Majalah Hindu Raditya
OM SWASTYASTU. Selamat Datang di Web Majalah Hindu RADITYA dan sekaligus Website PUTU SETIA, pendiri majalah ini.
Left Menu
RADITYA 126
Opini
Mungkinkah Demitologisasi Prilaku Umat Hindu?


I Nyoman Tika

Ketika kita menatap prilaku umat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali, maka sangat mudah kita menemukan bahwa, bandul pencarian kebenaran mereka bergerak di antara sastra (kitab suci) dan mitos. Dominasi mitos masih sangat kentara, lewat berbagai aktivitas sehari-hari. Sampai di sini kita tak bisa mengelak tesis dari E.B Taylor (1891), yang mengatakan bahwa agama sebagai kepercayaan terhadap hal-hal spiritual dan lahir dari upaya para filosofi primitif untuk mengerti dan memahami pengalaman-pengalaman mental mereka dalam berprilaku. Hal ini dibenarkan juga saat umat kebanyakan mengalami a trying time, mereka lari ke para orang pintar, entah dasaran, dukun atau apapun namanya, yang jelas sastra menjadi rujukan terakhir. Tak pelak tudingan sumbang sering di alamatkan ke muka orang Hindu, yakni sebagai pemuja kuasa gelap.

Pemujaan kuasa gelap harus dicerahkan dengan kuasa terang, begitu komentar misionaris. Anehnya, yang sering dianggap terang adalah mereka yang bersandar ke Barat. Dan Barat identik dengan sains dan rasionalitas. Saat kita bersadar pada sains karena sains selama ini mendominasi pikiran kita, kita diajak menari dalam pemikiran Rene Descrates, ”Cogito er gosum”. Namun perlu diketahui bahwa kebenaran ilmiah niscaya nirmaknawi, karena untuk menjadi ”ilmiah” sepotong pengetahuan harus dilepaskan dari semua unsur subyektif yang menjadikan sesuatu bermakna, namun sains tempat kita bersandar secara rasional kerap tidak menyodori kita sumber alternatif makna lain. Oleh sebab itu, siapapun yang hanya memandang sains untuk pedoman mengenai makna apa yang benar dan apa yang tidak benar akan mengambil risiko menjalani kehidupan tanpa riwayat, yakni kehilangan semua hubungan dengan mitos-mitos masa lalu.

Lantas bagaimana kita harus berpikir jika umat Hindu masih banyak yang mencari solusi tentang pelaksanaan beberapa ritual agama yang masih banyak percaya pewisik ’dasaran” dan lewat cara yang tidak ilmiah serta tidak masuk akal. Mencari dasaran, dukun dan apalagi namanya, intinya adalah mencari sebuah kebenaran walaupun kerap di luar nalar sehat. Benarkah dia hanya semacam pengganggu untuk kemajuan spiritual umat? Jawabannya tidak mudah.

Izinkan saya bertutur tentang kisah saya. Saya kuliah S3 di ITB, kampus yang waktu pertengahan sembilan puluhan masih angker dengan program doktornya. Masalahnya dosen saya di ITB yang mengambil S3-nya juga di ITB, sudah lebih dari 14 tahun belum selesai, sulit tamat. ITB pada zaman itu belum produktif melepaskan doktornya. Ketika banyak kendala mampir pada studi saya di ITB, seperti dua promotor saya meninggal, zat radioaktif yang susah didapat, kendala alat, serta biaya hidup tanpa beasiswa, membuat orang tua gelisah di kampung, tak banyak orang mengerti kuliah S3 di ITB itu seperti apa. Lalu ibu kandung saya datang ke dasaran menanyakan nasib pendidikan saya, kata Ibu lewat telepon roh ayah saya datang, menceritakan nasib pendidikan saya, lalu kesimpulan akhir roh ayah saya berkata: ”Saya pasti tamat, jalani saja dengan sabar.” Pesan itu membuat saya tenang, saya mengikuti nasehat itu, dan benar selesai dengan selamat, saya menyandang doktor biokimia dari ITB yang ditempuh dengan susah payah dari kampus bergengsi di negeri ini. Kalau itu mitos, saya cukup terbantu ketika itu.

Cara yang ditempuh ibu saya ke dasaran adalah salah satu cara mencari kebenaran, walaupun cara ini amat sangat subyektif. Mengapa demikian? Sifat dasar manusia adalah ingin tahu. Sifat ini untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikir manusia. August Comte membagi menjadi tiga tahap, fenomena pencarian kebenaran seperti ini, yaitu tahap (1) teologi/metafisika, (2) filsafat, dan (3) ilmu (tahap positif).

