyataan yang terjadi sekarang, umat kurang perduli masalah-masalah penyakit masyarakat yang disebabkan oleh umat Hindu sendiri. Energi umat banyak dihabiskan oleh kegiatan bernuansa tradisi lokal, khususnya adat Bali yang prosesinya sangat melelahkan umat, dan menyita banyak waktu. Dan kebanyakan orang berpegang pada prinsip “yang penting saya berbuat baik” Tidaklah salah, tetapi sebenarnya tidak cukup, karena dalam Bhagavad Gita IX.34 dikatakan: Pusatkanlah pikiranmu pada-Ku, berbhakti kepada-KU, bersujud pada-Ku, sembahlah Aku, dan setelah kau mengendalikan dirimu dengan Aku jadi tujuanmu tertinggi, engkau akan tiba pada-Ku. Meskipun Tuhan tidak berwujud, ibarat bayu (angin), kita menghubungkannya dengan wujud agar dapat memahaminya, lalu dipuja dengan menggunakan berbagai macam bunga. Untuk memuja Tuhan tanpa wujud dalam hati menggunakan sifat mulia yang dikembangkan dalam hati lalu dipersembahkan kepada Tuhan. Mencakup bunga tanpa kekerasan, kesabaran dan ketabahan, pengendalian hawa nafsu, kebenaran, keuletan, kasih dan belas kasihan, amal dan pengorbanan. Semua ini dimaksudkan untuk pemujaan rohani.

Lebih lanjut, membaca sabda suci Tuhan atau Brahma tattwa bukannya hanya sebatas pengetahuan, tetapi lebih jauh dari thinking way, diikuti oleh perkataan, lalu perbuatan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Berusaha mengamalkan sloka semampunya untuk meningkatkan sradha dan bakti kepada Tuhan, hubungan kepada sesama, dan hubungan kepada alam semesta (asal badan manusia, yaitu, panca mahabuta. Kata buta yang dimaksud bukannya buta cakil atau celuluk. Yang disembah adalah Tuhan dan para Dewa, karena sesungguhnya “seluruh dewa menjadi satu dalam Tuhan (Sarve asmin deva eka vrto bhavanti….. Atharvaveda: 13.4.21). Sifat Tuhan adalah maha pengasih dan penyayang, dan sifat keagungan lainnya, karena para Dewa merupakan bagian-Nya, maka tentu secara akal sehat tidaklah beralasan para Dewa akan murka pada umatnya (bila ada kekurangan sesajen), yang marah-marah tentu bukan Dewa, tetapi Setan, bila ada kekurangan sesajen. Dan ada orang baru sadar memuja Tuhan setelah ia mengalami penderitaan (disebut dengan Artah=mereka yang menderita, dalam Bhagavad Gita VII.16), baru sadar memuja Tuhan setelah ada masalah, di Bali populer dengan sebutan “kepongor”. Kata kepongor mestinya tidak dimaknai hukuman, tetapi penderitaan akibat buah-- hasil karmanya sendiri.

Kita memohon ketentraman hidup, memohon kebajikan kepada Tuhan yang memberikan kehidupan pada kita, alam, dan yang menegakkannya, serta kemampuan untuk menghindari kekuatan jahat. Dalam Rgveda V.82.5 dikatakan: Om Visvani deva savitar duritani para suva yad bhadram tanna a suva. Yang artinya, Ya Tuhan Yang Maha Esa, Savitri, usirlah jauh-jauh segala kekuatan jahat. Berikanlah kami yang terbaik. Segala sesuatu kegiatan dharma mestinya dilandaskan atas ajaran Veda (Sruti), Smrti (dharmasastra), Sila (tingkah laku orang suci), Acara (tradisi yang baik), dan Atmanastuti (keheningan hati). Namun kenyataan penerapannya pada umat Hindu sering urutannya dibolak-balik, bahkan banyak umat tidak mengutamakan Sruti dan mengedepankan kebenaran ilmu.

Umat Hindu masih banyak yang datang pada orang yang dianggap “pintar” berilmu gaib yang tidak jelas sumbernya, dari pada bertanya ke para Brahmana yang telah belajar Brahma tattwa, yang secara keilmuan telah teruji. Perilaku ini terjadi, karena ajaran Catur Marga tidak dijalankan secara murni di masyarakat Hindu, tapi diterapkan sesuai dengan keinginannya sendiri, sehingga menjadikan “umat banyak kebliger”. Karma dan Bhakti tanpa Jnana, maka Karma dan Bhakti itu menjadi salah arah (ngawur). Karma dan Jnana tanpa Bhakti dapat menimbulkan arogan. Kalau Jnana tidak diwujudkan dalam Karma, maka Jnana tidak akan bermanfaat bagi orang banyak, hanya mengendap dalam diri yang bersangkutan. Karena itu Bhakti pada Tuhan merupakan ujung dari Jnana dan Karma. Demikian juga ajaran Catur warna tidak dijalankan secara murni, akhirnya orang bukannya bertanya pada para Brahmana, tetapi orang lebih percaya pada orang yang dianggap pintar (dukun/dasaran) sesuai dengan versinya masing-masing.

Akhirnya, orang bijaksana akan melandasi hidupnya dengan pikiran yang luhur dengan akal budi, kemampuan timbang-menimbang, ketajaman pikiran yang disebut buddhi. Orang yang mengikuti buddhinya akan menjadi manusia utama menuju ketujuan akhir menuju kebebasan. Orang dilahirkan sebagai manusia untuk mengembangkan sifat-sifat ketuhanan. Gunakanlah Brahma tattwa sebagai pelindung gaib, perlindungan yang timbul karena kesadaran selalu berada dalam prinsip Tuhan.

(Penulis adalah pendharmawacana PHDI Banten)

Buku Baru
meradang.jpg (30185 bytes)
Harga Rp 30.000,-

covbali.jpg (20420 bytes)
Harga Rp 30.000,-
(Cetak Ulang)

sriyoga.jpg (31656 bytes)
Harga Rp 27.000,-

sapi.jpg (34216 bytes)
Harga Rp 12.000,-
[ Print artikel  

Copyright 2007,  All Rights Reserved.