Majalah Hindu Raditya
OM SWASTYASTU. Selamat Datang di Web Majalah Hindu RADITYA dan sekaligus Website PUTU SETIA, pendiri majalah ini.
Left Menu
RADITYA 127
Bahasan Utama
Dogmatisme Kitab Suci versus Ketakutan Pada Mag


Agama memungkinkan masyarakat untuk melempar tanggung jawab kepada pihak ketiga (Tuhan) untuk menetralisir hal-hal yang mengecewakan hidupnya. Demikian kata Karl Marx yang kemudian ia menyebut cara hidup seperti itu adalah gejala manusia bermental negatif, tak bertanggung jawab.

Moksartham jagadhita ya cahiti dharma, mencapai pembebasan (kebahagiaan) di dunia dan akhirat dengan jalan dharma. Itulah slogan yang telah fasih diucapkan oleh penganut Hindu, karena slogan itu adalah tujuan agama Hindu itu sendiri. Namun apa yang tertata dalam tataran ide belumlah serta merta bisa terejawantah di alam realita begitu saja tanpa usaha. Bahkan dalam pemaknaan spirit keagamaan ini, tak jarang penganut suatu agama menafsirkan ajaran keagamaan sebagai sesuatu yang eksklusif, sesuatu yang dianggap terpisah dengan dunia empiri (alam nyata). Meskipun jelas-jelas dititahkan: Moksartham jagadhita ya cahiti dharma, bahwa ada dorongan, perintah atau maklumat kepada penganut Sanathana Dharma untuk hidup berbahagia di dunia dengan jalan dharma (agama). Singkatnya, amanat itu merekomendasikan cara hidup yang gampang dan ringan, aman serta membahagiakan dengan mempraktikkan dharma (agama).

Di alam empiri (nyata) kemudian sering terjadi negasi dari slogan tersebut. Beragama malahan sering mengundang rasa tertekan, berat, dipenuhi kewajiban dan beban. Hal ini semata-mata disebabkan oleh persepsi penganut agama itu yang menganggap agama sebagai tumpukan kewajiban. Pada posisi yang benar, agama semestinya menjadi alat praktis yang membantu hidup manusia. Ada pun agama kemudian menjadi beban, dipenuhi tuntutan ritual, adalah semata-mata karena agama hanya dianggap suatu seremonial belaka atau kumpulan ajaran yang bersifat dogmatis, bukan suatu sistem cara hidup yang metodologis.

Dogma-dogma dalam kitab suci sering tidak memuaskan mental manusia, terutama untuk kebutuhan praktis. Ia seperti diktum yang mengawang tanpa memberi kontribusi yang nyata kepada penganutnya. Barangkali ini juga penyebabnya, sehingga kemudian muncul fenomena di masyarakat Hindu banyak mengambil jalan alternatif: magi. Misalnya, ketika suatu keluarga kena musibah, maka bagi sebagian besar orang-orang Bali (Hindu) akan pergi ke rumah seorang dukun (dasaran) yang dianggap memiliki kemampuan menujum atau memiliki ilmu kesupranaturalan. Kepadanyalah orang bertanya, mengapa musibah beruntun menimpa keluarganya. Atau pada kasus orang yang akan menggelar upacara Pitra Yadnya, ngaben, maka terlebih dahulu pihak keluarga pergi ke rumah jro dasaran untuk nunas bawos, ’berdialog’ dengan roh si mati, untuk menanyakan keinginannya, apakah mau di-aben atau dikubur saja, apakah dibuatkan bale-balean, bade tumpang lima, pitu, terus berapa dibuatkan banten suci, apakah nyegara gunung, apakah tangkil ke Besakih, dan seterusnya. Dalam kasus ini, kuasa kitab suci (baik itu Weda atau lontar petunjuk ritual) dilikuidasi di tangan jro dasaran. Mengapa banyak umat lebih mempercayai mereka yang memiliki kemampuan magi (dukun, dasaran dan lainnya) tinimbang sastra?

Jawabannya tentulah banyak, tetapi salah satunya adalah adanya pembuktian secara nyata, wejangan dasaran lebih tepat daripada pedoman sastra, setidaknya bagi mereka yang percaya. Ada kasus-kasus di mana orang di-aben sesuai tradisi tanpa sebelumnya dimintakan bawos (petunjuk) dari jro dasaran. Berselang beberapa waktu berlalu, keluarga tersebut kemudian kena musibah secara beruntun. Lantas, sesuai kebudayaan orang Bali, cara alternatif dengan nunas bawos pun ditempuh. Nah, di sanalah kemudian kentara, kalau ada satu rangkaian ritual kurang, sehingga roh si mati itu belum bersih, masih menyi. Singkat cerita, ketika dilakukan upacara ulang, maka musibah pun berhenti. Ada banyak pengakuan mengenai hal ini di masyarakat, mulai dari salahang kawitan, kapongor, dan seterusnya. Dan selalu, pemecahannya adalah melalui proses magi lewat jasa jro dasaran atau balian.

Pertanyaan mengapa dan mengapa terus memburu. Akhirnya sampailah kita kepada paparan Drs. IB. Pujaastawa, M. Hum, antropolog Universitas Udayana yang kini tengah menempuh studi S3 Kajian Budaya di kampus yang sama. ”Agama sebenarnya adalah pola adaptasi masyarakat tertentu terhadap lingkungannya,” jelasnya. Ia kemudian menjelaskan lebih lanjut, misalnya agama Hindu adalah pola adaptasi masyarakat terhadap ekologi lembah Sungai Shindu, agama Islam adalah pola adaptasi masyarakat terhadap ekologi gurun pasir, Kristen adalah adaptasi terhadap sistem hidup menggembala ternak dan seterusnya.