Mitos termasuk dalam tahap teologi. Tahap ini dipenuhi oleh mitologi, mitologi berarti pengetahuan tentang mitos yakni kumpulan cerita-cerita mitos. Penyebab timbulnya mitos antara lain: Pertama, keterbatasan pengetahuan manusia. Keterbatasan manusia menyebabkan mereka mencoba mereka-reka dengan khayalan dan imajinasinya untuk memperoleh jawaban. keterbatasan pengetahuan manusia, karena keterbatasan pengetahuan manusia maka mereka mencoba mereka-reka dengan khayalan dan imajinasinya untuk memperoleh jawaban atas permasalahan tersebut. Pengetahuan yang diperoleh dan belum tentu kebenarannya, kemudian di ceritakan kembali kepada orang lain atau generasi berikutnya.

Kedua, penyebab timbulnya mitos adalah keterbatasan penalaran manusia. Manusia pada awalnya memang mampu berpikir, namun pemikirannya belum terlatih. Pemikiran dapat benar dan dapat pula salah. Dengan perkembangan pemikiran manusia lama kelamaan pemikiran yang salah akan ditinggalkan orang, sedangkan yang benar akan terus bertahan sampai ada kebenaran baru yang muncul.

Ketiga, keingintahuan manusia yang telah dipenuhi untuk sementara, kebenaran memang harus dapat diterima oleh akal, tetapi sebagian lagi dapat diterima secara intuisi, yakin penerimaan atas dasar kata hati tentang sesuatu yang benar. Kata hati yang irasional dalam kehidupan masyarakat awam sudah dapat diterima sebagai suatu kebenaran atau pseudo science.

Keempat, keterbatasan alat indera manusia. Keterbatasan indra manusia membuat manusia mencari jalan pintas untuk memperoleh jawaban. Puncak asli pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylion yakin 700-600 SM. Orang-orang Babylon berpendapat bahwa alam semesta itu sebagai ruang setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya, sedangkan langit-langit dengan bintang merupakan atapnya.

Upaya demitologisasi dalam prilaku umat Hindu nampaknya perlu diusahakan sebab penghayatan agama yang benar harus merujuk kitab suci Weda. Pendeknya, banyak kegiatan umat Hindu yang tak cuma ditepis tetapi perlu ditiadakan (demitologisasi). Karena baginya, masalah yang menimpa negeri ini harus dihadapi dengan realistis dan tidak dengan cara berpikir berdasarkan mitos. Dan untuk melakukan demitologisasi itu, ada empat upaya sebagai kekuatan pendukungnya. Pertama, dengan memperkenalkan ilmu pengetahuan (Barat). Karena dengan cara itu, orang tidak lagi berpikir berdasarkan mitos, seperti terjadinya gerhana bulan tidak akan mungkin dijelaskan dengan mitos raksasa yang coba memakan matahari.

Kedua, lahirnya gerakan puritanisme dalam agama. Sebab, gerakan puritanisme jelas-jelas menolak mitos. Lahirnya beberapa sampradaya, misalnya. Selain itu, yang ketiga adalah dengan analisis sejarah. Dengan cara itu, manusia akan berpikir kritis kepada mitos dan gejala mitologisasi. Analisis sejarah yang rasional dan faktual terhadap mitos akan menjadikan sejarawan tak lagi menjadi partisipan, tetapi mampu melihat dari suatu jarak. Dan yang keempat adalah melalui seni. Jika dalam mitologisasi telah terjadi abstraksi dari yang konkret, konkretisasi dari yang abstrak. Karena lewat seni, semua nilai-nilai dikonkretisasikan.

Dengan keempat upaya demitologisasi itu, manusia akan menjadi sadar akan realitas dan kekonkretan masalah sesungguhnya. Jika orang masih berpikir berdasarakan mitos, tidaklah akan bisa menghadapi kenyataan. Seperti halnya keruwetan yang dihadapi bangsa ini, haruslah dihadapi dengan cara berpikir realistis tidak dengan cara berpikir berdasarakan mitos. Sebab yang dihadapi bangsa ini adalah konkret harus dihadapi dengan cara berpikir realistis. Kesimpulannya adalah, merasionalisasi mitologi haruslah melalui rasionalitas pendidikan beragama dalam koridor agama dengan nilai sastra agama, umat Hindu diajak untuk berpikir dan bertindak rasional. Semoga pikiran baik datang dari segala arah.Om Nama Siwaya.

Buku Baru
meradang.jpg (30185 bytes)
Harga Rp 30.000,-

covbali.jpg (20420 bytes)
Harga Rp 30.000,-
(Cetak Ulang)

sriyoga.jpg (31656 bytes)
Harga Rp 27.000,-

sapi.jpg (34216 bytes)
Harga Rp 12.000,-
[ Print artikel  

Copyright 2007,  All Rights Reserved.