Ambillah contoh konsep ahimsa dalam Hindu. Pujaastawa menyitir ulasan Marpin Harris mengenai proses munculnya konsep ini. Marpin Harris adalah penganut teori materialisme kebudayaan. Ia menjelaskan keadaan India berdasarkan ekologi. India adalah continental yang berhadapan dengan samudra Hindia yang luas. Kondisi geografi seperti ini menjadikan India rentan bencana, di antaranya banjir, kemarau panjang, angin kencang. Semua itu menimbulkan akibat: kelangkaan pangan. Ditambah dengan populasi India yang demikian banyak, maka dibutuhkan metode untuk menghadapi musim paceklik yang sering terjadi. Setelah diinventarisasi, ternyata dari seluruh potensi India, maka hanya sapi yang masih bisa menjadi sumber pangan bagi penduduk melalui susunya. Pada masa itu India memasuki masa Brahmana sebagai elit masyarakat, sehingga mereka kemudian merumuskan pengetahuan ini dalam bingkai agama dan lahirlah konsep ahimsa. Sapi disucikan dan disamakan dengan Weda, Ibu dan Bumi. Dengan menjadikan sapi sebagai hewan suci, maka populasi sapi di India bisa bertambah, karena hewan ini tidak disembelih lagi, tapi hanya dinikmati susunya. Padahal sebelum masa ini, daging sapi adalah persembahan terhormat untuk Brahmana.

Ini hanyalah satu bukti, bahwa konsep-konsep agama pun muncul berdasarkan pengaruh materialisme. Ada empat faktor penggerak materialisme kebudayaan itu, yaitu, ekonomi, demografi, teknologi dan ekologi. Keempat hal tersebut mempengaruhi tiga elemen kebudayaan, yaitu, suprastruktur (sistem nilai), struktur (manusia sebagai pemegang hak dan kewajiban/peran). Dan infrastruktur (materi).

Dengan mengambil teori B. Malinowsky, IB. Pujaastawa mengatakan, bahwa praktik relegi termasuk magi di dalamnya tergantung pada risk and unsertanty (risiko dan ketidakpastian). Semakin tinggi risiko dan ketidakpastian yang dihadapi, maka penggunaan relegi dan magi kian intensif. Misalnya, sembahyang menjadi lebih intensif bila tengah menghadapi ujian atau hendak pergi jauh, padahal dalam kondisi normal, sembahyang tidak dilakukan seintensif itu. Berbeda dengan masyarakat Barat yang rasional semakin jarang menggunakan relegi, karena mereka lari ke alam empiri dengan melakukan banyak penelitian dan kajian. Kemudian lahirlah teori progresif dan ekspresif dari Sutan Takdir Ali Syahbana (STA). Menurut STA, masyaraka Barat lebih progres dengan mengandalkan kinerja rasio (akal) yang terukur, sementara masyarakat Timur cenderung bersifat ekspresif, mengekspresikan jiwa, bersifat abstrak dan tak terukur. Artinya orang Timur mengalami lebih banyak ketidakpastian ketimbang masyarakat Barat. Akhirnya orang-orang Timur yang rata-rata rajin sembahyang dan banyak melakukan kegiatan relegi pun sukses dikuasai bangsa Barat berabad-abad, bahkan hingga kini.

Dengan demikian, kembali pada pembicaraan awal tentang dogmatisme kitab suci dan ketakutan terhadap magi, bahwa dua-duanya bekerja pada level sistem penggunaan relegi. Tingginya kepercayaan terhadap magi adalah pertanda masyarakat yang menghadapi risiko dalam ketidakpastian. Dan respon yang sepi terhadap dogma kitab suci, perasaan yang belum nyaman secara mental adalah bentuk lain dari situasi menghadapi ketidakpastian itu. Karenanya Albert Enstein menegaskan, agama tanpa ilmu lumpuh dan ilmu tanpa agama akan menjadi buta.

Menjadi penting kemudian untuk mencari esensi praktis di balik konsep-konsep agama dan tumpukan ritual yang dilakoni. Sebab, dari berbagai penelitian, banyak konsep agama dan ritual merupakan rasionalitas yang terselubung. Agama semestinya tidak menghasilkan penganut-penganut yang menderita ketakutan akibat teror neraka, dosa, kapongor, salahang kawitan, pitara memigra dan seterusnya. Konsep-konsep itu hendaknya ditelusuri makna rasionalnya untuk memperbaiki kualitas moral dan menjadikan hidup benar-benar jagadhita ya cahiti dharma.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Karl Marx, bahwa agama memungkinkan manusia untuk cenderung melempar tanggung jawab kepada pihak ketiga atas kekecewaan yang dialami manusia. Nah, Marx adalah guru yang baik bagi penganut agama, supaya tidak mendakwa leluhur, Bhetara atau Dewa-Dewa sebagai sumber kutuk, penghukum dan sejenisnya. Oleh karenanya, manusia harus mengambil secara penuh tanggung jawabnya, bahwa kegagalan ataupun derita dalam hidupnya semata-mata disebabkan kurangnya pengetahuan yang dimiliki, kurangnya dalam berusaha, lemahnya Karma Yoga, rendahnya mutu Jnana Yoga, bukan karena kapongor, salahang kawitan dan semodel dengan itu.

N. Putrawan

Buku Baru
meradang.jpg (30185 bytes)
Harga Rp 30.000,-

covbali.jpg (20420 bytes)
Harga Rp 30.000,-
(Cetak Ulang)

sriyoga.jpg (31656 bytes)
Harga Rp 27.000,-

sapi.jpg (34216 bytes)
Harga Rp 12.000,-
[ Print artikel  

Copyright 2007,  All Rights Reserved.